Senin, 22 Juni 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Trump Diserang Kritik Bipartisan soal Kesepakatan Iran

Kritik bipartisan atas kesepakatan Iran di Washington
Kritik bipartisan atas kesepakatan Iran menguat saat Trump kembali mengancam serangan dan pembicaraan AS-Iran di Swiss berjalan alot. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Kesepakatan Iran yang dirintis Donald Trump langsung diserbu kritik dari kubu Demokrat dan Republik di Amerika Serikat, setelah sang presiden kembali mengancam serangan militer jika Teheran tidak menahan kelompok proksi di Lebanon.

Serangan politik itu muncul saat pembicaraan langsung AS-Iran di Lucerne, Swiss, baru saja memasuki putaran awal. Dampaknya tidak kecil. Pasar energi, jalur pelayaran Teluk Persia, dan ruang diplomasi Washington ikut terseret ke dalam tensi baru.

Kritik bipartisan atas kesepakatan Iran

Senator John Cornyn dari Partai Republik mengatakan kesepakatan itu terlalu longgar dan berisiko memberi napas baru bagi kemampuan militer Iran. Ia menilai tekanan ekonomi terhadap rezim yang dianggap bermasalah belum berhasil memaksa perubahan perilaku.

“Uang itu akan mereka pakai untuk mengganti aset rudal balistik dan mulai memperkaya uranium lagi,” kata Cornyn, seperti dikutip dari pernyataannya yang dirujuk media Amerika. Nada serupa datang dari sayap Demokrat.

Susan Rice, mantan duta besar AS untuk PBB sekaligus penasihat keamanan nasional di era Barack Obama, menyebut memorandum of understanding atau MOU yang diteken Trump di Paris pekan lalu sebagai kesepakatan yang “rapuh” dan “mencolok”. Dalam wawancara dengan ABC News This Week, Rice menilai terlalu banyak konsesi diberikan di depan sebelum ada kesepakatan nuklir yang lengkap.

Rice juga menyorot satu poin penting: Iran disebut sudah bisa menjual minyak dan produk minyaknya tanpa hambatan, lalu memakai pemasukan itu untuk membangun ulang kekuatannya. Menurut dia, pola itu sangat berbeda dengan pendekatan Obama dulu, ketika akses atas aset beku Iran dibatasi dan hanya boleh dipakai untuk tujuan kemanusiaan.

Soalnya, titik inilah yang dipersoalkan banyak politisi di Washington. Terlalu dini. Terlalu longgar.

Trump mengancam lagi, Vance bicara progres

Di saat kritik membesar, Trump justru menambah tekanan. Lewat Truth Social, ia menuntut Iran segera menghentikan “proksi bergaji tinggi” di Lebanon agar tidak bikin masalah. Jika tidak, Trump mengancam akan menyerang Iran “sangat keras lagi”, seperti pekan lalu.

Media Iran, IRNA, melaporkan delegasi Iran sempat meninggalkan gedung tempat negosiasi digelar setelah bertemu delegasi Qatar yang bertindak sebagai mediator. IRNA juga menyebut Trump kembali mengunggah ancaman saat perundingan dimulai di Swiss.

Vice President JD Vance memilih nada yang jauh lebih optimistis. Ia mengatakan para negosiator sudah “mencapai kemajuan besar hanya dalam beberapa jam terakhir” dan memperkirakan ada kemajuan tambahan dalam waktu dekat. Meski begitu, ia mengakui situasi di Lebanon tetap rumit.

“Hal-hal seperti ini selalu agak berantakan,” kata Vance kepada wartawan. Ia menambahkan, pemerintahan Trump masih punya “additional wood to chop”, istilah yang menunjukkan masih ada pekerjaan berat yang belum selesai.

Selat Hormuz dan Hezbollah ikut jadi taruhan

Yang membuat kisruh ini lebih serius adalah ancaman Trump yang menyentuh Selat Hormuz. Jalur sempit itu merupakan nadi pengiriman minyak dunia. Jika Washington benar-benar mencoba mengambil alih kontrol atau memaksa perubahan di sana, efeknya bisa menjalar cepat ke harga energi global.

Itulah sebabnya komentar Menteri Energi AS Chris Wright ikut disorot. Dalam wawancara dengan ABC’s This Week, Wright mengatakan negosiasi di Lucerne akan memperlihatkan apa yang diinginkan Iran dan kompromi apa yang siap mereka bayar. Ia menilai posisi tawar Teheran jauh lebih lemah setelah tekanan militer dan diplomasi Washington berjalan bersamaan.

“Kita belum pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya,” kata Wright. Menurut dia, tindakan militer AS telah mengubah kalkulasi Iran di meja perundingan.

Namun, di dalam negeri AS, kritik belum surut. Senator Cory Booker dari Partai Demokrat menolak memberi kredit kepada Trump atas berakhirnya perang. Ia menyebut situasi itu seperti “seorang pembakar yang menyalakan api lalu diberi pujian karena lari dari gedung yang terbakar”. Booker menilai pemerintah AS justru telah “menyerah” kepada musuh.

Tabloid New York Post, yang selama ini cenderung mendukung Trump, bahkan menurunkan tajuk tajam yang menyebut kesepakatan Iran itu lebih buruk daripada kesepakatan Obama. Nada seperti ini jarang muncul serempak dari dua kubu politik sekaligus. Dan itu sinyal penting.

Bagi pembaca di luar Amerika, kisruh ini tetap relevan. Harga minyak, arus pelayaran internasional, dan potensi eskalasi di Timur Tengah bisa berdampak ke ekonomi dunia, termasuk negara pengimpor energi seperti Indonesia. Jika konflik melebar, impor bahan bakar dan biaya logistik bisa ikut tertekan.

Trump kini berada di dua medan sekaligus: meja perundingan dan panggung ancaman. Masalahnya, dua pendekatan itu belum tentu saling menguatkan.

Seperti kata Rice, kesepakatan yang baik semestinya tidak memberi keuntungan besar di awal sebelum detail final benar-benar terkunci. “Konsesi seperti itu seharusnya tidak diberikan dulu,” ujarnya.

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda