Beranda OPINI Apa yang Akan Kita Wariskan? Asap, atau Cahaya?

Apa yang Akan Kita Wariskan? Asap, atau Cahaya?

0
Apa yang Akan Kita Wariskan? Asap, atau Cahaya?

Penulis: Anastasya Dwi Mulia. Mahasiswa Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Bangka Belitung.

 

 

Pangkalpinang – Setiap generasi meninggalkan sesuatu untuk generasi berikutnya  bukan hanya gedung, jalan, atau catatan sejarah, tetapi juga udara yang mereka hirup dan energi yang mereka gunakan. Pertanyaannya sederhana tapi tajam: Apa yang akan kita wariskan? Asap, atau cahaya?

 

Dunia kini sedang berada di ambang perubahan besar. Kita sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim yang makin nyata. Suhu global naik, musim tak menentu, laut memanas, dan udara di kota-kota besar semakin sesak. Semua ini adalah akibat dari satu hal: ketergantungan panjang pada energi fosil.

 

Indonesia pun tidak lepas dari dilema ini. Kita membutuhkan energi besar untuk tumbuh  tapi kita juga tahu bahwa cara lama, dengan membakar batu bara dan minyak, tidak bisa bertahan selamanya. Maka muncullah pertanyaan yang lebih besar: Dari mana kita akan menyalakan masa depan tanpa membuat langit kembali kelabu?

 

Jawabannya, semakin jelas setiap tahun, adalah energi nuklir. Bukan sebagai ancaman, tapi sebagai warisan baru cahaya bersih yang bisa dinikmati anak cucu kita tanpa mengorbankan bumi yang mereka tinggali.

 

 

Beban Energi Fosil dan Harga yang Kita Bayar

 

Selama puluhan tahun, ekonomi dunia bergantung pada batu bara, minyak, dan gas alam. Energi ini memang murah dan mudah diakses, tetapi ada harga yang mahal: polusi udara, emisi karbon, dan kerusakan lingkungan yang sulit diperbaiki.

 

Indonesia, sebagai salah satu produsen batu bara terbesar dunia, menghadapi paradoks. Kita mengekspor energi kotor ke luar negeri, tetapi di saat yang sama, kualitas udara dan emisi dalam negeri terus memburuk. Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa sektor energi menyumbang lebih dari 40% total emisi karbon nasional.

 

Lebih parah lagi, ketergantungan pada fosil membuat kita rentan terhadap fluktuasi harga global. Ketika harga minyak naik, inflasi ikut meningkat; ketika cadangan batu bara menurun, listrik jadi lebih mahal. Kita bukan hanya membakar batu bara  kita membakar masa depan.

 

Cahaya dari Inti Atom: Energi Tanpa Asap

 

Berbeda dengan pembakaran fosil, energi nuklir tidak menghasilkan karbon dioksida.

Ia bekerja dengan prinsip fisika murni  memanfaatkan energi yang tersimpan di inti atom melalui proses fisi. Ketika atom uranium dibelah, sebagian kecil massanya berubah menjadi energi panas, yang kemudian diubah menjadi listrik.

 

Hasilnya luar biasa. Satu gram uranium dapat menghasilkan energi setara tiga ton batu bara. Reaktor nuklir tidak membutuhkan pembakaran, sehingga tidak menimbulkan asap, jelaga, atau gas rumah kaca. Dengan teknologi terkini seperti Small Modular Reactor (SMR), sistem keselamatannya sangat canggih mampu berhenti dan mendinginkan diri sendiri tanpa intervensi manusia.

 

Jika dibandingkan, PLTN menghasilkan listrik dengan emisi karbon paling rendah dari semua sumber energi besar. Satu reaktor 1.000 MW mampu menghindarkan 8 juta ton CO₂ setiap tahun — setara dengan menanam 100 juta pohon. Inilah sebabnya dunia kini melihat nuklir bukan sebagai bahaya, tetapi sebagai penyelamat iklim.

 

 

Bangka Belitung: Dari Tanah Timah ke Tanah Cahaya

 

Indonesia menargetkan PLTN pertama beroperasi pada 2032, dan Pulau Bangka Belitung muncul sebagai lokasi paling potensial. Dari hasil kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bangka memenuhi semua syarat teknis utama untuk tapak reaktor. Stabil secara geologi, jauh dari patahan aktif. Dekat laut, memungkinkan sistem pendinginan reaktor yang efisien. Kepadatan penduduk sedang, mendukung zona keselamatan. Dukungan sosial yang meningkat, karena masyarakat mulai memahami manfaat ekonomi dan lingkungan PLTN.

 

Pulau yang dulu dikenal karena tambang timahnya, kini bersiap memiliki peran baru sebagai penyedia energi bersih nasional. Bangka akan berubah dari pulau penambang logam menjadi pulau penambang cahaya.

 

PLTN di sana tidak hanya akan menghasilkan listrik, tapi juga pengetahuan, lapangan kerja, dan kebanggaan nasional. Mahasiswa lokal akan belajar langsung dari teknologi canggih, dan masyarakat akan menikmati ekonomi baru yang tumbuh dari energi bersih.

 

 

Rahasia Aman di Balik Reaktor

 

Ketika orang mendengar kata “reaktor”, sebagian langsung teringat pada Chernobyl atau Fukushima. Padahal, keduanya adalah kisah masa lalu yang tidak lagi relevan dengan teknologi saat ini.

