Jumat, 29 Mei 2026 WIB
BREAKING
📢 RUANG IKLAN
Brand Anda Layak Tampil Disini
Posisi strategis di portal berita Bangka Belitung. Audience tepat sasaran.
📞 Hubungi Marketing →
KESEHATAN

Pesantren Terapkan Pendekatan Humanis untuk Kesehatan Mental Santri

Pesantren Terapkan Pendekatan Humanis untuk Kesehatan Mental Santri
Kesadaran akan peran penting kesehatan mental di lingkungan pesantren terus berkembang. Foto: JournalArta

JAKARTA – Kesadaran akan peran penting kesehatan mental di lingkungan pesantren terus berkembang. Hasilnya, ada sejumlah praktik baik penanganan luka psikologis santri melalui pendekatan yang lebih humanis, kolaboratif, dan berbasis nilai-nilai keislaman.

Upaya ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan pesantren ramah anak sekaligus ruang belajar yang aman bagi tumbuh kembang santri. Praktik baik ini dibagi tiga pesantren saat “Diseminasi Pedoman Penyelenggaraan Pesantren Sehat” di Depok, 18-21 Mei 2026. Acara ini diselenggarakan Kemenkes bekerja sama dengan ADB dan Kementerian Agama melalui Direktorat Pesantren.

Pesantren Modern Al Amanah Junwangi, Sidoarjo, Jawa Timur, misalnya, memadukan terapi spiritual, edukasi kesehatan mental, serta pendampingan profesional. Terapi spiritual dilakukan melalui pembiasaan membaca Al-Qur’an, salat sunnah, dan dzikir secara rutin, termasuk praktik riyadhah bathiniyah bersama Jam’ah Syadziliyah.

📲 CHANNEL TELEGRAM
Follow @journalartanews di Telegram
Dapatkan notifikasi berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda.
💬 Join Channel →

“Pendekatan ini diyakini mampu membantu santri memperoleh ketenangan jiwa dan kestabilan emosi,” terang Direktur Pesantren Basnang Said di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Selain itu, Al Amanah juga aktif mengembangkan program Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) bekerja sama dengan akademisi dan instansi kesehatan, seperti Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan Kementerian Kesehatan. Program tersebut membekali pengasuh, guru, dan santri dengan kemampuan deteksi dini serta pertolongan emosional awal bagi individu yang mengalami tekanan psikologis.

“Penguatan literasi kesehatan mental juga dilakukan melalui seminar dan edukasi bertema kesehatan mental remaja, termasuk kegiatan ‘Smart Living: Healthy Mind and Body’ yang melibatkan psikolog maupun aparat kepolisian,” ujar Basnang.

“Untuk kasus yang membutuhkan penanganan lebih mendalam, pesantren turut bekerja sama dengan fasilitas kesehatan dan layanan psikologi profesional di wilayah Sidoarjo, termasuk RSUD Sidoarjo Barat,” sambungnya.

Praktik serupa juga dijalankan oleh Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru, Riau. Di bawah pengawasan Yayasan Nur Iman, pesantren modern berbasis boarding school ini menempatkan guru agama dan pengasuh sebagai lini pertama perlindungan kesehatan mental santri.

Pendekatan yang diterapkan berfokus pada bimbingan emosional berbasis nilai-nilai Islam, penguatan relasi yang suportif antara pengasuh dan santri, serta deteksi dini terhadap perubahan perilaku maupun tekanan psikologis yang dialami santri. “Melalui sistem pengawasan dan pendampingan yang intensif, pesantren berupaya menciptakan lingkungan asrama yang aman dan penuh empati bagi para peserta didik,” sebut Basnang.

Sementara itu, Perguruan Islam Ar Risalah Padang, Sumatera Barat, menghadirkan sistem penanganan luka psikologis yang komprehensif melalui pendekatan psikososial, spiritual, dan penguatan sistem asrama. Pesantren yang pernah meraih penghargaan Pesantren Ramah Anak Terbaik se-Sumatera Barat tersebut menyediakan layanan bimbingan konseling rutin melalui tim konselor dan pembina asrama (musyrif/musyrifah) yang telah mendapatkan pelatihan khusus.

Pendekatan spiritual atau tarbiyah ruhiyah dilakukan melalui pembiasaan salat berjamaah, zikir, muhasabah, dan pembinaan karakter untuk membantu pemulihan luka batin santri. Selain itu, program mentoring kelompok kecil rutin dilaksanakan sebagai sarana pemantauan adaptasi santri, pengelolaan stres, sekaligus membangun dukungan sosial antarteman.

“Ar Risalah juga menerapkan pola pengawasan humanis berbasis sistem boarding untuk mencegah perundungan dan menciptakan ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan sehat secara emosional,” tutur Basnang.

Berbagai praktik baik ini, kata Basnang, menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang pengasuhan yang memperhatikan kesehatan mental dan perlindungan anak secara menyeluruh.

Pendekatan spiritual yang dipadukan dengan pendampingan psikologis profesional menjadi model penting dalam membangun pesantren yang ramah anak, inklusif, dan berdaya pulih terhadap tantangan psikologis generasi muda.(Sumber : Kemenag.go.id)

 

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
💡 SPACE TERSEDIA
Ekspos Brand Anda ke Audience JournalArta
Spot iklan strategis, dilihat oleh ribuan pengunjung tiap hari.
📧 Hubungi Kami →

📝 Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditinjau sebelum tampil.