BANDUNG — Ancaman keterlambatan bicara atau speech delay pada anak kini menjadi perhatian serius bagi tenaga medis. Kondisi ini bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan sinyal bahaya yang berpotensi memicu efek domino, mulai dari gangguan fokus belajar hingga hambatan perkembangan secara menyeluruh pada buah hati.
Stephanie Supriadi, Dokter Spesialis Anak di Mayapada Hospital Bandung, mencatat adanya tren peningkatan kasus speech delay pascapandemi COVID-19.
Pemicu utamanya sering kali berkaitan dengan paparan gawai yang berlebihan tanpa adanya interaksi dua arah, terutama pada balita berusia di bawah dua tahun.
Menurutnya, orang tua harus lebih jeli mengenali tanda bahaya perkembangan bahasa anak sejak dini agar tindakan medis dapat diambil secara optimal.
Evaluasi klinis menjadi sangat krusial saat anak menginjak usia 9 bulan. “Saat usia 9 bulan anak sudah bisa babbling atau tidak. Kalau anak belum bisa babbling dan juga belum bisa menoleh saat dipanggil, itu harus langsung dibawa ke rumah sakit,” ungkap Stephanie.
Sebagai indikator lanjut, anak berusia 15 bulan idealnya sudah mampu mengucapkan satu kata spesifik, dan saat memasuki usia 2 tahun, mereka diharapkan sudah bisa mengombinasikan dua kata dalam satu rangkaian kalimat.
Waspada Gejala Penyerta
Keterlambatan bicara sering kali tidak muncul sebagai kondisi tunggal. Stephanie menjelaskan bahwa keterlambatan ini terkadang disertai gejala klinis lain, seperti perilaku hiperaktif yang berlebihan atau kecenderungan menyakiti diri sendiri.
Dokter akan melakukan evaluasi komprehensif, mulai dari pemeriksaan fisik hingga tes fungsi pendengaran yang merupakan syarat mutlak kemampuan bicara.
Selain itu, kondisi ini juga bisa berkaitan dengan evaluasi lebih lanjut terhadap risiko autisme maupun Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Dalam mencegah hal ini, Stephanie menyarankan agar pemberian gawai dibatasi ketat. Ia menekankan bahwa anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak terpapar screen time sama sekali. Peran orang tua menjadi kunci paling efektif melalui stimulasi dan interaksi langsung di rumah setiap harinya.
Upaya ini sejalan dengan pandangan para ahli bahwa masa lima tahun pertama kehidupan merupakan periode emas bagi anak.
Eddy Fadlayana, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial, menambahkan bahwa pemantauan rutin sangat menentukan kualitas masa depan anak. Dengan deteksi dini, intervensi yang tepat dapat diberikan sesuai kebutuhan spesifik anak.
Hal ini selaras dengan fokus pemantauan tumbuh kembang yang tidak hanya bertumpu pada berat badan, tetapi juga pada aspek kognitif dan perilaku.
Pentingnya pemantauan ini juga diamini oleh praktisi kesehatan lainnya. Jeven Reggie, Dokter Spesialis Anak, dalam forum kesehatan anak menekankan bahwa meskipun angka stunting nasional telah menunjukkan penurunan, tantangan tumbuh kembang anak masih memerlukan perhatian ekstra.
Nutrisi yang seimbang, kedekatan emosional, serta stimulasi yang tepat merupakan fondasi agar setiap tahapan perkembangan berjalan sesuai usia. Keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi 1.000 Hari Pertama Kehidupan tetap menjadi penentu utama kualitas kesehatan anak di masa depan.
Untuk mendukung pelayanan yang lebih terintegrasi, fasilitas kesehatan seperti Mayapada Hospital Bandung kini memperkuat layanan Pediatric Center.
Fasilitas ini menyediakan ruang rawat inap khusus anak, unit gawat darurat (IGD) yang terpisah dari pasien dewasa, serta penggunaan teknologi vein finder untuk mempermudah pemasangan infus tanpa trauma.
Dukungan tim multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis hingga konsultan neuro pediatrik diharapkan mampu mendampingi kebutuhan anak secara komprehensif.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.