 

Reaktor modern tidak bisa meledak seperti bom. Desainnya memiliki empat lapisan keamanan utama. Pertama, batang bahan bakar berlapis zirkonium, mencegah kebocoran radioaktif. Kedua, tabung reaktor baja tebal, menahan panas dan tekanan tinggi. Ketiga, sistem pendingin pasif, bekerja otomatis tanpa listrik eksternal. Keempat, bangunan containment beton baja, menahan radiasi bahkan pada skenario ekstrem.

 

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) memastikan semua proses sesuai standar keselamatan IAEA (International Atomic Energy Agency). Selain itu, limbah radioaktif yang dihasilkan sangat sedikit, dan disimpan dengan teknologi penyegelan berlapis, bukan dibuang sembarangan.

 

Data global menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat industri nuklir adalah yang paling rendah di dunia energi. Lebih rendah dibanding industri batu bara, gas, atau minyak — bahkan lebih aman daripada bendungan air besar. Dengan kata lain, risiko PLTN bukan di masa depan, tapi di masa lalu. Dan kita telah belajar darinya.

 

 

Energi Bersih untuk Pertumbuhan Nasional

 

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% per tahun dalam visi Indonesia Emas 2045. Pertumbuhan seperti ini membutuhkan energi besar, stabil, dan murah.

 

Energi fosil tidak lagi cukup. Energi surya dan angin sangat penting, tapi sifatnya intermiten — tergantung cuaca dan waktu. Sementara nuklir mampu bekerja 24 jam sehari, 365 hari setahun.

 

Dengan PLTN, Indonesia bisa memastikan ketersediaan listrik nasional yang stabil dan bebas emisi. Bahkan, energi panas dari reaktor dapat digunakan untuk proses industri berat seperti baja, semen, atau produksi hidrogen bersih (green hydrogen).

 

Di sisi lain, pembangunan PLTN juga akan mendorong ekonomi lokal. Selama konstruksi, ribuan tenaga kerja akan terserap. Setelah beroperasi, industri penunjang, pendidikan, dan riset akan berkembang di sekitar wilayahnya.

 

Bangka tidak hanya akan menyuplai listrik  ia akan menyala sebagai pusat ekonomi baru.

 

 

Warisan Ilmu untuk Anak Cucu

 

Warisan sejati bukan hanya sumber daya alam, tetapi kemampuan bangsa mengelola teknologi.

Nuklir membuka jalan menuju kemandirian sains dan teknologi tinggi — bidang yang selama ini masih didominasi negara maju.

 

Jika kita membangun PLTN sendiri, kita tidak sekadar membeli mesin, tapi membangun kemampuan bangsa. Dari riset bahan bakar, sistem keselamatan, hingga manajemen limbah, semuanya membutuhkan ilmuwan, insinyur, dan teknisi lokal.

 

Generasi muda akan memiliki kesempatan belajar langsung dari teknologi paling maju di dunia. Kampus dan laboratorium akan menjadi pusat inovasi energi nasional.

 

Dengan kata lain, PLTN bukan hanya proyek listrik  tapi proyek peradaban.

 

 

Mengubah Ketakutan Menjadi Kepercayaan

 

Agar proyek ini berhasil, ada satu hal yang tidak kalah penting dari teknologi: penerimaan masyarakat. Tanpa dukungan publik, sebaik apa pun sainsnya, program nuklir tidak akan berjalan.

 

Di sinilah peran pemerintah, akademisi, dan media. Pemerintah harus segera membentuk NEPIO (Nuclear Energy Program Implementing Organization)  lembaga lintas sektor yang mengoordinasikan kebijakan, regulasi, dan komunikasi publik.

 

Akademisi dan peneliti di daerah seperti Bangka harus menjadi jembatan pengetahuan antara masyarakat dan teknologi. Dan media perlu menyebarkan informasi berbasis fakta, bukan sensasi.

 

Masyarakat berhak tahu bahwa energi nuklir bukan ancaman, melainkan kesempatan.

Bukan bom, melainkan alat pembangunan. Bukan bahaya, melainkan warisan bersih untuk generasi mendatang.

 

Kita hidup di masa ketika pilihan besar tidak lagi bisa ditunda. Kita tahu batu bara mengotori udara, tapi kita masih membakarnya. Kita tahu bumi memanas, tapi kita masih ragu beralih.

Padahal, waktu terus berjalan  dan anak-anak kita sedang menunggu keputusan kita hari ini.

 

Apakah yang akan mereka warisi nanti adalah langit kelabu dan laut yang memanas,

atau energi bersih yang menyalakan rumah dan harapan mereka?

 

Energi nuklir bukan hanya tentang listrik, tapi tentang cara baru memandang masa depan.

Ia memberi kita pilihan untuk hidup selaras dengan alam, tanpa kehilangan daya.

Ia memberi kita kesempatan untuk menebus kesalahan masa lalu dan memulai era baru  era cahaya yang tak berasap.

 

Maka, mari kita jawab pertanyaan itu dengan tindakan, bukan sekadar wacana.

Mari wariskan cahaya, bukan asap. Karena dari cahaya itulah masa depan Indonesia akan menyala  bersih, berdaulat, dan abadi. (*)

Beri Komentar Anda