Sabtu, 4 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Neraca Perdagangan Mei 2026 Defisit US$1,61 Miliar, Didorong Sektor Migas

Neraca Perdagangan Mei 2026 Defisit US$1,61 Miliar, Didorong Sektor Migas
Ilustrasi grafik perkembangan neraca perdagangan Indonesia Mei 2026. Credit: JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Neraca perdagangan Mei 2026 Indonesia tercatat defisit 1,61 miliar dolar AS, menurut data yang dirilis Bank Indonesia (BI) dengan mengacu pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Tekanan utama datang dari sektor migas yang defisitnya melebar, sementara nonmigas masih menyumbang surplus.

Angka ini penting. Defisit yang membesar di migas memberi sinyal bahwa ketergantungan pada impor energi masih menjadi titik rawan bagi perdagangan luar negeri Indonesia, meski ekspor nonmigas belum kehilangan daya tahan.

Migas membebani neraca perdagangan Mei 2026

Defisit sektor migas pada Mei 2026 mencapai 3,76 miliar dolar AS. BI menyebut pelebaran defisit itu terjadi karena nilai ekspor migas turun lebih dalam dibandingkan penurunan nilai impor migas pada periode yang sama.

Artinya, tekanan tidak datang semata dari lonjakan impor. Pasar ekspor migas juga melemah, sehingga selisih negatifnya makin besar. Kondisi seperti ini biasanya langsung terasa pada posisi transaksi eksternal negara, terutama saat harga dan volume komoditas energi bergerak tidak seimbang.

Bagi pembaca, ini relevan karena migas masih punya porsi besar dalam kebutuhan energi domestik. Saat defisit melebar, ruang manuver kebijakan ikut menyempit. Pemerintah perlu menjaga pasokan tanpa membuat neraca perdagangan makin berat.

Nonmigas masih mencatat surplus

Di tengah tekanan migas, sektor nonmigas tetap membukukan surplus 2,15 miliar dolar AS pada Mei 2026. Surplus itu ditopang ekspor nonmigas yang mencapai 22,44 miliar dolar AS.

Komoditas berbasis sumber daya alam masih mendominasi kinerja ekspor. BI mencatat bahan bakar mineral, nikel, dan produk turunannya menjadi penyumbang penting. Pasar utama ekspor nonmigas Indonesia juga belum bergeser jauh: Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi tujuan terbesar.

Ini kabar yang menahan dampak defisit migas agar tidak lebih buruk. Tanpa surplus nonmigas, defisit perdagangan bulan Mei bisa jauh lebih dalam. Kinerja ekspor komoditas ini masih menjadi penopang utama perdagangan Indonesia, walau struktur ekspor yang bertumpu pada komoditas mentah tetap menyimpan risiko saat harga dunia turun.

Komponen Mei 2026
Neraca perdagangan total Defisit 1,61 miliar dolar AS
Neraca migas Defisit 3,76 miliar dolar AS
Neraca nonmigas Surplus 2,15 miliar dolar AS
Ekspor nonmigas 22,44 miliar dolar AS

Akumulasi Januari-Mei masih surplus

Meski Mei mencatat defisit, posisi kumulatif Januari-Mei 2026 masih surplus 4,03 miliar dolar AS. Data ini menunjukkan perdagangan luar negeri Indonesia belum kehilangan bantalan sepenuhnya, meski kinerjanya tidak semulus awal tahun.

Surplus kumulatif penting karena memberi gambaran lebih utuh dibanding satu bulan saja. Dalam perdagangan, satu bulan defisit belum tentu mengubah arah tahunan. Tapi kalau defisit migas terus berulang dan ekspor nonmigas melambat, surplus akumulatif bisa makin tipis.

BI menilai sinergi kebijakan dengan pemerintah tetap diperlukan untuk menjaga ketahanan eksternal. Dorongan itu bukan sekadar jargon. Keseimbangan antara impor energi, ekspor komoditas, dan hilirisasi industri akan sangat menentukan seberapa kuat posisi perdagangan Indonesia sepanjang 2026.

BI minta sinergi kebijakan diperkuat

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan bank sentral akan terus mencermati perkembangan neraca perdagangan dan menyiapkan dukungan kebijakan bersama pemerintah serta otoritas lain.

“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ujar Ramdan dalam siaran pers resmi, Rabu (1/7/2026).

Pernyataan itu menegaskan satu hal: tekanan di migas tidak bisa ditangani sendirian oleh BI. Kebijakan energi, produksi dalam negeri, hingga penguatan ekspor manufaktur ikut menentukan hasil akhirnya. Kalau sektor nonmigas terus mampu menahan beban, defisit bulanan masih bisa dikelola. Kalau tidak, neraca perdagangan bisa lebih mudah berbalik ke zona rawan.

Dengan data Mei 2026 ini, pasar mendapat gambaran baru soal titik lemah perdagangan Indonesia. Migas kembali menjadi sumber tekanan, sementara ekspor nonmigas masih menjadi penyangga utama. Untuk saat ini, bantalan itu masih ada. Tapi tidak tebal.

“Ketahanan eksternal butuh kerja bersama. Itu kuncinya,” kata Ramdan.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda