Senin, 22 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Da Nang Dorong Startup Teknologi Lewat Perpustakaan dan Robot

startup teknologi
Foto: Mohammadzadecs / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

DA NANG — Startup teknologi di Da Nang bergerak dari ide ke produk yang dipakai sehari-hari. Dari platform perpustakaan digital Skoolib sampai robot pengiriman otonom, dua contoh ini memperlihatkan arah baru ekosistem startup kota pesisir Vietnam itu.

Yang menarik, keduanya lahir dari masalah yang sangat konkret. Satu menyasar perpustakaan yang masih mencatat peminjaman di Excel atau kertas. Satunya lagi menjawab ongkos kirim yang mahal untuk pesanan kecil.

Startup teknologi yang lahir dari masalah nyata

Bookshare Co., Ltd., perusahaan yang didirikan Ngo Tan Tien, memulai langkahnya dari kebutuhan sederhana: membantu perpustakaan menyimpan, mengelola, dan berbagi pengetahuan tanpa proses manual yang merepotkan. Di banyak perpustakaan kecil, sekolah, dan koleksi buku komunitas, pekerjaan administratif masih dilakukan dengan cara lama. Data tercecer. Pencarian buku lambat. Statistik peminjaman sulit dibaca.

Situasi itu mendorong Bookshare membangun Skoolib, platform manajemen perpustakaan cerdas yang berjalan di web dan ponsel. Sebelum lahirnya Skoolib, perusahaan lebih dulu merilis Handy Library, aplikasi seluler untuk mengelola perpustakaan pribadi. Aplikasi ini mencatat lebih dari 1 juta unduhan, mendukung 25 bahasa, dan tersedia di lebih dari 100 negara. Basis pengguna itu memberi tim pendiri gambaran yang lebih jelas soal kebutuhan pasar.

Skoolib kini dipakai di berbagai jenis perpustakaan, dari koleksi pribadi sampai perpustakaan sekolah dan komunitas. Fitur yang disediakan cukup lengkap: manajemen dokumen, pemindaian ISBN, peminjaman dan pengembalian, kontrol akses, statistik, sampai pencarian daring. Bagi pengguna, manfaat paling terasa ada pada satu hal yang sering dianggap sepele: mereka bisa mencari materi lebih dulu sebelum datang ke perpustakaan.

“Kami ingin membuat pengelolaan perpustakaan lebih sederhana dan relevan untuk kebutuhan nyata di lapangan,” kata pihak Bookshare dalam bahan yang dibagikan kepada komunitas startup setempat. Bagi sekolah, dampaknya lebih luas. Siswa lebih mudah menjangkau bahan baca. Pihak sekolah pun punya data untuk melihat seberapa aktif perpustakaan dipakai.

Robot pengiriman otonom dan tantangan jalan Vietnam

Di jalur lain, Alpha Asimov Robotics mengejar target yang jauh lebih rumit: robot pengiriman otonom. CEO Nguyen Tuan Anh memilih proyek ini karena melihat biaya pengiriman kecil sering tidak efisien. Jika ada sistem otomatis yang stabil dan murah, pengguna dan pelaku usaha sama-sama diuntungkan.

Masalahnya, robot itu tak dirancang untuk bekerja di ruang steril. Alpha Asimov ingin robot berjalan di jalanan Vietnam, mirip sepeda motor, dan itu membuat tantangan rekayasanya lebih berat. Robot harus mengenali pejalan kaki, kendaraan, dan rintangan. Ia juga harus tahu kapan melaju, melambat, atau berhenti. Salah hitung sedikit, risiko keselamatannya besar.

Di titik ini, AI memegang peran utama. Robot perlu membaca lingkungan, memetakan jalur, lalu mengambil keputusan gerak secara aman. Menurut bahan yang dibagikan, robot sudah diuji di beberapa kawasan perkotaan, lingkungan universitas, dan area terkontrol. Pengujian seperti ini penting karena kondisi nyata jauh berbeda dari simulasi laboratorium.

Alpha Asimov memulai dari skenario yang lebih masuk akal: transportasi jarak pendek dan rute berulang dalam area kompleks dengan titik pengantaran yang jelas. Dari sana, perusahaan menyiapkan sistem yang mencakup AI, pemetaan, koordinasi, dan pengelolaan armada robot. Langkahnya bertahap. Tidak tergesa. Tapi arahnya jelas.

