Kamis, 2 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Iran Tolak Pihak Asing Ikut Campur Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz

Iran Tolak Pihak Asing Ikut Campur Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz
Foto: sina drakhshani/Unsplash

JAKARTA — Iran menolak pihak asing ikut campur dalam pembersihan ranjau di Selat Hormuz, setelah Prancis menyatakan siap bekerja sama dengan mitra-mitranya untuk mengamankan jalur pelayaran di kawasan itu. Teheran menegaskan semua proses harus mengikuti nota kesepahaman yang sudah ada, bukan keputusan sepihak negara lain.

Langkah ini penting karena Selat Hormuz adalah titik sempit yang dilalui sebagian besar pasokan minyak dunia. Begitu situasi di selat itu memanas, harga energi, biaya pengiriman, dan keamanan pelayaran ikut terdorong naik. Satu langkah keliru saja bisa merembet jauh.

Iran pegang kendali sesuai MoU

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pembersihan ranjau di Selat Hormuz sudah diatur dalam nota kesepahaman yang telah disepakati. “Pembersihan ranjau di Selat Hormuz diatur oleh nota kesepahaman terkait, dan Teheran tidak melihat perlunya intervensi pihak ketiga,” kata Baghaei, Senin (30/6), dikutip Al Jazeera.

Ia menolak gagasan keterlibatan pihak luar dalam operasi itu. Dari kacamata Teheran, hak dan kewajiban membersihkan ranjau tetap berada di tangan Iran sebagai negara pantai yang menguasai jalur tersebut. Jadi, bukan sekadar soal teknis. Ini soal otoritas.

Klaim Iran itu merujuk pada poin kelima MoU AS-Iran yang menyebut lalu lintas kapal akan dimulai kembali dan pembersihan ranjau akan diselesaikan Iran dalam waktu 30 hari. Artinya, Teheran menganggap klausul itu memberi mandat penuh sekaligus batas yang jelas: negara lain tidak perlu masuk.

Respons Macron dan langkah Prancis

Penolakan Iran muncul setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Paris sudah memutuskan bekerja sama dan berkoordinasi dengan mitra-mitranya untuk pembersihan ranjau di selat itu. Macron menyebut tujuan utamanya adalah mengamankan jalur maritim dan memastikan perlintasan tetap bebas serta tanpa syarat.

Prancis, menurut pernyataan Macron, ingin bergerak bersama Oman dan sejumlah mitra lain. Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan bilateral dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq dalam kunjungan resmi pertamanya ke Paris. Dari sini terlihat, isu Selat Hormuz bukan hanya urusan Iran dan Amerika Serikat. Negara Eropa pun ikut masuk ke dalam percaturan.

Tapi bagi Iran, koordinasi semacam itu justru dinilai berpotensi memperkeruh keadaan. Sejumlah media, termasuk Anadolu Agency dan TRT World, sebelumnya melaporkan bahwa Teheran juga memperingatkan Paris agar tidak memperumit situasi yang disebut masih sensitif dan kompleks.

Kenapa Selat Hormuz jadi begitu penting

Selat Hormuz punya bobot strategis yang besar. Jalur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dan Laut Oman, dan selama puluhan tahun menjadi urat nadi ekspor energi Timur Tengah. Setiap ancaman di sana langsung diperhatikan perusahaan pelayaran, pasar minyak, dan pemerintah negara besar.

Karena itulah, pembersihan ranjau bukan semata urusan keamanan lokal. Ini menyangkut kelancaran perdagangan global. Jika kapal-kapal besar merasa jalurnya tidak aman, dampaknya bisa terasa sampai ke importir energi di Asia, Eropa, termasuk negara-negara yang sangat bergantung pada bahan bakar dari kawasan Teluk.

Situasi makin rumit setelah Amerika Serikat dan Israel menggempur Iran pada akhir Februari, menurut bahan yang dikutip. Sebagai balasan, Teheran menutup selat tersebut. Sejak itu, ketegangan tak pernah benar-benar reda. Pertemuan militer khusus di Inggris juga sempat digelar sejumlah negara Barat untuk membahas keamanan pelayaran di kawasan ini.

Pertaruhan diplomasi, bukan cuma keamanan laut

Bagi Iran, menolak pihak asing ikut membersihkan ranjau berarti mempertahankan kendali politik atas jalur yang sangat sensitif. Bagi Prancis dan sekutunya, ikut terlibat dimaknai sebagai upaya menjaga keamanan pelayaran internasional. Dua kepentingan ini bertemu di satu titik yang sama: Selat Hormuz.

Di sinilah letak panasnya. Bila Iran membuka pintu terlalu lebar, mereka bisa dianggap mengalah di bawah tekanan luar. Jika menutup rapat, negara-negara lain bisa menilai Teheran menghambat keamanan pelayaran. Situasi seperti ini jarang punya solusi cepat.

Al Jazeera melaporkan pernyataan Baghaei pada Senin, sementara Antara, Detik, dan JPNN sama-sama menggarisbawahi penolakan Iran terhadap gagasan kerja sama Prancis. Meski detail redaksinya berbeda, benang merahnya sama: Teheran ingin pembersihan ranjau tetap berjalan sesuai MoU, dan bukan lewat skema yang digerakkan pihak ketiga.

“Kami tidak melihat perlunya intervensi pihak ketiga,” kata Baghaei. Kalimat itu singkat, tapi pesannya keras. Iran ingin memegang kendali penuh atas Selat Hormuz — dan untuk saat ini, mereka belum mau menyerahkannya ke siapa pun.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda