JAKARTA, JOURNALART.COM – WhatsApp resmi meluncurkan fitur pengecekan gambar berbasis reverse image search yang bisa digunakan langsung dari ruang obrolan, tanpa perlu keluar aplikasi. Fitur bernama “Search on Web” ini hadir sebagai respons atas maraknya peredaran gambar hoaks dan konten manipulasi AI yang menyebar via pesan berantai.
Dampaknya bisa signifikan. WhatsApp dipakai lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia, dan platform ini kerap jadi jalur utama penyebaran foto editan atau gambar buatan AI yang menyesatkan. Dengan fitur baru ini, pengguna tak perlu repot mengunduh gambar lalu memeriksanya di aplikasi lain.
Cara Kerja Search on Web
Fitur ini menghubungkan WhatsApp langsung dengan Google Image Search. Saat pengguna mendapat foto mencurigakan, mereka bisa langsung memverifikasinya: dari mana gambar itu berasal, kapan pertama kali muncul di internet, dan apakah ada manipulasi digital di dalamnya.
Teknologi reverse image search sendiri bukan hal baru. Tapi mengintegrasikannya ke dalam aplikasi pesan instan tanpa harus berpindah ke browser, itulah yang jadi nilai tambah fitur ini.
Cara pakainya cukup sederhana. Buka gambar mencurigakan di chat, ketuk ikon tiga titik di pojok kanan atas, lalu pilih “Search on web”. WhatsApp akan meminta konfirmasi sebelum mengirim gambar ke Google, dan hasil pencarian langsung muncul di peramban.
Soal Privasi, WhatsApp Beri Jaminan
Wajar kalau pengguna bertanya: kalau gambar dikirim ke Google, apakah enkripsi percakapan ikut terganggu?
WhatsApp menegaskan enkripsi ujung-ke-ujung (end-to-end encryption) pada obrolan pribadi tidak tersentuh. Gambar hanya diteruskan ke server Google setelah pengguna memberi izin eksplisit lewat ketukan tombol konfirmasi. WhatsApp sendiri diklaim tidak menyimpan atau melacak gambar apa pun yang diperiksa lewat fitur ini.
Jaminan berlapis ini penting. Soalnya, kekhawatiran soal data pribadi kerap jadi hambatan utama adopsi fitur baru di aplikasi pesan terenkripsi.
Konteks: Kenapa Ini Penting Sekarang
Lonjakan konten manipulasi berbasis AI dalam dua tahun terakhir membuat platform digital kewalahan. Deepfake, foto wajah yang diubah, hingga gambar peristiwa fiktif yang terlihat nyata — semuanya kian sulit dibedakan dengan mata telanjang.
WhatsApp bukan satu-satunya yang bergerak. Google, Meta (induk WhatsApp), hingga platform media sosial lain berlomba memperkuat detektor konten sintetis. Tapi langkah Meta memasukkan alat verifikasi langsung ke aplikasi chatting bukan di platform terpisah terbilang praktis dan bisa menjangkau pengguna yang tidak melek teknologi sekalipun.
Pembaruan ini mulai digulirkan secara bertahap pekan ini untuk pengguna Android, iOS, dan WhatsApp Web. Pengguna yang belum melihat opsinya disarankan memperbarui aplikasi ke versi terbaru.
Bagi jutaan pengguna yang setiap hari kebanjiran kiriman foto di grup keluarga atau komunitas, fitur ini bisa jadi alat pertama yang benar-benar mudah dipakai untuk memotong rantai penyebaran hoaks sebelum foto itu diteruskan ke orang berikutnya.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.