Dalam jangka panjang, perusahaan ini ingin membangun platform robot otonom buatan Vietnam yang bisa dipakai di banyak bidang. Setelah robot pengiriman, Alpha Asimov juga menyiapkan robot patroli keamanan untuk pabrik, gudang, dan lokasi yang butuh pemantauan terus-menerus. Targetnya sederhana untuk diucapkan, tapi berat untuk dikerjakan: produk teknologi tinggi yang benar-benar dipakai di kehidupan nyata.

Kenapa ekosistem startup teknologi Da Nang penting

Da Nang tidak hanya menampilkan dua produk. Kota ini sedang mencoba membangun ekosistem startup teknologi yang lebih matang. Menurut Pusat Inovasi dan Dukungan Startup Da Nang, komunitas startup teknologi muda di kota itu menunjukkan semangat inovasi, kemampuan mengakses teknologi, dan ambisi membangun bisnis dengan identitas Da Nang sendiri.

Banyak startup di sana kini fokus pada transformasi digital, kecerdasan buatan, pariwisata cerdas, dan teknologi untuk kebutuhan harian. Namun tantangannya masih besar. Mereka harus memperkuat manajemen, mengkomersialkan produk, memperluas pasar, dan menarik investasi. Tanpa empat hal itu, ide yang bagus sering berhenti di tahap prototipe.

Di sinilah peran pusat inovasi jadi penting. Lembaga itu disebut aktif menghubungkan sumber daya dan menyambungkan ekosistem inovasi kota. Program tahunan seperti Festival Inovasi dan Startup Da Nang (SURF) serta Forum Modal Ventura dan Investasi Malaikat Da Nang (DAVAS) menjadi ruang temu antara pendiri startup, investor, organisasi pendukung, dan perusahaan teknologi dari dalam maupun luar negeri.

Rangkaian kegiatan itu membuka pintu yang sering paling sulit ditembus startup muda: akses ke investor dan mentor. Banyak perusahaan rintisan mendapat kesempatan pendampingan, mempercepat pengembangan usaha, dan membuka pasar baru. Bagi kota seperti Da Nang, ini bukan cuma soal ajang presentasi proyek. Ini soal membangun jalur pertumbuhan yang bisa bertahan lama.

Nguyen Viet Toan, Direktur Pusat Inovasi dan Dukungan Startup Da Nang, menegaskan universitas dan lembaga penelitian memegang peran dasar dalam ekosistem startup teknologi. Mereka menyediakan sumber daya manusia berkualitas dan ruang untuk mengembangkan ide yang bisa diteliti, diuji, lalu dikomersialkan. “Memperkuat hubungan sekolah, bisnis, dan ekosistem startup menjadi faktor kunci untuk transfer teknologi,” ujar Toan dalam keterangannya.

Hubungan seperti itu terasa praktis, bukan sekadar slogan. Kampus bisa melahirkan riset. Startup bisa mengolahnya jadi produk. Pemerintah daerah dan komunitas inovasi bisa menjembatani kebutuhan pasar. Saat rantai ini bekerja, peluang produk lokal menembus pasar yang lebih luas ikut terbuka.

Bagi pembaca di Indonesia, kisah Da Nang memberi pelajaran yang dekat. Startup teknologi yang kuat tidak selalu lahir dari ide yang paling glamor. Sering kali, produk yang bertahan justru datang dari masalah yang paling dekat dengan kehidupan: perpustakaan yang masih manual, ongkos kirim yang mahal, atau kebutuhan patroli yang berulang. Dari masalah yang kecil, lahir teknologi yang berguna. Dan di situlah masa depan pasar biasanya dimulai.

Ke depan, yang menarik untuk dipantau bukan cuma apakah Skoolib dan robot Alpha Asimov berhasil tumbuh. Yang lebih penting, apakah model ekosistem seperti Da Nang bisa melahirkan lebih banyak startup teknologi yang lulus dari tahap demo dan benar-benar dipakai luas oleh publik.

Ringkasan singkat: Skoolib mengubah pengelolaan perpustakaan dari manual ke digital. Alpha Asimov Robotics membangun robot pengiriman otonom untuk menekan biaya logistik. Da Nang menyiapkan ekosistem startup teknologi lewat koneksi kampus, investor, dan program pendampingan.

FAQ singkat: Apa fokus utama berita ini? Ekosistem startup teknologi Da Nang. Siapa pelaku utamanya? Bookshare dan Alpha Asimov Robotics. Mengapa penting? Karena menunjukkan cara startup menjawab masalah nyata lewat produk yang dipakai sehari-hari.

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram