Rabu, 5 Agustus 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Idrus Marham Kritik Tiyo Ardianto: Jangan Cuma Modal Makian

Idrus Marham Kritik Tiyo Ardianto
Idrus Marham Kritik Tiyo Ardianto

Para pengamat politik melihat kontroversi ini sebagai pembelajaran penting bagi gerakan mahasiswa. Kritik yang efektif memerlukan tidak hanya keberanian, tetapi juga keterampilan komunikasi, pemahaman konteks, dan kemampuan membangun aliansi. Makian dan retorika yang terlalu keras justru dapat mengalienasi calon sekutu dan memberikan amunisi kepada pihak yang dikritik untuk mendiskreditkan substansi pesan.

Dalam konteks internasional, gerakan mahasiswa di berbagai negara juga menghadapi dilema serupa. Aktivis muda di Hong Kong, Thailand, dan Myanmar menunjukkan bahwa efektivitas gerakan tidak hanya ditentukan oleh radikalisme retorika, tetapi oleh kemampuan membangun narasi yang resonan dengan masyarakat luas dan strategi komunikasi yang cerdas.

Beberapa akademisi mengingatkan bahwa tradisi kritik dalam Islam dan budaya Jawa—dua referensi kultural yang kuat di Indonesia—menekankan pentingnya adab (etika) dalam menyampaikan kebenaran. Kritik yang disampaikan dengan cara yang santun justru lebih berpotensi diterima dan menghasilkan perubahan dibandingkan konfrontasi yang melukai.

Implikasi dan Penutup

Kontroversi seputar Tiyo Ardianto dan kritik dari berbagai pihak, termasuk Idrus Marham dan Hotman Paris, memberikan pelajaran berharga tentang dinamika komunikasi politik di Indonesia kontemporer. Pertama, bahwa ruang publik Indonesia masih menghargai kesantunan dan etika dalam berpendapat, meskipun kebebasan berekspresi dijamin konstitusi.

Kedua, efektivitas kritik tidak ditentukan oleh seberapa keras atau provokatif penyampaiannya, tetapi oleh kualitas argumen dan data yang mendukungnya. Generasi muda aktivis perlu mengembangkan kemampuan riset dan analisis agar kritik mereka tidak mudah dibantah atau didiskreditkan.

Ketiga, penolakan dari Aliansi Pemuda Jawa Timur menunjukkan bahwa konsensus nasional tentang gaya politik yang diterima masih dalam proses pembentukan. Ada perbedaan pandangan antara aktivis di pusat dan daerah, antara generasi tua dan muda, tentang bagaimana seharusnya kritik politik disampaikan.

Bagi Tiyo Ardianto sendiri, kontroversi ini bisa menjadi momen refleksi. Banyak aktivis mahasiswa yang kemudian menjadi tokoh politik atau intelektual publik yang dihormati justru adalah mereka yang mampu mengembangkan gaya komunikasi yang matang—tegas dalam prinsip namun bijaksana dalam cara.

Ke depan, gerakan mahasiswa Indonesia akan terus menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan idealisme dengan pragmatisme, militansi dengan diplomasi. Kritik terhadap Tiyo dari berbagai pihak sebaiknya tidak dipandang sebagai upaya membungkam suara kritis, tetapi sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan perubahan sosial.

Dalam jangka panjang, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya berani mengkritik, tetapi juga cerdas dalam strategi, santun dalam penyampaian, dan konsisten dalam integritas. Hanya dengan kombinasi tersebut, kritik dari kampus dapat menjadi kekuatan konstruktif yang mengawal demokrasi, bukan sekadar kebisingan yang menambah polarisasi tanpa solusi.

Halaman:1234Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda