Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Jerman Tersingkir di 32 Besar Piala Dunia 2026, DFB Wajib Pecat Jul…

Ilustrasi Piala Dunia 2026 fase gugur dengan stadion malam dan bracket pertandingan
Legenda Jerman Arne Friedrich dan Hitzlsperger tuntut DFB pecat Nagelsmann usai Die Mannschaft tersingkir di 32 besar Piala Dunia 2026 oleh Paraguay. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Dua legenda Jerman angkat suara. Usai Die Mannschaft tumbang dari Paraguay lewat adu penalti di babak 32 besar Piala Dunia 2026, Arne Friedrich dan Thomas Hitzlsperger kompak menuntut DFB memecat Julian Nagelsmann.

Kekalahan itu pahit. Bukan hanya karena kalah penalti, tapi karena cara Jerman bermain sepanjang turnamen yang terus memantik pertanyaan. Tim yang sempat menghancurkan Curacao 7-1 dan mengalahkan Pantai Gading 2-1 ini ternyata tak cukup kuat ketika menghadapi lawan yang lebih terorganisir.

Friedrich: Kekalahan yang Pantas

Arne Friedrich, mantan bek tangguh Die Mannschaft, tidak melunak sedikit pun. Kepada BBC Radio 5 Live, ia menyebut hasil ini bukan kejutan — melainkan konsekuensi logis dari apa yang disajikan Jerman selama turnamen berlangsung.

“Jika melihat keseluruhan turnamen dan cara kami bermain, ini adalah kekalahan yang pantas,” kata Friedrich. “Nagelsmann harus menerima konsekuensinya. Saya benar-benar berpikir perjalanan tim ini harus dilanjutkan tanpa Nagelsmann.”

Kalimat terakhir itu tegas. Tidak ada ruang interpretasi. Friedrich percaya regenerasi Jerman butuh tangan baru, bukan kelanjutan dari eksperimen yang menurutnya gagal di panggung terbesar.

Hitzlsperger Soroti Persiapan yang Buruk

Thomas Hitzlsperger masuk dari sudut berbeda. Mantan gelandang ini tidak sekadar menyorot hasil, tapi mempertanyakan proses. Ia menilai Nagelsmann gagal mempersiapkan tim secara menyeluruh — dan itu yang membuat Jerman rapuh saat tekanan sesungguhnya datang.

“Sulit menjelaskan bagaimana Jerman menjalani turnamen ini dengan begitu banyak masalah. Situasi ini tidak bisa diterima,” ujarnya kepada BBC One.

Hitzlsperger juga menyinggung format Piala Dunia 2026 yang kini melibatkan 48 tim. Artinya, lebih banyak tim lemah yang bisa dikalahkan. Tapi justru dalam format seperti ini, Jerman malah terjungkal lebih awal dari yang pernah dibayangkan. “Dengan format Piala Dunia yang kini diikuti lebih banyak tim, tersingkir sedini ini tentu menjadi hal yang sangat sulit diterima bagi negara sebesar Jerman,” tegasnya.

Apa yang Salah dari Jerman?

Secara data, perjalanan Jerman sebenarnya tidak jelek di permukaan. Tujuh gol ke gawang Curacao, bangkit dari ketinggalan lawan Pantai Gading — angka-angka itu menjanjikan. Tapi ketika dihadapkan pada lawan yang punya struktur pertahanan solid dan mau berjuang lebih keras di luar bola, mekanisme pressing dan build-up Jerman tidak berjalan mulus.

Melawan Paraguay, masalah itu mencapai titik paling kritis. Jerman kesulitan membongkar low block lawan, transisi berlangsung lambat, dan ketika laga harus diselesaikan lewat adu penalti, mental pemain tidak cukup kuat. Inilah yang dikritik Hitzlsperger — bukan sekadar soal taktik, tapi soal kesiapan mental dan persiapan tim secara keseluruhan yang dinilai kurang dari pelatih kepala.

Bandingkan dengan nasib Korea Selatan yang juga tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026. Sesampainya di Bandara Incheon, skuad Taegeuk Warriors disambut ratusan penggemar yang marah — dengan tabuhan drum, teriakan hinaan, dan spanduk pedas. Pelatih Hong Myung-bo nyaris tak bisa bicara apa-apa. Situasi di Jerman belum seburuk itu secara publik, tapi tekanan dari dalam — dari para legenda — sama-sama menghantam keras.

Nasib Nagelsmann Ada di Tangan DFB

Nagelsmann memang belum dipecat secara resmi. DFB sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan terkait masa depan pelatih berusia 37 tahun itu. Tapi suara Friedrich dan Hitzlsperger bukan suara sembarangan. Keduanya punya bobot di dunia sepak bola Jerman, dan pernyataan terbuka kepada media sebesar BBC jelas merupakan sinyal yang tidak bisa diabaikan.

Nagelsmann memang punya rekam jejak impresif bersama klub — RB Leipzig dan Bayern München menjadi buktinya. Tapi di level timnas, tuntutannya berbeda. Tidak ada sesi latihan rutin tiap minggu, jendela pertemuan terbatas, dan kohesi tim harus dibangun dalam waktu singkat. Ketika hasil tidak sesuai harapan di turnamen sebesar Piala Dunia, kepala pelatih selalu yang pertama dipertaruhkan.

Yang menarik: tekanan ini datang sebelum DFB sendiri berbicara secara terbuka. Artinya, debat soal masa depan Nagelsmann sudah dimulai — dan publik Jerman tidak perlu menunggu pengumuman resmi untuk punya pendapat.

Keputusan DFB dalam beberapa hari ke depan akan menentukan arah Jerman menuju siklus berikutnya. Apakah mereka memilih kontinuitas dengan mempertahankan Nagelsmann, atau memulai babak baru dengan nama lain di bangku pelatih — itulah pertanyaan yang kini menggantung di Frankfurt.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda