Burung Pelanduk Kalimantan Yang Hilang 170 Tahun Kembali Di temukan
Jakarta, Journalarta.com – Burung Pelanduk kalimantan (Malacocincla perspicillata) yang di anggap para ahli masih misterius keberadaannya berhasil di temukan kembali oleh Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan. Kedua warga Kalimantan Selatan ini menemukan burung pelanduk kalimantan secara tidak sengaja pada Oktober tahun lalu.
Mereka kemudian berdiskusi dengan BW Galeatus dan kelompok konservasi burung Indonesia birdpacker dan burungnesia yang kemudian temuan ini di terbitkan dalam Jurnal BirdingASIA Volume 34 tahun 2020.
Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Sebangau, Teguh Willy Nugroho sebagai salah satu penulis dalam jurnal menyampaikan bahwa terdapat perbedaan mencolok pada anatomi burung yang di temukan dengan literasi saat ini.
Perbedaan tersebut di antaranya pada warna iris mata, paruh dan warna kaki. Itulah yang membuat identifikasi mengalami kesulitan saat pertama kali melihat morfologi burung ini.
Teguh menegaskan, temuan burung ini juga membuktikan bahwa keanekaragaman hayati Indonesia masih ada pada bagian-bagian terdalam hutan. Menurutnya, jejaring antara masyarakat lokal, peneliti pemula, peneliti profesional, serta berbagai pihak untuk dapat mengumpulkan informasi tentang keanekaragaman hayati dapat berdampak besar bagi kelestarian satwa di Indonesia.
Baca juga: KPK RI Tetapkan Pemprov. Babel dan Gorontalo Sebagai Instansi Pengelolaan LHKPN Terbaik 2020
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno pada saat Media Briefing melalui telekonferensi, Selasa (2/3/2021) menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para citizen science yaitu masyarakat yang bukan peneliti namun sukarela mengumpulkan dan menganalisa data ilmiah.
Wiratno menyebutkan bahwa satwa liar akan sejahtera sepenuh nya apabila hidup di alam habitatnya, hal ini juga menegaskan bahwa pihaknya sangat memerangi perburuan ilegal satwa liar yang di lindungi.
Rizky Fauzan sang penemu menyampaikan dalam rilis Oriental Bird Club bahwa rasanya tidak nyata mengetahui bahwa mereka telah menemukan spesies burung yang oleh para ahli di anggap sudah punah. Akhirnya Misteri 17 dekade pun terpecahkan. (Kementerian LHK)
Baca juga: Kementerian LHK Dukung Babel Menjadi Lumbung Pangan Nasional