Beranda OPINI Bangka Belitung dan Thorium: Masa Depan Yang Tidak Boleh Kita Takuti

Bangka Belitung dan Thorium: Masa Depan Yang Tidak Boleh Kita Takuti

3
Bangka Belitung dan Thorium: Masa Depan Yang Tidak Boleh Kita Takuti
Oleh: Muhamad Zen
(Pemerhati Kebijakan Publik)

 

“Jika kita takut mengambil langkah hari ini, maka generasi mendatang akan mewarisi keterbelakangan, bukan kemajuan.”

 

INDONESIA sebenarnya sedang memegang salah satu kartu truf energi terbesar untuk masa depan: thorium. Unsur yang bertahun-tahun dianggap sampingan dari penambangan timah ini ternyata memiliki cadangan lebih dari 121 ribu ton di Bangka Belitung, salah satu yang terbesar di Asia.

Potensi sebesar ini seharusnya menjadi perhatian utama negara, terutama ketika kebutuhan energi naik dan dunia bergerak menuju sumber energi bersih. Sayangnya, seperti biasa, kita punya kebiasaan lama: potensinya besar, tapi keberaniannya kecil.

Teknologi Molten Salt Reactor (MSR) yang dibutuhkan untuk memanfaatkan thorium bukan teknologi khayalan. Negara lain sudah mengembangkannya. BRIN, ITB, UGM juga sudah meneliti. Tapi langkah pemerintah masih merangkak karena keraguan politik dan kekhawatiran publik yang sering kali tidak berbasis data.

Yang lebih rumit, bukan hanya pemerintah yang ragu. Sebagian masyarakat juga masih sibuk menolak sebelum memahami. Ketidaktahuan, bayang-bayang ketakutan, serta maraknya narasi negatif, entah disebarkan sengaja oleh pihak tertentu atau karena sosialisasi yang memang belum menyentuh masyarakat, membuat isu ini semakin kabur.

Kadang lucu juga melihat kondisi ini. Kita sering menolak teknologi baru dengan modal satu video TikTok, tapi yakin sepenuhnya pada hoaks berantai yang tidak jelas sumbernya. Kita takut pada energi nuklir, tapi tidak takut pada kabel listrik yang menyambung lewat pohon mangga tetangga dan colokan listrik yang sudah tiga kali meleleh du dapur rumah.Satir kecil ini menunjukkan satu hal: sering kali bukan teknologinya yang berbahaya, tetapi ketakutan kita sendiri.

Namun ada satu hal yang harus kita sadari bersama:

Saya tidak ingin menjadi bagian dari generasi yang kelak disalahkan karena takut melangkah.

Saya tidak ingin anak cucu kita bertanya mengapa negeri ini tetap tertinggal hanya karena kita lebih memilih rasa takut daripada keberanian.

Jika kita, generasi sekarang, tidak mau menerima kemajuan teknologi, maka jangan salahkan bila generasi mendatang berkata:

“Mengapa ketakutan dan kebodohan kalian membuat kami tertinggal secara teknologi?”

Thorium adalah peluang besar untuk energi bersih, aman, dan berkelanjutan. Tapi itu hanya bisa terwujud jika:

Pemerintah berani mempercepat regulasi, riset diperkuat, masyarakat Bangka Belitung benar-benar dilibatkan, dan kepentingan jangka pendek tidak dibiarkan merusak masa depan.

Kita tidak bisa berharap perubahan datang hanya dari Jakarta. Masyarakat Bangka Belitung juga harus berani membuka diri, berani belajar, dan berani berjalan bersama. Tidak lucu jika potensi sebesar ini akhirnya dimanfaatkan negara lain, sementara kita masih sibuk memperdebatkan “katanya berbahaya”.

Bangsa yang memimpin dunia bukanlah bangsa yang paling nyaman, tetapi bangsa yang berani mengambil keputusan ketika yang lain masih sibuk berdebat.

Sejarah tidak pernah berpihak kepada mereka yang ragu.

Sekarang saatnya Indonesia dan khususnya Bangka Belitung berhenti menunda, berhenti takut, dan berani melangkah bersama. Karena thorium bukan sekadar sumber energi. Ia adalah ujian keberanian kita menentukan masa depan bagi generasi yang akan datang. Sebab peluang energi sebesar ini tidak akan datang dua kali, dan sejarah tidak pernah mencatat nama bangsa yang takut pada masa depannya sendiri. (Red)

3 KOMENTAR

Beri Komentar Anda