WASHINGTON — perlucutan senjata Hamas kembali jadi pusat perhatian setelah Presiden Donald Trump pada Jumat menegaskan kelompok itu sudah sepakat menyerahkan senjata dan melepas kendali atas Gaza kepada pemerintahan Palestina yang baru. Trump menyebut langkah itu sebagai tonggak penting dalam upaya yang sudah lama mandek untuk mengakhiri perang di wilayah tersebut.
Namun, kesepakatan itu belum berdiri kokoh. Hamas mengatakan baru akan mulai melucuti senjata jika Israel menghentikan seluruh operasi militernya di Gaza, sementara pejabat Israel menyambutnya dengan nada ragu dalam sejumlah wawancara pada Jumat. Proses ini langsung memunculkan pertanyaan: apakah kesepakatan benar-benar jalan, atau justru kembali tersendat di fase paling krusial.
Trump sebut Israel puas, Hamas minta syarat dipenuhi
Trump awalnya mengumumkan kesepakatan itu lewat unggahan di Truth Social pada Kamis malam. Dalam pernyataannya, ia menyebut perlucutan senjata Hamas akan diikuti penarikan pasukan Israel dan kerja sama dengan International Stabilization Force bersama kepolisian Palestina yang baru untuk menjaga keamanan Gaza.
Di pertemuan kabinet pada Jumat di Camp David, Maryland, Trump mengakui implementasi kesepakatan itu bisa naik-turun. “It’s a very complex situation over there,” kata Trump. “The people are very complex and difficult.” Ia juga menambahkan bahwa Israel “very happy” dengan kesepakatan itu.
Trump kemudian mengatakan Board of Peace akan menerima senjata Hamas saat kelompok itu menyerahkannya. Badan ini dibentuk pemerintahan Trump tahun lalu untuk mengawasi pembicaraan dengan Hamas dan Israel mengenai masa depan Gaza.
Isi rencana 15 poin dan taruhannya bagi Gaza
Rencana yang disetujui pada Kamis itu disebut memuat roadmap 15 poin. Isinya mencakup keamanan, tata kelola, rekonstruksi, pengerahan pasukan penjaga perdamaian internasional, dan penarikan Israel. Menurut laporan The Independent, rencana ini juga dikaitkan dengan usulan yang lebih luas untuk mengakhiri perang di Gaza.
Hamas, menurut pernyataan Jumat, menyatakan pendekatannya terhadap proposal itu dengan “responsibility and positivity”. Kelompok ini bahkan menyetujui pelucutan bertahap sejumlah persenjataan, termasuk police weapons, heavy weapons, military production sites, weapons depots and tunnels, personal weapons and the weapons of militias.
Tapi ada syarat besar yang menyertai. Hamas mengaitkannya dengan penghentian serangan Israel, penarikan pasukan dari enklaf, dan pembentukan negara Palestina merdeka. Bagi pemerintah Israel, dua poin terakhir itu masih jauh dari kata dapat diterima.
Di titik ini, yang dipertaruhkan bukan cuma senjata. Masa depan pemerintahan Gaza, posisi keamanan Israel, dan bentuk otoritas Palestina ke depan ikut bergantung pada apakah tahap awal kesepakatan benar-benar berjalan. Bila satu bagian macet, seluruh skema bisa ikut berhenti.
Kekhawatiran Israel belum reda
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum memberi komentar pada Jumat sore, tetapi sejumlah pejabat Israel sudah lebih dulu menyuarakan keraguan. Seorang pejabat senior Israel yang dikutip Times of Israel menegaskan tidak akan ada penarikan IDF dari current Yellow Line tanpa perlucutan senjata Hamas yang sungguh-sungguh.
Garis itu merujuk pada batas tempat pasukan Israel mundur berdasarkan kesepakatan gencatan senjata. Saat kesepakatan berlaku pada Oktober 2025, garis tersebut mencakup sekitar 53% Gaza. Namun, menurut pejabat Israel yang dikutip sumber-sumber pembanding, garis itu telah bergeser ke barat dan Israel ingin menguasai 70% wilayah Gaza.
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mengatakan kepada CNN pada Jumat bahwa Israel perlu memverifikasi tindakan Hamas, “not what they are saying.” Ia juga menegaskan, “Disarmament means the weapons are out of Gaza,” sambil menyebut gagasan negara Palestina “not on the table.”
Penolakan paling keras datang dari Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir. Lewat Telegram, tokoh garis keras itu menyebut kesepakatan tersebut “unacceptable” dan menilai penghentian serangan Israel hanya akan memberi ruang bagi Hamas untuk membangun diri kembali.
“The assassinations in Gaza must continue, the encouragement of [Palestinian] emigration [from the enclave] must happen. Israel must win,” tulisnya.
Uji coba besar untuk Board of Peace
Kesepakatan ini juga jadi ujian awal bagi Board of Peace. Badan itu tidak hanya ditugaskan mengawal perlucutan senjata Hamas, tetapi juga mengatur penarikan pasukan Israel, pengerahan pasukan stabilisasi internasional, dan transisi ke pemerintahan sipil Palestina.
The Independent melaporkan bahwa lebih dari dua dozen nations menjadi anggota pendiri board tersebut, termasuk Israel serta negara-negara kawasan dan beberapa negara di luar Timur Tengah seperti Indonesia, Paraguay, dan Vietnam. Sementara itu, Germany, Italy, Norway, Switzerland and the United Kingdom disebut berada di luar keanggotaan pendiri, meski ikut terlibat dalam proses pembahasan.
Trump sendiri mengaitkan kesepakatan Gaza itu dengan strateginya di Timur Tengah secara lebih luas. Ia menyebut keberhasilan mendorong Hamas melucuti senjata sebagai bukti pendekatannya terhadap Iran akan berhasil, meski pada saat yang sama ia mengakui situasi di sana juga rumit dan belum punya garis waktu yang jelas.
“Nobody thought that it would be possible to disarm Hamas,” kata Trump. “That shows you how much success we’re having with Iran, because if you went four months ago or five months ago, a deal like that would have been impossible,” ujarnya. Di saat bersamaan, ia juga mengakui dirinya sedang “losing faith” pada para pemimpin Iran karena, menurut dia, mereka berbohong.
Trump menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa implementasi kesepakatan akan tetap berjalan, meski tidak mulus. “We’re in for five months, and we have obliterated their military capacity,” katanya. “Again, they’ve got some left, but soon they won’t have some left.”
Dengan Hamas meminta penghentian serangan lebih dulu dan Israel menuntut perlucutan senjata yang bisa diverifikasi, titik tekan berikutnya ada pada apakah Board of Peace mampu memaksa kedua pihak bergerak pada arah yang sama, bukan hanya di atas kertas, tapi juga di lapangan Gaza yang masih rapuh.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.