Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Saham Teknologi Anjlok! Cemas Belanja AI $725 Miliar Gak Balik Modal

saham tech anjlok ai spending
Saham Teknologi Anjlok! Cemas Belanja AI $725 Miliar Gak Balik Modal. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COMSaham teknologi AS kembali tertekan setelah Nasdaq turun 1,5 persen dan S&P 500 melemah 0,5 persen di tengah kekhawatiran investor atas belanja AI yang sudah menembus 725 miliar dolar AS tahun ini. Saham IBM bahkan jatuh 27 persen dalam sehari, memicu pertanyaan baru soal ke mana arah euforia kecerdasan buatan.

Tekanan di Wall Street ini tidak berhenti di Amerika Serikat. Sentimen global yang sensitif terhadap sektor teknologi bisa ikut merembet ke pasar Asia, termasuk IHSG, terutama pada saham-saham yang terkait data center, telekomunikasi, dan infrastruktur digital.

Kenapa saham teknologi AS terkoreksi

Pasar mulai jenuh dengan belanja besar-besaran untuk AI. Empat perusahaan AI terbesar di AS diperkirakan menghabiskan lebih dari 725 miliar dolar AS pada 2026 untuk chip, data center, dan listrik, tetapi investor kini menuntut jawaban yang lebih keras: kapan uang itu kembali?

Masalahnya sederhana. Belanja melonjak cepat, sementara jalur laba belum secepat narasi yang dibangun. Itu membuat valuasi emiten teknologi masuk zona rawan. Begitu ekspektasi keuntungan meleset sedikit saja, penjualan saham langsung membesar.

IBM ikut jadi contoh paling keras. Perusahaan itu mengakui adanya gangguan pada belanja klien karena anggaran teknologi dialihkan ke infrastruktur AI. Dampaknya terasa pada bisnis perangkat lunak, lalu menyapu saham-saham lain yang punya eksposur ke segmen serupa seperti ServiceNow dan Workday.

Data koreksi yang membuat pasar waspada

Koreksi kali ini bukan cuma soal satu emiten. Tekanan juga terlihat pada sektor chip. Indeks SOX semikonduktor tercatat turun sekitar 20 persen dari rekor Juni, sementara Meta melemah 5,2 persen. Nvidia juga ikut terkoreksi 1,3 persen, menandakan investor tak lagi membeli semua nama besar AI tanpa seleksi.

Aset Pergerakan
Nasdaq -1,5%
S&P 500 -0,5%
IBM -27% dalam sehari
SOX Semiconductor -20% dari rekor Juni
Meta -5,2%

Data itu memperlihatkan pola yang lebih luas: hedge fund mulai menurunkan eksposur ke AI dalam lima sampai enam pekan terakhir. Artinya, pasar tidak lagi berada pada fase berburu cerita besar, melainkan fase memilah mana saham yang benar-benar punya arus kas dan mana yang hanya ditopang harapan.

Efek ke IHSG dan saham teknologi Indonesia

Untuk Indonesia, dampaknya tidak selalu datang lewat jalur yang lurus. IHSG memang tidak bergerak seirama penuh dengan Wall Street, tetapi pasar modal lokal sangat peka pada arah dana asing dan sentimen sektor teknologi global. Saat saham teknologi AS melemah, investor regional biasanya menjadi lebih hati-hati menambah posisi di emiten digital berkapitalisasi besar.

Saham seperti DNET, MTDL, EXCL, MTEL, WIFI, dan DCII bisa ikut terseret sentimen bila investor menilai belanja infrastruktur digital akan melambat. Bukan karena bisnis mereka langsung buruk, melainkan karena pasar cenderung memotong valuasi dulu sebelum menunggu laporan kinerja berikutnya. Reaksi semacam ini sering muncul lebih cepat daripada perubahan fundamental itu sendiri.

Soal arus dana, data yang beredar menunjukkan asing masih net buy saham AS senilai 120,8 miliar dolar AS pada Mei. Namun bila rotasi keluar dari saham teknologi berlanjut, dana bisa mencari aset lain di pasar berkembang, termasuk Indonesia. Peluang ada. Tapi kalau koreksi berubah menjadi penurunan yang lebih dalam, emiten teknologi dalam negeri juga berisiko ikut kena tekanan valuasi.

Masih koreksi sehat atau awal masalah lebih besar

Sejauh ini pasar masih membaca koreksi ini sebagai penyesuaian sehat, bukan pecahnya gelembung. Alasannya, posisi hedge fund sudah lebih bersih dan penjualan paksa mulai mereda. Belanja AI pun belum berhenti, hanya jadi lebih selektif.

Titik uji berikutnya datang dari laporan keuangan para hyperscaler seperti Microsoft, Amazon, dan Alphabet. Pasar ingin melihat dua hal sekaligus: capex yang tetap naik dan sinyal bahwa belanja itu benar-benar menuju profit. Kalau salah satunya gagal muncul, tekanan ke saham teknologi AS bisa bertahan lebih lama, dan efeknya ke IHSG bakal ikut terasa di sesi perdagangan berikutnya.

Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan jual atau beli saham. Investasi mengandung risiko dan keputusan tetap perlu disesuaikan dengan profil masing-masing.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda