Rabu, 29 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Pontianak Kembali Jadi Kota dengan Polusi Terburuk, Warga Diimbau Pakai Masker

Pontianak Kembali Jadi Kota dengan Polusi Terburuk, Warga Diimbau Pakai Masker
Pontianak Kembali Jadi Kota dengan Polusi Terburuk, Warga Diimbau Pakai Masker

Warga Pontianak terbangun pada Rabu (29/7) dengan langit yang tampak samar tertutup kabut abu-abu. Bukan kabut pagi biasa. Kota ini kembali menduduki posisi puncak sebagai kota dengan tingkat polusi udara terburuk di seluruh Indonesia hari ini.

Kualitas udara yang merosot tajam memaksa setiap orang yang melangkah keluar rumah untuk segera menarik napas panjang, sembari berharap masker yang mereka kenakan mampu menahan partikel berbahaya masuk ke paru-paru.

Kondisi ini bukan hal baru bagi warga Kalimantan Barat. Kota Pontianak memang kerap terjebak dalam siklus asap tahunan. Penyebab utamanya sudah bisa ditebak: kebakaran hutan dan lahan yang marak terjadi di wilayah sekitar. Angin membawa kiriman asap tersebut hingga menyelimuti pusat kota, membuat jarak pandang memendek dan membuat mata perih saat terpapar langsung.

Langkah Darurat bagi Kesehatan

Pemerintah daerah tidak mau ambil risiko. Peringatan dini langsung disebar agar masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang punya riwayat penyakit pernapasan, membatasi diri di luar ruangan. Masker bukan lagi sekadar pelengkap busana. Penggunaan masker dengan standar proteksi tinggi, seperti N95, kini menjadi anjuran mutlak bagi siapa saja yang terpaksa beraktivitas di jalanan.

Dinas kesehatan setempat juga meminta warga untuk lebih peduli pada asupan air putih. Perbanyak minum. Kurangi olahraga berat di lapangan terbuka. Pastikan pula sirkulasi udara di dalam hunian tetap terjaga meski suasana di luar sedang pekat.

Bagi para pekerja yang terikat di sektor publik atau transportasi, protokol ketat mulai diberlakukan untuk melindungi keselamatan mereka dari paparan langsung polutan yang terus mengintai.

Roda Ekonomi yang Melambat

Jalanan tidak seramai biasanya. Dampak buruk udara ini langsung menghantam sendi ekonomi rakyat kecil. Penjual makanan di pinggir jalan mulai kehilangan pelanggan.

Pengemudi ojek online harus berjuang lebih keras, bukan hanya menahan kantuk, tapi juga membelah kepulan asap yang mengganggu penglihatan. Banyak warga memilih mendekam di rumah, menghindari jalanan yang kini terasa tidak bersahabat bagi sistem pernapasan manusia.

Di sekolah-sekolah, para pengajar diminta memantau kesehatan peserta didik dengan lebih teliti. Kegiatan olahraga atau acara publik di lapangan terbuka terpaksa dipangkas atau dijadwal ulang demi menjaga keselamatan banyak orang.

Suasana kota yang biasanya dinamis, kini berubah jadi lebih sepi dan tegang. Jarak pandang yang terbatas membuat pengendara motor harus ekstra hati-hati di setiap tikungan, apalagi jika kabut asap mulai turun tebal.

Pontianak, dengan populasi mencapai 644.000 jiwa, sebenarnya sudah terbiasa hidup berdampingan dengan ancaman ini. Namun, menjadi yang terpolusi di Indonesia tetap bukan gelar yang bisa dibanggakan. Masalah ini sudah jadi tantangan lingkungan yang mengakar kuat.

Pengendalian api di lahan gambut menjadi kunci, namun upaya memadamkan api di lapangan sering kali tak sebanding dengan kecepatan api meluas saat musim kemarau tiba.

Pemerintah daerah kini tengah mengintensifkan teknologi pemantauan kualitas udara secara real-time agar masyarakat mendapat data yang akurat setiap jamnya. Langkah ini diambil agar mitigasi tidak berjalan buta. Namun, bagi warga, teknologi canggih saja tidak cukup.

Mereka butuh udara bersih yang bisa dihirup tanpa rasa takut. Selama titik api di kawasan sekitar belum tuntas dipadamkan, masker akan tetap menjadi sahabat setia bagi warga Pontianak untuk bertahan menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kepungan asap yang belum juga menipis hingga siang ini.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda