Senin, 13 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Indonesia Siap Produksi BBM dari Tanaman Dalam 4 Tahun

Indonesia Siap Produksi BBM dari Tanaman Dalam 4 Tahun
Foto: www.jpnn.com

JAKARTA — Pemerintah Indonesia tengah memacu percepatan transisi energi dengan menargetkan produksi bensin berbasis tanaman dalam tiga hingga empat tahun mendatang. Langkah ini menjadi bagian integral dari strategi besar negara untuk mencapai kemandirian energi sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi sektor pertanian nasional.

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan ambisi tersebut saat menghadiri puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7). Menurutnya, pengembangan bahan bakar nabati ini bukan sekadar upaya substitusi energi, melainkan motor penggerak kesejahteraan bagi para petani di berbagai daerah.

Riset Akademisi Jadi Tumpuan Utama

Saat ini, sejumlah guru besar dan pakar di dalam negeri telah dilibatkan dalam riset mendalam untuk mengubah komoditas pertanian menjadi bahan bakar yang layak pakai. Fokus pengembangan diarahkan pada pemanfaatan kelapa sawit sebagai bahan baku bensin serta penggunaan singkong untuk produksi etanol.

Pengembangan ini diharapkan mampu mengubah peta ekonomi pedesaan secara signifikan. Dengan menyerap hasil panen petani secara masif untuk kebutuhan industri energi, pemerintah memproyeksikan lonjakan pendapatan bagi petani singkong, jagung, hingga sawit. Petani tidak lagi hanya menjadi penyedia pangan, tetapi juga pemain kunci dalam rantai pasok energi nasional.

“Jadi, saya harap dalam tiga-empat tahun lagi bisa menghasilkan bensin dari tanaman. Berarti petani singkong akan hidup makmur, petani jagung akan hidup makmur,” ujar Presiden Prabowo di depan para pelaku koperasi.

Strategi Mandiri Energi Nasional

Langkah pengembangan bensin nabati ini merupakan kelanjutan dari program hilirisasi sumber daya alam yang gencar dilakukan pemerintah. Sebelumnya, Indonesia telah mengimplementasikan biodiesel B50, yaitu campuran bahan bakar minyak dengan 50 persen minyak kelapa sawit.

Implementasi ini telah menjadi fondasi awal bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil yang selama ini menguras devisa negara.

Keberhasilan B50 di lapangan menjadi tolok ukur kesiapan industri dalam mengadopsi bahan bakar berbasis nabati yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah saat ini juga tidak menutup kemungkinan untuk terus meningkatkan standar campuran biodiesel, bahkan Presiden telah memberikan arahan bagi para ilmuwan untuk mulai menargetkan pengembangan ke arah B60.

Peralihan ke bahan bakar berbasis tanaman juga menjadi jawaban atas kebutuhan akan energi yang berkelanjutan.

Di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang kerap membebani APBN, kemandirian energi berbasis komoditas dalam negeri menjadi langkah strategis untuk menciptakan ketahanan ekonomi yang lebih tangguh di masa depan.

Dengan memanfaatkan lahan yang ada, Indonesia berusaha memaksimalkan potensi agroindustri sebagai tulang punggung ekonomi hijau yang inklusif.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda