GLASGOW — Final lari 200 meter putri di Glasgow menyisakan atmosfer dingin yang kentara. Usai Adaejah Hodge dipastikan meraih medali emas dengan catatan waktu 22,07 detik, tidak ada pelukan hangat atau jabat tangan yang biasanya mewarnai sportivitas di lintasan atletik. Pemandangan ini memicu tanda tanya besar di kalangan penggemar olahraga.
Bintang lari asal Australia, Torrie Lewis, menjadi salah satu sosok yang terang-terangan menolak berinteraksi dengan Hodge. Lewis, yang finis di posisi keenam pada laga tersebut, mengaku tidak terkejut melihat absennya momen keakraban antar atlet.
Meski ia enggan membeberkan detail secara gamblang karena adanya batasan untuk berbicara, ia mengisyaratkan ketegangan yang sudah berlangsung cukup lama.
“Saya tidak terkejut tidak ada yang menjabat tangannya dan saya tidak seharusnya mengatakan lebih dari itu. Saya diminta untuk tidak berkata apa-apa. Saya ingin sekali bicara, tapi saya tidak diperbolehkan,” ungkap Lewis seperti dilaporkan sumber media internasional.
Jejak Kasus Doping 2024
Ketegangan ini berakar pada insiden tahun 2024. Hodge, pelari asal British Virgin Islands, sebelumnya pernah dinyatakan positif menggunakan zat terlarang GW1516 atau dikenal sebagai Cardarine dalam sampel yang diambil saat Kejuaraan Dunia U-20 di Lima. Zat tersebut berfungsi meningkatkan metabolisme lemak dan adaptasi latihan.
Investigasi oleh Athletics Integrity Unit mengungkap bahwa Hodge mengklaim zat tersebut tertelan secara tidak sengaja. Penjelasan dan bantuan signifikan yang diberikan Hodge membuat sanksi larangan berkompetisi miliknya dipotong selama tujuh bulan.
Hal ini memungkinkannya kembali berlomba sejak Januari dan tampil di Glasgow, meski sebelumnya Torrie Lewis sempat dinyatakan sebagai peraih medali emas resmi dalam perlombaan di Lima pada Agustus 2024 karena sanksi tersebut.
Respons Hodge Terhadap Dinginnya Lintasan
Menanggapi sikap dingin dari para rivalnya, Adaejah Hodge memilih untuk tidak ambil pusing. Baginya, prioritas utamanya di Glasgow adalah membuktikan kemampuannya secara murni di atas lintasan. Ia menegaskan bahwa dirinya bekerja ekstra keras untuk menunjukkan kepada publik bahwa ia tidak memerlukan bantuan zat terlarang untuk berprestasi.
“Ini adalah kompetisi. Semua orang di sini punya tujuan untuk menang. Jika Anda ingin menjabat tangan saya, silakan. Jika tidak, ya tidak apa-apa,” ujar Hodge. Ia menambahkan bahwa dirinya akan tetap bersikap sportif kepada seluruh peserta karena semua orang telah berjuang keras untuk sampai ke level tertinggi.
Di sisi lain, Torrie Lewis tetap menjaga interaksi hangat dengan pelari lainnya di final tersebut. Baginya, suasana dingin hanya tertuju pada satu nama, sementara dengan atlet lain, ia merasa semuanya tetap berjalan wajar dan penuh rasa hormat. Fenomena ini menjadi pengingat betapa panjang dampak dari pelanggaran aturan terhadap kepercayaan sesama atlet di dunia profesional.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.