JAKARTA — uang Gen Z terlihat dikelola dengan cara yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya.
Di Australia, data NAB Wellbeing Survey Q1 2026 menunjukkan anak muda usia 18-29 punya niat menabung paling tinggi, sementara laporan ASIC Moneysmart Gen Z Financial Behaviours Report 2026 menggambarkan bagaimana mereka juga hidup di tengah pembayaran digital, iklan online, dan arus saran finansial dari internet.
Gambaran itu tidak datang dari angka saja. Cerita para anak muda seperti Liam, Hugo, Bree, dan Evelynn menunjukkan bahwa kebiasaan finansial mereka dibentuk oleh rumah, sekolah, serta kebiasaan sehari-hari yang serba cepat memicu pengeluaran.
Uang Gen Z, tabungan tinggi tapi tekanan juga besar
Liam mengaku tidak pernah diajari cara mengatur uang. Saat menerima gaji pertama di usia 16 tahun, ia justru kesulitan mempertahankannya. Pengeluaran kecil berkembang jadi kebiasaan yang lebih besar, dari makan steak di restoran sampai belanja online, konsol gim, dan takeaway.
Ia tumbuh di rumah dengan kondisi keuangan yang tidak stabil. Uang jarang dibicarakan. Karena itu, saat gajinya cepat habis, Liam merasa sedang mengulang pola lama yang dulu ia saksikan sendiri. Selama enam bulan, ia sengaja mengubah kebiasaan. Hasilnya cukup terasa: hampir $10,000 berhasil ia simpan di bank.
Data NAB memperlihatkan dorongan menabung itu bukan kasus tunggal. Di kelompok Gen Z, 94 per cent perempuan mencoba menabung, sementara pada laki-laki angkanya 93 per cent. Keduanya berada di atas rata-rata nasional Australia yang sebesar 81 per cent.
Angka itu memberi sinyal penting. Generasi muda ini bukan enggan menyimpan uang. Mereka justru ingin menabung. Masalahnya, jalan menuju tabungan sering berhadapan dengan godaan yang sangat mudah diakses. Sekali sentuh. Langsung bayar.
Dari rumah, sekolah, sampai media sosial
Hugo, yang bekerja paruh waktu di supermarket, memakai sebagian besar gajinya untuk modifikasi mobil. Ia belajar soal uang lewat coba-coba. “I sort of just started saving after realising I had no money left,” katanya. Orang tuanya mendorong kebiasaan menabung, tetapi membiarkannya mengelola sendiri uangnya. Sekarang ia merasa lebih baik soal uang, meski masih cemas memikirkan masa depan.
Bree punya pola lain. Ia menghabiskan penghasilannya untuk paket data ponsel dan makanan, sesekali membeli musik atau hadiah. Ia menabung untuk membeli mobil. “I only spend what I know I can afford based on my shifts,” ujarnya. Orang tuanya mengajarinya membuat anggaran dari catatan keuangan keluarga. “They really wanted us to learn from their mistakes.”
Ibunya bahkan bisa melihat rekeningnya, tetapi tidak mengendalikannya. Bree berharap bisa membeli rumah suatu hari, walau ia sadar pasar saat ini membuat target itu terasa berat. Evelynn, yang mendapat uang dari busking, juga punya pola serupa. Ia memakai sebagian besar penghasilannya untuk bersosialisasi dengan teman. Uang ada. Tapi pengelolaannya masih terasa rumit.
“I feel like managing money is really stressful. I don’t think most kids are very well educated on money,” kata Evelynn. Ia sempat mencari saran daring seperti, “How do I save money faster?”, namun merasa tak pernah mendapat jawaban yang benar-benar membantu.
Kenapa uang Gen Z makin sulit diatur
Di sinilah letak perubahan besar. Alyssia Kennedy, 29, yang menjalankan program Life After School, rutin datang ke sekolah-sekolah di Tasmania untuk mengajarkan keterampilan uang yang tak banyak didapat siswa di kelas maupun di rumah. Materinya mencakup pajak, hak kerja, dan anggaran belanja.
“So many schools are reaching out saying, ‘We need your help because we as teachers don’t know these things either.’” kata Kennedy. Menurutnya, jurang pengetahuan ini bersifat antargenerasi. Orang yang kini berusia 50-an dan 60-an masih sempat mendapat pelajaran finansial dari orang tua atau sekolah. Kurikulum sekarang sudah banyak berubah.
Ia melihat ada celah pada keluarga yang orang tuanya berusia 40-an ke bawah. “Some parents want to know how to have these conversations, while others don’t have the knowledge themselves.” Akibatnya, diskusi soal uang di rumah tidak selalu berjalan mulus. Ada yang mau bicara. Ada yang bingung harus mulai dari mana.
Kennedy juga menyoroti perubahan cara anak muda berbelanja. Menurutnya, barang yang dibeli Gen Z sebenarnya tidak berubah drastis. Yang berubah adalah kemudahan mengaksesnya. Pembayaran tap-and-go, layanan buy now, pay later, iklan online, dan aliran rekomendasi di media sosial membuat uang lebih mudah keluar tanpa terasa.
Soal ini penting bukan cuma untuk Australia. Di Indonesia, pola yang sama juga terasa akrab: pembayaran digital makin cepat, promosi muncul di mana-mana, dan saran finansial beredar dari akun-akun yang tak selalu punya pengawasan jelas. Uang Gen Z jadi soal literasi, bukan semata soal besar kecilnya penghasilan.
Siapa yang dipercaya Gen Z saat cari saran uang
Ketika pendidikan finansial tidak konsisten, banyak anak muda mencari jawaban dari platform digital. ASIC Moneysmart Gen Z Financial Behaviours Report 2026 mencatat 63 per cent Gen Z memakai media sosial untuk mencari panduan finansial. Sebanyak 52 per cent mempercayai finfluencer, dan 64 per cent percaya platform AI.
Hampir satu dari empat memiliki kripto, dan 29 per cent mengatakan mereka bertransaksi berdasarkan rekomendasi media sosial atau influencer. Namun, data itu tidak menggambarkan Gen Z sebagai generasi yang sembrono. Sebanyak 60 per cent juga memakai sumber profesional untuk saran finansial, sementara setengahnya bertumpu pada keluarga dan teman.
Artinya, anak muda tidak berhenti mencari informasi. Mereka hanya mencarinya di tempat yang berbeda. Masalahnya, platform digital sering berjalan dengan algoritma yang menyaring apa yang mereka lihat. Konten yang muncul belum tentu yang paling akurat. Yang paling ramai sering justru yang paling cepat terserap.
Di titik ini, cerita Liam memberi konteks yang lebih jelas. Setelah menyadari uangnya cepat habis, ia memilih menyimpan sebagian besar gajinya dalam bentuk tunai agar tidak mudah diakses lewat pengeluaran digital. Ia memasak makanan murah dan memperbaiki barang alih-alih menggantinya.
“I realised that if I put a majority of it away in cash, it built up really quickly,” katanya. Hampir $10,000 yang terkumpul kemudian ia pakai untuk membeli mobil, membayar liburan, dan membantu dirinya pindah dari rumah.
Langkah berikutnya, menurut para pendidik keuangan seperti Kennedy, ada di sekolah dan rumah: bagaimana membuat percakapan tentang uang jadi jauh lebih rutin sebelum kebiasaan digital keburu mengambil alih.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.