Kamis, 30 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Program B50 Jalan, Impor Solar Diproyeksi Turun 18 Juta Kiloliter

Program B50 Jalan, Impor Solar Diproyeksi Turun 18 Juta Kiloliter
Program B50 Jalan, Impor Solar Diproyeksi Turun 18 Juta Kiloliter

JAKARTA — Pemerintah Indonesia resmi tancap gas menjalankan mandatori Biodiesel B50 untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menekan angka impor solar hingga 18 juta kiloliter per tahun pada 2026 atau setara dengan 310 ribu barel per hari.

Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program ini di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat. Langkah strategis tersebut menjadi bagian dari visi kemandirian energi nasional melalui optimalisasi sumber daya nabati dalam negeri.

PT Pertamina (Persero) kini memikul tanggung jawab besar sebagai eksekutor utama dalam penyediaan dan distribusi bahan bakar berbasis campuran biodiesel ini ke seluruh pelosok tanah air.

Kesiapan Infrastruktur Pertamina

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa perusahaan telah melakukan persiapan komprehensif. Pengalaman panjang Pertamina dalam mengawal transisi dari B20, B30, B35, hingga B40 menjadi modal utama untuk menjaga stabilitas pasokan. Infrastruktur penyimpanan dan jaringan distribusi kini dipastikan telah menyesuaikan diri dengan spesifikasi teknis B50.

Senada dengan hal tersebut, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menambahkan bahwa seluruh rantai pasok telah dikoordinasikan secara ketat.

Pihaknya memastikan bahwa kualitas produk Biosolar B50 yang diterima masyarakat tetap terjaga mutunya sesuai dengan standar pemerintah.

Pertamina bersama sub-holding Pertamina Patra Niaga kini memantau langsung proses transisi di lapangan guna memastikan tidak terjadi kendala distribusi bagi konsumen.

Masa Transisi dan Dampak Ekonomi

Pemerintah menetapkan masa transisi pemberlakuan B50 hingga 30 September 2026. Selama rentang waktu ini, penyaluran Biosolar dilakukan secara bertahap untuk memastikan kelancaran peralihan dari B40. Langkah terukur ini diambil agar pasokan energi bagi masyarakat tetap terjaga selama penyesuaian operasional berlangsung.

Bagi industri dan masyarakat, keberhasilan program ini membawa implikasi besar terhadap neraca dagang migas Indonesia. Penurunan impor hingga 18 juta kiloliter per tahun berarti penghematan devisa yang sangat signifikan.

Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, penggunaan biodiesel juga menjadi instrumen pemerintah untuk mempercepat transisi energi bersih berbasis sumber daya domestik.

Langkah selanjutnya, pemerintah dan Pertamina akan terus melakukan evaluasi berkala terhadap performa mesin serta keandalan rantai pasok selama masa transisi. Keberhasilan B50 tidak hanya diukur dari penghematan impor, tetapi juga sejauh mana efektivitas distribusi menjangkau seluruh daerah di Indonesia tanpa mengganggu mobilitas ekonomi nasional.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda