JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Film aksi The Furious garapan sutradara Kenji Tanigaki datang dengan satu janji sederhana yaitu pertarungan fisik yang nyata, brutal, dan tak kenal ampun. Dan film ini menepati janjinya.
Sejak menit pertama, The Furious langsung melempar penonton ke tengah kekacauan. Tidak ada basa-basi panjang, tidak ada montase nostalgia yang bertele-tele. Kenji Tanigaki tahu persis mengapa orang membeli tiket film laga dan ia tidak membuang waktu.
Seorang Ayah, Anak yang Diculik, Satu Misi
Ceritanya memang tidak rumit. Wang Wei (Xie Miao), imigran Tiongkok yang bekerja sebagai tukang servis di sebuah kota Asia Tenggara, hidup tenang bersama putri semata wayangnya, Rainy (Yang Enzou). Ketenangan itu hancur ketika Rainy diculik jaringan perdagangan anak yang dipimpin pengusaha kaya bernama Paklung (Joey Iwanaga).
Dalam pencariannya, Wang bertemu Navin seorang wartawan yang dimainkan Joe Taslim, yang juga memburu sindikat yang sama karena tunangannya ikut jadi korban. Motif berbeda, musuh sama. Keduanya akhirnya bergabung.
Premisnya mirip Taken. Tak perlu malu mengakui itu. Tapi justru di situlah kekuatan film ini yaitu ia tidak berpura-pura lebih rumit dari yang seharusnya. Alur bisa ditebak, antagonis mudah dikenali sejak awal, dan masa lalu Wang hanya disinggung lewat bekas luka di tubuhnya. Tapi bagi penonton film aksi, semua itu bukan kelemahan justru itu fondasi yang cukup kokoh untuk menopang rangkaian adegan laga kelas dunia.
Koreografi yang Terasa Menyakitkan
Inilah inti The Furious. Koreografi pertarungannya kasar, cepat, dan satu kata yang paling tepat yaitu jujur. Tidak ada kawat baja tersembunyi, tidak ada slow-motion berlebihan demi terlihat keren. Setiap pukulan terasa berat. Beberapa adegan begitu brutal hingga penonton refleks mengernyit.
Sinematografi Meteor Cheung bergerak lincah mengikuti setiap gerakan tanpa kehilangan kejelasan. Chris Tonick di kursi penyunting juga tahu kapan harus memotong dan kapan membiarkan adegan mengalir sesuai hasilnya, setiap benturan terasa penuh dampak, bukan sekadar kilatan visual yang membingungkan.
Gaya film ini secara visual dan atmosfer mengingatkan pada The Raid (2011) dan wajar, mengingat dua aktor kunci film tersebut, Joe Taslim dan Yayan Ruhian, kembali hadir di sini. Yayan memerankan pengawal setia Paklung yang ahli panah dan kemampuan bertarungnya setara tokoh utama. Singkat tapi berkesan.
JeeJa Yanin, meski porsi tampilnya terbatas, tetap meninggalkan kesan tajam di layar. Brian Le dan Joey Iwanaga juga tampil solid. Aktris cilik Yang Enzou sebagai Rainy punya keberanian yang terasa autentik, bukan sekadar gadis kecil yang menangis menunggu diselamatkan.
Xie Miao: Bintang yang Layak Dikenal Dunia
Tapi yang benar-benar mencuri perhatian adalah Xie Miao. Kecepatannya luar biasa. Setiap gerakan tepat dan efisien, tanpa ornamen berlebihan. Di layar, ia punya karisma alami yang membuat penonton tidak bisa berpaling bahkan di sela momen sunyi antara ia dan putrinya.
Puncak film jatuh pada pertarungan tiga arah melibatkan lima orang di dalam kantor polisi menjelang akhir cerita. Adegan ini layak masuk daftar sekuens laga terbaik dalam satu dekade terakhir: gerakan, penyuntingan, pengambilan gambar, dan musik menyatu tanpa celah. Tegang sampai penonton menahan napas.
The Furious hadir dalam dua versi yaitu versi Tiongkok yang memberi ruang lebih besar bagi karakter Wang dan menyisipkan petunjuk sekuel, serta versi internasional yang lebih ramping dan fokus pada alur utama. Keduanya akan beredar, termasuk di Indonesia.
Film ini bukan tentang kedalaman karakter atau plot twist yang mengguncang. Ia adalah pernyataan tegas bahwa film laga fisik bergaya Asia tanpa CGI berlebihan, dengan aktor yang benar-benar bergerak sendiri serta masih sangat relevan dan sangat menghibur. Bagi penggemar genre ini, The Furious adalah tontonan yang tidak akan mengecewakan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.