Kazuyoshi Miura baru saja menampar realita medis dengan cara paling elegan: mencetak gol di usia 59 tahun. Sabtu akhir pekan lalu, lapangan hijau Fukushima menjadi saksi bisu saat legenda hidup sepak bola Jepang ini merobek jala lawan di ajang Piala Kaisar.
Publik yang menyaksikan laga antara Fukushima United melawan Iwaki Furukawa dibuat ternganga ketika bola hasil sepakannya menggetarkan jaring pada menit ke-52.
Gol tersebut bukan sekadar angka di papan skor. Itu adalah bukti bahwa determinasi sang “King Kazu” belum luntur, meski kakinya sudah menginjak usia hampir enam dekade. Fukushima United pun makin tak terbendung setelah gol tersebut, mengunci kemenangan telak dengan skor akhir 7-0. Rekor ini sekaligus menempatkannya sebagai pencetak gol tertua dalam sejarah sepak bola profesional Jepang.
Menanti Empat Tahun
Pecinta bola tentu ingat, sudah cukup lama Miura puasa mencetak gol. Kali terakhir namanya tertera di lembar pencetak skor adalah pada November 2022. Saat itu, ia masih membela Suzuka PG sebelum akhirnya menjalani petualangan baru di berbagai klub.
Hampir empat tahun menanti, akhirnya keran gol itu terbuka kembali. Begitu bola masuk, ia merayakannya dengan ketenangan yang menunjukkan kelas pemain yang sudah kenyang asam garam di berbagai liga top dunia.
Kehadiran Miura di lapangan bukan sekadar pajangan untuk menarik penonton. Fisik dan disiplinnya tetap terjaga di level yang membuat banyak pemain usia 20-an geleng-geleng kepala.
Bagi para pemain muda di Fukushima United, melihat Miura berlari di lapangan adalah pelajaran hidup tentang arti dedikasi. Ia adalah simbol nyata bahwa usia hanyalah hitungan tahun di KTP, sementara gairah di lapangan adalah perkara hati dan komitmen latihan yang tanpa henti.
Lika-liku Sang Legenda
Jauh sebelum menjadi ikon seperti sekarang, fondasi sepak bola Miura terbentuk di tanah Brasil. Tahun 1986, ia memulai karier profesionalnya di sana setelah menimba ilmu keras di Clube Atletico Juventus (Juventus-SP). Nama-nama besar seperti Santos dan Palmeiras pernah merasakan sentuhan kakinya. Brasil memberinya bekal teknik serta mental baja yang kemudian ia bawa pulang ke Jepang.
Saat J-League baru saja lahir pada 1993, Miura langsung menjadi wajah utamanya. Ia adalah magnet besar bagi sepak bola Negeri Sakura. Bersama Verdy Kawasaki—yang kini dikenal sebagai Tokyo Verdy—selama delapan musim, ia mengoleksi berbagai gelar bergengsi. Dua gelar J1 League dan sederet trofi domestik ia angkat dengan penuh kebanggaan. Kariernya pun tak membatasi diri di Asia saja.
Ia pernah menjajal kerasnya kompetisi Eropa. Musim 1994-1995, Miura terbang ke Italia untuk membela Genoa. Empat tahun kemudian, ia merapat ke Dinamo Zagreb di Kroasia.
Bahkan pada usia yang sudah dianggap “pensiun” oleh banyak pemain profesional lain, yakni rentang 2023 hingga 2024, ia masih berani merantau ke Portugal untuk memperkuat Oliveirense. Statusnya sebagai pemain tertua asal Jepang yang berkompetisi di luar negeri pun ia sandang dengan penuh wibawa.
Kini, sekembalinya ia ke Jepang untuk berseragam Fukushima United, pertanyaan tentang kapan ia akan benar-benar gantung sepatu seolah tak relevan lagi. Miura justru menantang waktu.
Setiap menit yang ia habiskan di atas rumput hijau adalah rekor baru, dan setiap gol yang ia cetak adalah pengingat bahwa untuk seorang Kazuyoshi Miura, bola masih menjadi kawan karib yang paling setia.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda sang legenda akan menarik diri dari rutinitas yang sudah ia geluti selama lebih dari empat dekade tersebut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.