Selasa, 4 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Keseringan Nonton TV Bisa Bikin Otak Menyusut, Benarkah?

Keseringan Nonton TV Bisa Bikin Otak Menyusut, Benarkah?
Keseringan Nonton TV Bisa Bikin Otak Menyusut, Benarkah?

JAKARTA — nonton TV terlalu sering ternyata dikaitkan dengan penyusutan beberapa bagian otak dalam studi terbaru yang mengamati lebih dari 1.700 orang dewasa. Temuan ini muncul dari penelitian yang dipublikasikan di Alzheimer’s & Dementia: Journal of the Alzheimer’s Association, lalu dilaporkan Prevention.

Yang dipelajari bukan sekadar kebiasaan duduk di depan layar. Para peneliti menanyakan seberapa sering peserta menonton televisi saat waktu luang dan berapa lama mereka duduk saat bekerja, lalu sekitar 20 tahun kemudian mereka memindai otak peserta dengan MRI untuk melihat perubahan yang terjadi.

Nonton TV dan kaitannya dengan otak

Hasilnya menarik, sekaligus bikin waspada. Peserta yang mengaku sangat sering menonton TV saat waktu luang memiliki volume yang lebih kecil di beberapa area otak yang berkaitan dengan tanda awal penyakit Alzheimer.

Mereka juga memiliki lebih banyak white matter hyperintensities, yaitu perubahan pada jaringan otak yang selama ini dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan demensia. Dua temuan itu membuat kebiasaan santai di depan televisi tak lagi terlihat sesederhana hiburan sore atau malam hari.

Peneliti juga mencatat ukuran lobus frontal dan lobus oksipital cenderung lebih kecil pada kelompok ini. Lobus frontal berperan dalam kemampuan merencanakan sesuatu, mengambil keputusan, dan mengendalikan perilaku. Lobus oksipital memproses informasi visual.

Studi ini belum membuktikan sebab-akibat

Meski begitu, peneliti menegaskan studi ini tidak membuktikan menonton TV otomatis menyebabkan otak menyusut. Yang ditemukan adalah hubungan antara kebiasaan tersebut dan perubahan struktur otak, bukan vonis sebab-akibat.

Ini poin penting. Soalnya, hasil semacam ini sering mudah disederhanakan menjadi larangan total, padahal data yang ada belum sampai ke sana. Studi ini baru memberi sinyal bahwa pola duduk pasif yang panjang patut diperhatikan, terutama jika berlangsung rutin dalam jangka waktu lama.

Analisis berdasarkan jenis kelamin juga menunjukkan hal yang menarik. Rekan peneliti Natan Feter mengatakan hubungan antara kebiasaan menonton TV dan perubahan struktur otak terlihat lebih kuat pada pria dibandingkan wanita.

“Hal ini bisa jadi karena pria dan wanita menghabiskan waktu duduk dengan cara yang berbeda. Misalnya, wanita mungkin lebih sering menyela waktu duduk mereka, atau karena adanya perbedaan biologis dalam cara otak merespons perilaku sedentari yang berlangsung lama,” ujarnya kepada ScienceAlert.

Ia menambahkan faktor hormon, gaya hidup, hingga perbedaan proses penuaan otak juga kemungkinan ikut berperan. Jadi, data ini tidak berdiri di satu penjelasan tunggal. Ada beberapa lapisan yang masih perlu diteliti.

Kenapa kebiasaan ini jadi perhatian

Konteksnya sederhana tapi relevan. Televisi umumnya tidak menuntut keterlibatan mental yang tinggi. Berbeda dengan membaca, mempelajari keterampilan baru, bekerja, atau bahkan menggunakan komputer untuk memecahkan masalah, menonton televisi sering kali hanya membutuhkan sedikit keterlibatan mental secara aktif.

Menurut Ketua Departemen Neurologi Tufts Medical Center, Soma Sengupta, kurangnya stimulasi kognitif dapat membuat jaringan otak yang berperan dalam perencanaan, memori, dan perhatian menjadi kurang terlatih. Kutipan ini memberi gambaran kenapa kebiasaan yang tampak ringan bisa punya kaitan dengan kesehatan otak dalam jangka panjang.

Bagi pembaca, dampaknya bukan berarti televisi harus dihapus dari daftar hiburan. Yang berubah justru cara memandang durasi dan polanya. Saat waktu luang habis berjam-jam hanya untuk duduk diam, otak tidak mendapat rangsangan yang sama seperti saat bergerak, membaca, atau melakukan aktivitas yang menuntut fokus.

Karena itu, para ahli dalam bahan ini sepakat hasil penelitian masih perlu dilanjutkan. Namun, pesan praktisnya sudah cukup jelas: menonton TV boleh saja menjadi pelepas penat, asal tidak berlebihan dan tetap diimbangi dengan bergerak aktif serta melakukan aktivitas yang menstimulasi pikiran agar kesehatan otak tetap terjaga.

Di titik itu, televisi tetap bisa jadi teman santai. Tapi kalau durasinya terus memakan waktu luang tanpa jeda, bagian otak yang berhubungan dengan memori, perhatian, dan perencanaan bisa saja mendapat beban yang tak kecil.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda