Kamis, 16 Juli 2026 WIB
BREAKING
HIBURAN

Dewi Perssik Kuliah Psikologi di Usia 40 Tahun

Ilustrasi suasana ruang kuliah psikologi dengan buku dan pencahayaan natural
Ilustrasi suasana ruang kuliah psikologi dengan buku dan pencahayaan natural. (Ilustrasi: AI)

Pedangdut Dewi Perssik mengambil keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Di usia 40 tahun, ia memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah dengan memilih jurusan psikologi. Keputusan ini bukan sekadar ambisi akademis biasa, melainkan bagian dari perjalanan pribadi yang mendalam.

Dewi Perssik menyatakan bahwa pilihan kuliah psikologi didorong oleh dua motivasi utama: keinginan untuk menyembuhkan luka masa lalu dan mempersiapkan diri menjadi ibu yang lebih baik. Langkah ini mencerminkan kesadaran yang semakin tinggi terhadap pentingnya kesehatan mental, bahkan di kalangan publik figur Indonesia.

Latar Belakang Keputusan Kuliah

Keputusan Dewi Perssik untuk kuliah di usia yang tidak lagi muda menunjukkan bahwa pendidikan tidak mengenal batasan usia. Di Indonesia, tren lifelong learning atau pendidikan sepanjang hayat mulai mendapat perhatian, terutama seiring meningkatnya kesadaran akan pengembangan diri dan kesehatan mental.

Pilihan jurusan psikologi sendiri semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan peningkatan peminat program studi psikologi di berbagai perguruan tinggi. Hal ini sejalan dengan meningkatnya awareness masyarakat terhadap isu kesehatan mental, terutama pasca-pandemi.

Bagi selebriti seperti Dewi Perssik, tekanan publik dan dinamika kehidupan di industri hiburan sering kali menciptakan tantangan psikologis tersendiri. Memahami psikologi dapat menjadi alat untuk self-healing sekaligus membangun resiliensi mental.

Motivasi Pribadi: Menyembuhkan Luka Masa Lalu

Dewi Perssik secara terbuka menyebutkan bahwa salah satu alasan utamanya kuliah psikologi adalah untuk menyembuhkan luka masa lalu. Meski ia tidak merinci secara spesifik trauma atau pengalaman apa yang dimaksud, pernyataan ini menunjukkan keberanian untuk menghadapi dan memproses pengalaman hidup yang menyakitkan.

Dalam konteks psikologi, pendekatan self-directed healing atau penyembuhan mandiri melalui pemahaman teori dan praktik psikologi memang menjadi salah satu metode yang dipilih banyak orang. Dengan mempelajari psikologi, seseorang dapat lebih memahami pola pikir, emosi, dan perilaku diri sendiri.

Langkah ini juga mencerminkan pergeseran cara pandang masyarakat terhadap terapi dan konseling. Jika dulu topik kesehatan mental masih dianggap tabu, kini semakin banyak publik figur yang terbuka membicarakan perjalanan healing mereka, menciptakan dampak positif bagi masyarakat luas.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda