JAKARTA — Rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026, saat harga minyak mentah kembali naik dan risiko geopolitik memanas. Di pasar spot, mata uang Garuda dibuka turun 0,23 persen ke level Rp17.803 per dolar AS.
Tekanan itu datang setelah rupiah sebelumnya sempat menguat. Kini, pasar kembali menghitung premi risiko dari lonjakan energi dan ketidakpastian global.
Rupiah melemah setelah minyak sentuh sekitar US$87 per barel
Berdasarkan data perdagangan, rupiah pada pembukaan tercatat melemah 40 poin atau 0,23 persen menjadi Rp17.795 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.755 per dolar AS. Di saat yang sama, pada perdagangan spot Selasa pagi, rupiah dibuka di Rp17.803 per dolar AS.
Perbedaan angka pembukaan itu menunjukkan ada variasi acuan di pasar yang sama. Namun arahnya seragam: rupiah bergerak di zona merah.
Salah satu pemicu utamanya adalah harga minyak mentah yang telah mencapai sekitar US$87 per barel. Kenaikan ini tidak berdiri sendiri. Pasar ikut menimbang memanasnya situasi geopolitik setelah serangan drone terhadap kilang minyak di wilayah barat Libya baru-baru ini.
Serangan itu menghancurkan sebuah tangki penyimpanan minyak. Dampaknya langsung terasa pada persepsi risiko pasokan, terutama karena Libya adalah salah satu anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC.
Dampaknya ke pasar: biaya impor dan sentimen risiko ikut tertekan
Lonjakan harga minyak memberi tekanan tambahan ke rupiah karena pasar melihat ada kemungkinan beban impor energi makin berat. Saat harga minyak naik, mata uang negara pengimpor energi cenderung lebih sensitif karena investor menghitung potensi tekanan terhadap neraca perdagangan dan perekonomian.
Itu sebabnya, penguatan minyak sering kali langsung merambat ke pasar valuta asing. Cepat. Tajam. Dan tidak selalu lama, tetapi cukup untuk menggerakkan kurs dalam pembukaan perdagangan.
Dalam konteks hari ini, rupiah juga bergerak berlawanan dengan mayoritas mata uang Asia yang justru menguat, meski tipis. Won Korea Selatan naik 0,17 persen, yen Jepang menguat 0,1 persen, dolar Taiwan naik 0,07 persen, sedangkan dolar Singapura dan baht Thailand masing-masing menguat 0,02 persen.
Situasi itu menegaskan rupiah bukan sedang bergerak sendirian, melainkan bereaksi terhadap kombinasi faktor global yang sedang menekan aset berisiko. Pasar masih sensitif terhadap perubahan harga energi, terutama ketika tensi geopolitik ikut memanas.
Penguatan kemarin belum cukup menahan tekanan pagi ini
Sebelumnya, rupiah sempat mendapat sentimen positif dari dalam negeri, terutama kepastian mengenai calon Gubernur Bank Indonesia (BI). Sentimen itu membantu mata uang Garuda menguat pada perdagangan sebelumnya.
Namun dorongan domestik itu belum cukup kuat menahan tekanan dari luar negeri pada pembukaan Selasa pagi. Pasar kini kembali menimbang arah dolar AS, harga energi, dan risiko geopolitik yang belum reda.
Dalam kondisi seperti ini, setiap lonjakan harga minyak bisa cepat memengaruhi ekspektasi pelaku pasar. Bila tekanan energi berlanjut, rupiah berpotensi tetap bergerak sensitif dalam perdagangan berikutnya, sementara pelaku pasar menunggu apakah sentimen global mereda atau justru bertambah panas.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.