Selasa, 4 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Waspada, Tekanan Darah Tinggi Jadi Sinyal Bahaya buat Ginjal! Ini Ciri-cirinya

Tekanan darah tinggi dan risiko kerusakan ginjal
Tekanan darah tinggi bisa merusak fungsi penyaringan ginjal tanpa gejala awal yang jelas. (Ilustrasi: AI)

Tes rutin yang sering dilewatkan

Dr Gupta menyarankan pengidap tekanan darah tinggi melakukan tes fungsi ginjal dasar dan pemeriksaan urine rutin setahun sekali. Pemeriksaan itu, katanya, sederhana karena hanya membutuhkan sampel darah dan urine. Namun, justru sering dilewati.

Masalahnya, tekanan darah yang sudah terkontrol lewat obat tidak otomatis menghapus risiko kerusakan ginjal. Ini terutama berlaku bila hipertensi sudah dialami bertahun-tahun sebelum akhirnya terdiagnosis. Jadi, kontrol tensi saja belum cukup.

Di titik inilah banyak orang lengah. Angka tekanan darah terlihat membaik, lalu pemeriksaan lain ditunda. Padahal, ginjal bisa saja sudah menanggung beban sejak lama. Diam-diam.

Garam dan beban kerja ginjal

Selain pemeriksaan medis, pengendalian asupan natrium atau garam juga jadi kunci menjaga kesehatan ginjal. Garam tidak selalu terasa asin. Ia bisa bersembunyi di bumbu instan, makanan kemasan, saus, sampai makanan siap saji.

Dr Gupta menegaskan, “Asupan garam yang tinggi tidak hanya meningkatkan tekanan darah, tetapi juga memberikan beban kerja ekstra pada ginjal untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.”

Pesan ini penting karena kebiasaan makan sehari-hari sering tampak sepele. Banyak orang merasa sudah berhati-hati, padahal natrium datang dari sumber yang tidak selalu kentara di lidah. Membaca label kemasan jadi langkah sederhana yang dampaknya besar.

Bukan soal membuat makanan hambar. Yang dicari adalah pola makan yang lebih sadar. Mengurangi produk olahan tinggi natrium membantu ginjal bekerja lebih ringan, sementara tekanan darah juga lebih mudah dijaga stabil.

Kenapa isu ini penting untuk pembaca Indonesia

Dampaknya nyata. Tekanan darah tinggi tidak hanya mengancam jantung, melainkan juga bisa memicu biaya pemeriksaan, pengobatan, dan pemantauan ginjal yang berulang jika kerusakan sudah telanjur berjalan. Itu sebabnya, pesan soal deteksi dini jauh lebih murah dibanding menunggu kondisi memburuk.

Dalam kehidupan harian, risiko paling dekat justru datang dari kebiasaan yang dianggap biasa: makanan olahan, saus, makanan siap saji, dan pola makan tinggi garam. Bila hipertensi sudah ada, kombinasi itu bisa memberi beban ganda. Jantung bekerja keras, ginjal ikut tertekan.

Dunia medis menyebut keterkaitan ini sebagai koneksi kardiorenal, yakni hubungan erat antara sistem kerja jantung dan ginjal. Karena itu, menjaga tekanan darah tetap stabil bukan hanya untuk satu organ. Ginjal pun ikut terlindungi.

Langkah berikutnya ada pada pemantauan yang konsisten. Saat tensi naik-turun, pemeriksaan ginjal dasar dan urine sekali setahun bisa menjadi pagar awal sebelum kerusakan meluas. Dan bila ada perubahan pada tubuh yang terasa kecil, itulah saatnya bergerak lebih cepat.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda