JAKARTA — album terbaik Juli didominasi nama besar yang kembali lewat rilisan baru, dengan Charli xcx, The Strokes, dan Jack White paling banyak mencuri perhatian di daftar ulasan musik bulan ini.
Di bulan yang juga kedatangan album baru dari Madonna, The Rolling Stones, Ariana Grande, PNAU, The Temper Trap, Body Type, dan Budjerah, pilihan utama justru mengerucut ke tiga rilisan yang paling bikin pembaca dan pendengar berhenti sebentar lalu menekan putar ulang.
Album terbaik Juli dan alasan tiga nama ini menonjol
Rangkaian ulasan yang dikumpulkan ABC lewat Shortcut podcast menempatkan July sebagai bulan yang padat. Tapi, bukan volume rilisan yang paling penting di sini. Yang bikin ramai justru kualitas comeback dari Charli xcx, The Strokes, dan Jack White.
Charli xcx datang membawa beban besar setelah Brat. Wajar kalau ekspektasi tinggi. Namun, album barunya dinilai tetap kuat karena tidak sekadar mengejar ulang ledakan budaya dari album sebelumnya. Di lagu penutup No One Lasts Forever, ia menyanyi, “Since everyone knows my name, all the parties got better,” lalu menguliti sisi lain dari ketenaran yang besar dan cepat berubah.
Nuansanya terasa matang. Gelap, tapi jujur. Ada messiness, ada depression, ada hope. Rekanan lamanya, A.G. Cook dan Finn Keane, ikut membentuk suara yang lebih liar dan memelintir rock ‘n’ roll ke bentuk yang aneh namun menarik. Judul album Music, Fashion, Film juga mempertegas posisi Charli bukan cuma sebagai bintang pop, melainkan penulis yang tahu persis apa yang ingin ia tunjukkan.
The Strokes memilih jalur yang lebih aneh
The Strokes juga kembali dengan beban sejarah yang tidak kecil. Sejak Is This It dirilis 25 tahun lalu, band asal New York itu terus diukur dengan standar yang mereka pasang sendiri. Album baru mereka, Reality Awaits, mempertemukan mereka lagi dengan produser Rick Rubin dan membawa arah yang lebih eksperimental.
Masih ada kilasan Strokes klasik lewat Going To Babble On dan Lonely In The Future. Gitar Nick Valensi dan Albert Hammond Jnr tetap saling mengisi dengan ciri khas yang tajam. Tapi keseluruhan album ini sengaja dibuat lebih ganjil, lebih mengganggu, dan kadang terasa terlalu lama berputar di tempat. Di situ justru letak tarikannya.
Julian Casablancas juga bermain-main dengan lirik yang menyentil tren musik daur ulang, nama-nama besar pop, sampai kritik internet. Ada nada sinis yang kuat di sana. Bukan album untuk mencari rasa aman. Ini kerjaan band yang sudah tidak lagi ingin terdengar seperti poster boy indie rock yang dulu menempel pada mereka.
Jack White, Yard Act, dan warna lain di daftar ulasan
Jack White ikut masuk ke radar lewat rilisan yang turut dibahas dalam rangkaian review bulan ini. Bersama Yard Act, Four Tet, Swapmeet, Pain Gain, dan Dobby, daftar tersebut menunjukkan bahwa Juli bukan cuma soal nama global. Ada juga ruang untuk rilisan yang lebih liar, lebih lokal, dan lebih sulit ditebak arahnya.
Yard Act, lewat You’re Gonna Need A Little Music, bahkan disebut mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu band Inggris penting saat ini. Album itu dibuka dengan Empty Pledges, sebuah serangan awal yang tajam dari James Smith soal ketenaran, kecemburuan, dan hidup sehari-hari. Di tangan Yard Act, lirik yang tajam tetap berjalan beriringan dengan melodi yang mudah melekat.
Di sisi lain, Four Tet dan deretan nama indie Australia memberi warna yang berbeda. Tidak semua album di daftar ini dibuat untuk tujuan yang sama. Ada yang bermain di ruang pop besar. Ada yang sengaja memelintir bentuknya. Ada juga yang bertumpu pada kecerdasan lirik dan keberanian mengubah genre tanpa takut terdengar tidak nyaman.
Untuk pendengar, daftar seperti ini penting karena memberi peta yang jelas soal arah musik baru bulan ini. Kalau biasanya rilisan besar hanya dibaca lewat nama penyanyinya, seleksi Juli justru menunjukkan bahwa kualitas masih bisa datang dari keberanian mengambil risiko.
Itu berlaku untuk Charli xcx yang mengolah ulang sorotan publik, The Strokes yang merusak ekspektasi, maupun Yard Act yang mengandalkan tajamnya kata-kata.
ABC membuka juga ruang dengar lewat Shortcut podcast bersama Al Newstead, Dan Condon, dan Courtney Fry. Sementara itu, pembaca yang ingin ikut menentukan album terbaik bulan ini masih bisa memberi suara lewat polling yang disediakan di halaman ulasan. Nama-nama besar sudah muncul, tapi perebutan perhatian jelas belum selesai.
Di antara semua rilisan itu, satu hal yang menonjol tetap sama: Juli bukan bulan yang sepi. Dan dari banyak pilihan yang hadir, album-album yang paling lama tinggal di kepala justru datang dari artis yang berani terdengar sedikit tidak nyaman.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.