Rabu, 5 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Dukung Pendidikan Berkualitas, Gagas Program Inventarisasi Sekolah 3T

Suasana sekolah di daerah 3T sebagai fokus program inventarisasi pendidikan
Generasi Emas Institute berkomitmen memperkuat kualitas pendidikan nasional melalui pemetaan sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. (Ilustrasi: AI)

Anak-anak di pelosok negeri selama ini seringkali hanya bisa bermimpi memiliki ruang kelas yang layak. Atap bocor, kursi reyot, hingga minimnya buku bacaan menjadi pemandangan harian yang belum tersentuh solusi permanen.

Kondisi itulah yang memicu Generasi Emas Institute bergerak meluncurkan program Inventarisasi Sekolah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) untuk memetakan kebutuhan pendidikan langsung dari sumbernya di lapangan.

Peluncuran program ini secara resmi diumumkan di Jakarta, Selasa (4/8/2026). Langkah ini bukan sekadar pendataan administratif, melainkan upaya serius untuk memotret realita pendidikan di garda terdepan wilayah Indonesia. Mereka ingin memastikan bahwa setiap sekolah di lokasi terjauh memiliki data yang akurat agar bantuan pemerintah maupun pihak swasta benar-benar tepat sasaran.

Kolaborasi Lintas Sektor

Founder Generasi Emas Institute, Pangeran Mangkubumi, melihat pendidikan sebagai pondasi peradaban, bukan sekadar urusan guru dan murid. Ia menekankan bahwa investasi masa depan bangsa terletak pada kualitas ruang kelas di setiap jengkal wilayah Indonesia. Pangeran percaya, membangun sekolah di pelosok adalah tanggung jawab kolektif yang tak bisa hanya dibebankan kepada negara.

Pangeran memaparkan bahwa pihaknya akan turun langsung ke lapangan. Mereka menyisir sekolah mana saja yang paling mendesak untuk dibantu. Setelah data terkumpul, hasilnya akan diolah menggunakan skema pentahelix. Model ini melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, serta media untuk saling menutup celah kebutuhan yang selama ini terabaikan.

Ide besar ini sebenarnya sudah digodok matang sebelum diumumkan. Sehari sebelumnya, Senin (3/8/2026), diskusi intensif digelar dalam forum Focus Group Discussion (FGD) di Kota Malang, Jawa Timur. Tema yang diangkat cukup berat namun mendesak: Bonus Demografi dan Masa Depan Demokrasi Indonesia.

Peserta diskusi pun sepakat bahwa tantangan bonus demografi hanya bisa dijawab jika kualitas pendidikan merata dari kota besar hingga desa paling terpencil.

Mengejar Ketertinggalan

Ketimpangan kualitas pendidikan antara perkotaan dan pelosok memang masih lebar. Banyak orang khawatir, jika disparitas ini tak segera ditekan, bonus demografi justru akan menjadi beban bagi ekonomi nasional alih-alih menjadi motor penggerak. Tanpa akses pendidikan yang layak, potensi jutaan anak muda di daerah 3T terancam tersia-siakan.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda