JAKARTA — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi mendapat mandat dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengeksekusi rencana ekspor listrik ke Singapura dengan total kapasitas mencapai 3,4 gigawatt (GW). Proyek strategis ini diproyeksikan menjadi pilar baru dalam hubungan bilateral ekonomi antara Indonesia dan Singapura.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa langkah ini telah dimatangkan melalui kerja sama dengan sektor swasta serta mitra strategis di Negeri Singa. “Bapak Presiden mengamanatkan agar Danantara bersinergi dengan dunia usaha untuk membangun infrastruktur ini.
Rencana ini sudah dibahas cukup lama, lebih dari empat tahun, agar segera terealisasi,” ujar Rosan usai pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Skema Bertahap dan Off-taker
Pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan ini tidak akan dilakukan sekaligus. Rosan menjelaskan bahwa pada tahap awal, Indonesia menargetkan ekspor sebesar 600 megawatt (MW) hingga 1,2 GW. Kapasitas tersebut akan ditingkatkan secara bertahap hingga menyentuh angka final 3,4 GW dalam jangka panjang.
Untuk memastikan penyerapan listrik, Danantara telah menggandeng sejumlah mitra strategis. Dalam nota kesepahaman (MoU) yang diteken, terdapat nama Singapore Energy Interconnections, Keppel Electric, dan Sembcorp Energy yang terlibat. Keppel dan Sembcorp diposisikan sebagai pembeli utama atau off-taker dari listrik yang dihasilkan Indonesia.
Sisi geografis menjadi pertimbangan utama dalam proyek ini. Indonesia akan membangun pembangkit listrik yang berfokus di wilayah Batam, Bintan, dan Karimun, Kepulauan Riau. Lokasi ini dipilih karena kedekatan akses untuk transmisi kabel bawah laut menuju Singapura.
Transisi Energi Terbarukan
Pemerintah menegaskan bahwa listrik yang diekspor wajib berasal dari sumber energi terbarukan (EBT). Meski rincian teknologi pembangkit belum dipaparkan secara mendalam, komitmen penggunaan renewable energy menjadi syarat mutlak dalam proyek ini. Hal ini sekaligus sejalan dengan target Indonesia untuk meningkatkan bauran energi hijau dalam ekspor nasional.
Bagi pelaku industri dan masyarakat di Kepulauan Riau, proyek ini membawa dampak signifikan. Secara ekonomi, pembangunan infrastruktur pembangkitan skala besar di Batam, Bintan, dan Karimun bakal mendorong penyerapan tenaga kerja lokal dalam jumlah besar, sekaligus memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai hub energi hijau di Asia Tenggara.
Bagi Singapura, pasokan listrik dari Indonesia merupakan langkah penting untuk memenuhi target dekarbonisasi nasional mereka. Melalui skema ini, ketergantungan Singapura pada sumber energi konvensional diharapkan berkurang secara drastis melalui suplai listrik ramah lingkungan dari Indonesia.
Keberhasilan proyek ini kini bergantung pada kecepatan pembangunan infrastruktur fisik di Kepulauan Riau dan efektivitas transmisi lintas negara. Danantara kini memegang kunci untuk memastikan seluruh alur investasi berjalan sesuai linimasa yang diharapkan oleh pemerintah.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.