SAN ANTONIO — New York Knicks resmi juara NBA setelah menaklukkan San Antonio Spurs 94-90 pada gim kelima final di Frost Bank Center, Texas, Minggu (14/6/2026). Kemenangan itu menutup penantian 53 tahun sejak gelar terakhir mereka pada 1973, dengan juara NBA kini kembali ke New York lewat jalan yang jauh dari prediksi.
Jalen Brunson jadi tokoh utama malam itu. Guard 29 tahun itu mencetak 45 poin dan dinobatkan sebagai MVP Final, sekaligus meraih cincin juara NBA pertamanya. Seusai peluit akhir berbunyi, Brunson menangis. “Saya tidak bisa berkata-kata. Ini semua yang pernah saya impikan,” ujarnya.
Bangkit dari defisit, lalu menang di markas lawan
Cara Knicks mengangkat trofi terasa ganjil, dalam arti yang positif. Sepanjang seri, mereka selalu tertinggal lebih dulu di setiap gim. Tapi mereka juga selalu menemukan jalan pulang. Di gim kelima, Knicks sempat tertinggal 14 poin pada pertengahan laga. Di gim keempat, mereka bahkan membalikkan keadaan setelah tertinggal 29 poin pada paruh kedua. Belum pernah ada tim yang melakukan comeback sebesar itu di final NBA.
Itulah yang membuat kemenangan Knicks terasa berbeda dari juara-juara sebelumnya. Mereka tidak melaju dengan mulus. Mereka diseret ke ujung tanduk, lalu menjawabnya dengan pertahanan rapat, mental keras, dan ketenangan saat bola panas. Tiga kemenangan di kandang Spurs juga menunjukkan bahwa mereka tidak gentar bermain dalam tekanan, justru makin hidup ketika arena lawan makin bising.
Chemistry lebih penting daripada nama besar
Musim ini, Knicks tidak datang sebagai unggulan utama. Mereka bahkan tak banyak disebut sebagai kandidat kuat juara karena kerap tersendat di playoff dan tak punya superstar setara wajah-wajah besar NBA. Namun, manajemen memilih jalur yang tidak ramai: membangun tim lewat pemain yang sering dipandang sebelah mata, bukan sekadar mengejar nama besar.
Brunson adalah contoh paling jelas. Ia direkrut pada 2022 sebagai pemain bebas transfer setelah meninggalkan Dallas Mavericks. Saat itu, banyak yang menilai Knicks hanya mendapat guard bagus, bukan pemimpin tim juara. Penilaian itu juga datang dari luar lapangan. Draymond Green, forward Golden State Warriors yang empat kali juara, sempat meragukan Brunson terlalu kecil untuk mengangkat tim ke puncak. Di final, Brunson menjawabnya dengan performa besar. Dan Green akhirnya meminta maaf di hadapan Brunson.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.