Minggu, 31 Mei 2026 WIB
BREAKING
📲 CHANNEL TELEGRAM
Follow @journalartanews di Telegram
Dapatkan notifikasi berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda.
💬 Join Channel →
BERITA

Dewi Perssik Kuliah Psikologi di Usia 40 Tahun

Ilustrasi suasana ruang kuliah psikologi dengan buku dan pencahayaan natural
Ilustrasi suasana ruang kuliah psikologi dengan buku dan pencahayaan natural

Pedangdut Dewi Perssik mengambil keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Di usia 40 tahun, ia memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah dengan memilih jurusan psikologi. Keputusan ini bukan sekadar ambisi akademis biasa, melainkan bagian dari perjalanan pribadi yang mendalam.

Dewi Perssik menyatakan bahwa pilihan kuliah psikologi didorong oleh dua motivasi utama: keinginan untuk menyembuhkan luka masa lalu dan mempersiapkan diri menjadi ibu yang lebih baik. Langkah ini mencerminkan kesadaran yang semakin tinggi terhadap pentingnya kesehatan mental, bahkan di kalangan publik figur Indonesia.

Latar Belakang Keputusan Kuliah

Keputusan Dewi Perssik untuk kuliah di usia yang tidak lagi muda menunjukkan bahwa pendidikan tidak mengenal batasan usia. Di Indonesia, tren lifelong learning atau pendidikan sepanjang hayat mulai mendapat perhatian, terutama seiring meningkatnya kesadaran akan pengembangan diri dan kesehatan mental.

💡 SPACE TERSEDIA
Ekspos Brand Anda ke Audience JournalArta
Spot iklan strategis, dilihat oleh ribuan pengunjung tiap hari.
📧 Hubungi Kami →

Pilihan jurusan psikologi sendiri semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan peningkatan peminat program studi psikologi di berbagai perguruan tinggi. Hal ini sejalan dengan meningkatnya awareness masyarakat terhadap isu kesehatan mental, terutama pasca-pandemi.

Bagi selebriti seperti Dewi Perssik, tekanan publik dan dinamika kehidupan di industri hiburan sering kali menciptakan tantangan psikologis tersendiri. Memahami psikologi dapat menjadi alat untuk self-healing sekaligus membangun resiliensi mental.

Motivasi Pribadi: Menyembuhkan Luka Masa Lalu

Dewi Perssik secara terbuka menyebutkan bahwa salah satu alasan utamanya kuliah psikologi adalah untuk menyembuhkan luka masa lalu. Meski ia tidak merinci secara spesifik trauma atau pengalaman apa yang dimaksud, pernyataan ini menunjukkan keberanian untuk menghadapi dan memproses pengalaman hidup yang menyakitkan.

Dalam konteks psikologi, pendekatan self-directed healing atau penyembuhan mandiri melalui pemahaman teori dan praktik psikologi memang menjadi salah satu metode yang dipilih banyak orang. Dengan mempelajari psikologi, seseorang dapat lebih memahami pola pikir, emosi, dan perilaku diri sendiri.

Langkah ini juga mencerminkan pergeseran cara pandang masyarakat terhadap terapi dan konseling. Jika dulu topik kesehatan mental masih dianggap tabu, kini semakin banyak publik figur yang terbuka membicarakan perjalanan healing mereka, menciptakan dampak positif bagi masyarakat luas.

Persiapan Menjadi Ibu yang Lebih Baik

Motivasi kedua Dewi Perssik adalah keinginan untuk menjadi ibu yang lebih baik. Meski belum memiliki anak kandung, pernyataan ini menunjukkan keseriusan dalam mempersiapkan diri untuk peran parenting di masa depan.

Memahami psikologi anak dan perkembangan manusia merupakan bagian integral dari pendidikan psikologi. Pengetahuan ini dapat membantu calon orang tua memahami kebutuhan emosional anak, pola komunikasi yang sehat, serta cara membangun attachment yang aman.

Di era modern, konsep conscious parenting atau pengasuhan yang sadar dan berbasis pemahaman psikologis semakin mendapat perhatian. Orang tua yang memahami psikologi dianggap lebih siap menghadapi tantangan pengasuhan dengan pendekatan yang lebih empatik dan konstruktif.

Dampak Positif bagi Publik

Keputusan Dewi Perssik kuliah psikologi di usia 40 tahun membawa pesan inspiratif bagi masyarakat luas. Pertama, bahwa pendidikan tidak mengenal batasan usia. Kedua, bahwa kesehatan mental adalah prioritas yang layak diperjuangkan.

Sebagai publik figur dengan basis penggemar yang besar, keterbukaan Dewi Perssik tentang motivasi personalnya dapat menginspirasi banyak orang untuk berani mengambil langkah serupa. Baik dalam konteks melanjutkan pendidikan maupun mengatasi trauma masa lalu.

Langkah ini juga dapat berkontribusi pada destigmatisasi isu kesehatan mental di Indonesia. Ketika figur publik terbuka membicarakan proses healing dan self-improvement, masyarakat umum cenderung lebih terbuka untuk mencari bantuan profesional atau mengambil langkah proaktif untuk kesehatan mental mereka.

Di tengah meningkatnya kasus gangguan mental di Indonesia, terutama depresi dan kecemasan, inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa merawat kesehatan mental adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan. Dewi Perssik membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai perjalanan penyembuhan dan pengembangan diri.

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
✨ AVAILABLE NOW
Promo Brand Anda di Sini
Tarif terjangkau, jangkauan maksimal. Tarif khusus untuk advertiser pertama.
💬 Konsultasi Gratis →

📝 Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditinjau sebelum tampil.