Jali menilai tren itu belum akan berhenti dalam waktu dekat. Ia memperkirakan keamanan akan terus naik menjadi salah satu faktor utama dalam memilih material bangunan, berdampingan dengan kualitas, fungsi, dan nilai estetika.
“Ke depan, keamanan dinilai akan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan pilihan material bangunan, berdampingan dengan kualitas, fungsi dan nilai estetika,” katanya.
Di sisi lain, perhatian soal keselamatan rumah juga mendapat penegasan dari bidang kesehatan. Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr. Muhadi mengatakan kegawatdaruratan pada lansia dapat dipicu faktor lingkungan yang kurang mendukung, seperti pencahayaan yang kurang baik atau permukaan lantai licin.
Ia mencontohkan bahwa keluarga yang hidup bersama lansia perlu memperhatikan faktor eksternal dan internal di rumah. “Jadi seharusnya mereka (para pendamping) yang bersama hidup dengan lansia harus memperhatikan faktor-faktor eksternal dan internal. Nah kita perbaiki faktor-faktor eksternal, internalnya,” tutur dia.
Itu sebabnya, pergeseran preferensi konsumen ke material bangunan yang lebih aman bukan sekadar tren desain. Bagi banyak keluarga, pilihannya makin sederhana: lantai harus tetap enak dipandang, tapi jangan sampai licin ketika basah.
Dan di pasar, sinyalnya sudah mulai jelas. Keramik dengan daya cengkeram lebih baik makin dicari, sementara percakapan soal keamanan rumah perlahan bergeser dari ruang konsultasi ke meja belanja.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.