Penerbit peta jalan legendaris di Australia, Hardie Grant, resmi mengumumkan penghentian pembaruan rutin tahunan untuk koleksi peta fisik mereka. Keputusan ini menandai pergeseran besar bagi industri yang dulu sempat mendominasi navigasi masyarakat Australia, namun kini perlahan tergeser oleh dominasi GPS dan aplikasi peta digital.
Pokok Peristiwa
Sandy Grant, Chairman Hardie Grant yang menaungi merek peta UBD Gregory’s dan Refidex, mengakui bahwa masa kejayaan buku peta fisik sudah hampir berakhir.
Meski perusahaan tetap menyediakan peta dalam bentuk cetak, siklus pembaruan tahunan yang selama ini dilakukan oleh tim kartografer tidak akan dilanjutkan lagi.
Penurunan volume penjualan yang kini berada di bawah 20 persen dari puncak kejayaannya pada dekade 1970-an dan 1980-an menjadi faktor utama di balik perubahan kebijakan ini.
Jumlah tenaga kerja yang terlibat pun mengalami penyusutan drastis. Jika di masa lalu perusahaan mempekerjakan hingga 40 kartografer, pada edisi terbaru tercatat hanya tersisa dua orang yang bertugas memetakan perubahan infrastruktur jalan. "Kami berada di ujung masa pakai peta ini.
Kami akan tetap menyediakannya, tetapi mustahil untuk mempertahankan siklus pembaruan yang sama," ungkap Sandy Grant.
Konteks
Meskipun pasar sudah didominasi teknologi, buku peta tetap memiliki basis penggemar setia yang didominasi oleh kelompok pria lanjut usia. Banyak dari mereka mengandalkan peta cetak sebagai cadangan ketika sinyal seluler hilang, baterai ponsel habis, atau sistem GPS memberikan arahan yang salah.
Bahkan, unit layanan darurat di Australia Barat pernah menunjukkan kekhawatiran serius saat muncul rumor penghentian produksi peta tahun lalu, mengingat peran krusial peta cetak dalam menjangkau lokasi terpencil yang belum terpetakan dengan akurat oleh layanan digital seperti Google.
Di sisi lain, ketergantungan masyarakat pada teknologi memicu kekhawatiran mengenai fenomena yang disebut sebagai cognitive offloading.
Associate Professor Grant Blashki dari University of Melbourne menjelaskan bahwa ketergantungan berlebih pada GPS berisiko menurunkan kemampuan navigasi alami dan pengetahuan lingkungan seseorang.
Dampak dan Langkah Berikutnya
Menurutnya, saat kita mendelegasikan navigasi sepenuhnya kepada mesin, otak manusia cenderung berhenti untuk ikut memproses rute perjalanan.
Selain fungsi navigasi, peta-peta tua ini juga memiliki nilai sejarah urban yang tidak dimiliki oleh peta digital. Data bisnis lawas dari tahun 1940-an yang tersimpan dalam koleksi peta tersebut sering dicari oleh pengembang properti dan konsultan lingkungan untuk melacak jejak penggunaan lahan di masa lalu. Hal ini sangat penting untuk memastikan keamanan tanah sebelum didirikan hunian baru.
Menatap masa depan, Blashki memprediksi bahwa di tengah dominasi kecerdasan buatan, buku peta fisik mungkin justru akan mengalami peningkatan daya tarik sebagai bentuk ketertarikan terhadap benda analog.
Pesona membalik halaman demi halaman peta saat bepergian memberikan pengalaman navigasi yang tidak bisa digantikan oleh layar ponsel, memberikan secercah harapan bagi kelangsungan buku peta di era digital.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.