CEUTA — Migran Ceuta membuat Spanyol mengerahkan militer ke perbatasan dengan Maroko setelah ribuan orang menyeberang ke enklave itu dan sembilan orang dilaporkan tewas dalam arus penyeberangan massal dari Maroko. Madrid menurunkan 60 personel untuk memperkuat polisi yang kewalahan di wilayah kecil di Afrika utara itu.
Dampaknya langsung terasa. Pusat penampungan penuh, sejumlah toko tutup, dan pemerintah daerah mendesak status darurat nasional. Di saat yang sama, pemerintah pusat berupaya mengembalikan kendali atas perbatasan yang oleh pejabat serikat Civil Guard disebut sudah “totally collapsed”.
Spanyol turunkan tentara ke Ceuta
Pemerintah Spanyol mengatakan angkatan bersenjata akan membantu Civil Guard “to maintain security in the city of Ceuta”, sementara perdana menteri Pedro Sánchez dijadwalkan mendampingi Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska ke kawasan itu pada Jumat. Keputusan itu muncul setelah aparat domestik kewalahan pada Kamis oleh kedatangan ribuan migran.
Rachid Sbihi, kepala asosiasi yang mewakili petugas Civil Guard di Ceuta, menggambarkan situasi di lapangan sebagai kacau total. “The situation is absolute chaos,” katanya. Ia menambahkan, “It’s not possible to give precise numbers, but there are thousands of migrants crossing,” sambil menyebut perbatasan “totally collapsed”.
Rekaman video memperlihatkan ratusan orang berenang dari sisi Maroko dengan ban dalam dan alat apung lain, sementara yang lain menerobos gerbang pagar dan berlari masuk ke kota. Banyak dari mereka meneriakkan, “Viva España!”
Televisi negara TVE melaporkan 2.000 to 3.000 orang telah menyeberang. Kantor berita EFE juga menyebut sebagian migran memanjat pagar perbatasan tanpa berenang.
Tekanan di garis perbatasan
Gelombang terbaru ini mengingatkan pada penyeberangan pada Mei 2021, ketika sekitar 10.000 orang dari Maroko dan Afrika sub-Sahara masuk ke enklave berpenduduk 85.000 jiwa itu dalam hitungan hari. Kali ini, tekanan muncul lagi saat banyak migran mencoba masuk lewat laut, terutama dari sekitar Tarajal beach.
Achraf Maimouni dari Moroccan Association for Human Rights di Maroko utara menyebut situasinya “exceptional”. Ia mengatakan, “The Tarajal border was opened under unusual circumstances this morning and people crossed,” merujuk pada pembukaan perbatasan yang tidak biasa pada pagi hari itu.
Juru bicara Guardia Civil mengatakan migran “massively entering from the sea” melalui pemecah gelombang Tarajal, meski ia tak bisa memberi perkiraan angka. Aktivis hak migran Zakaria Zarroqui juga menyebut situasinya “remains out of control as we speak”, seraya mengatakan masih ada orang-orang yang berdatangan ke kota Maroko, Fnideq, untuk mencoba menyeberang.
Wali kota sekaligus kepala pemerintah regional Ceuta, Juan Jesús Vivas, meminta pemerintah pusat menetapkan keadaan darurat nasional atas dasar keamanan nasional dan menurunkan lebih banyak polisi serta tentara ke perbatasan. Ia mengatakan tambahan pasukan dibutuhkan “to guarantee the inviolability of the frontier and citizen safety”.
Pedagang dan warga ikut tertekan
Masalahnya bukan cuma di pagar perbatasan. Sejak Rabu, Vivas sudah memperingatkan bahwa pusat penerimaan migran kewalahan dan ratusan orang tidur di jalanan. Banyak toko lokal juga ditutup.
Enrique Serrano, pemilik toko pakaian perempuan di pusat Ceuta, mengatakan para pemilik usaha mulai mengatur diri untuk melindungi properti dan keluarga karena mereka menilai sumber daya polisi tidak akan cukup. “I’m not opening this afternoon because the situation is extremely tense … The first thing I have to do is protect my business and my family,” ujarnya kepada Reuters.
Ia menambahkan, ketika pagar ditembus setelah tengah malam, ratusan migran berlari masuk hanya dalam hitungan menit. Bagi warga dan pelaku usaha, itu berarti malam yang panjang. Bagi pemerintah, itu sinyal bahwa krisis perbatasan sudah menekan ruang kota sekecil Ceuta.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengatakan aturan keadaan darurat nasional tidak menganggap arus migrasi sebagai risiko keamanan nasional. Meski begitu, kementerian menegaskan lembaga-lembaga pemerintah sedang berkoordinasi untuk merespons situasi di Ceuta dengan cepat dan efektif.
Kementerian juga menyebut pemerintah Maroko “closely cooperating” dengan Spanyol, termasuk lewat polisi Maroko yang menahan “numerous people” yang mencoba menyeberang.
Di sisi politik, keputusan Mahkamah Agung Spanyol awal bulan ini yang melarang pengembalian cepat migran yang dicegat di laut ke Ceuta atau Melilla ikut membayangi lonjakan terbaru ini.
Seorang juru bicara Civil Guard mengatakan, “It has been a slow trickle since the Supreme Court’s ruling, but today has been an explosion.”
Pemerintah sosialis Spanyol selama ini dikenal lebih ramah terhadap migran di Eropa. Bulan ini, Madrid juga meluncurkan program untuk memberi status legal kepada sekitar 500.000 migran tak berdokumen, sementara jumlah aplikasi yang masuk disebut dua kali lipat dari angka itu.
Di kubu lawan, partai-partai kanan langsung menyerang Perdana Menteri Sánchez dan menuduh kebijakannya memancing lebih banyak migran ke Spanyol. Di Ceuta sendiri, semua mata kini tertuju pada kedatangan Sánchez dan Menteri Dalam Negeri pada Jumat, saat pasukan tambahan sudah disiapkan di garis yang disebut pejabat setempat sebagai perbatasan yang ambruk.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.