Minggu, 16 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

PMI Manufaktur RI Anjlok ke Level 46,9, Inflasi dan PHK Jadi Sorotan

PMI Manufaktur RI Anjlok ke Level 46,9, Inflasi dan PHK Jadi Sorotan
PMI Manufaktur RI Anjlok ke Level 46,9, Inflasi dan PHK Jadi Sorotan

JAKARTA — Sektor manufaktur Indonesia menutup paruh pertama tahun 2026 dengan rapor merah. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat merosot tajam ke level 46,9 pada Juni 2026, angka yang menandakan kontraksi paling dalam dalam setahun terakhir.

Data yang dirilis S&P Global hari ini, Rabu (1/7/2026), menunjukkan pelemahan solid pada kondisi operasional pabrik. Penurunan ini dipicu oleh lesunya permintaan barang manufaktur, baik dari pasar domestik maupun ekspor, yang memaksa pelaku usaha mengerem produksi secara signifikan. Angka di bawah 50,0 memang selalu menjadi indikator kontraksi, namun posisi 46,9 memberikan tekanan psikologis baru bagi para pelaku pasar yang sempat berharap adanya pemulihan di akhir kuartal II.

Krisis Pesanan dan Dampak ke Tenaga Kerja

Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, mengungkapkan bahwa volume pesanan baru mengalami penurunan tercepat dalam setahun. Tren negatif ini bahkan memaksa perusahaan untuk memangkas output selama empat bulan berturut-turut. Kondisi di lapangan kini benar-benar menantang bagi para pemilik pabrik. Permintaan yang seret membuat gudang-gudang penuh dengan stok yang tak terserap pasar.

Tak hanya produksi yang terhambat, sinyal lampu kuning terlihat pada sektor ketenagakerjaan. S&P Global menyoroti terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang cukup masif pada bulan Juni. Laju pengurangan tenaga kerja ini tercatat sebagai yang paling besar sejak September 2021. Ini bukan sekadar angka statistik. Di baliknya, ada ribuan pekerja yang kehilangan tumpuan ekonomi di tengah biaya hidup yang terus merangkak naik.

Perusahaan memilih untuk tidak menambah staf, bahkan melepas karyawan, guna menyesuaikan kapasitas dengan permintaan yang kian menciut. Aktivitas pembelian input produksi pun terus ditekan oleh pelaku industri selama empat bulan berturut-turut, mencapai level terendah sejak Agustus 2021. Perusahaan lebih memilih strategi bertahan hidup atau *survival mode* daripada melakukan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Tekanan Biaya dan Inflasi yang Mengancam

Selain masalah permintaan, produsen kini menghadapi tantangan berat dari sisi biaya. Tekanan harga bahan baku yang tinggi secara historis memaksa produsen untuk mengerek harga jual barang dari pabrik. Lonjakan harga jual ini merupakan yang tertinggi dalam hampir 13 tahun terakhir. Sektor industri terjepit di antara dua palu godam: biaya produksi yang membengkak akibat rantai pasok global yang terganggu, serta daya beli konsumen domestik yang tergerus inflasi.

Bhatti menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu faktor penghambat utama aktivitas pembelian perusahaan. Kondisi inflasi yang terus membayangi daya beli masyarakat ini menciptakan lingkaran setan bagi sektor manufaktur: biaya operasional naik, sementara pasar yang melesu membuat perusahaan kesulitan untuk menjaga margin keuntungan. Mereka terpaksa membebankan biaya produksi ke konsumen akhir, yang ujung-ujungnya justru menurunkan minat beli masyarakat.

Berikut adalah catatan utama kondisi manufaktur Indonesia per Juni 2026:

Indikator Catatan S&P Global
Level PMI 46,9 (Kontraksi)
Pesanan Baru Turun tercepat dalam setahun
Tenaga Kerja Laju PHK terbesar sejak Sep 2021
Harga Jual Kenaikan tertinggi dalam hampir 13 tahun
Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair