JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Seorang investor ritel dengan nama samaran Revan berhasil meraih keuntungan fantastis hingga 300% hanya dalam waktu enam bulan. Berawal dari modal Rp 5 juta, portofolio Revan melonjak menjadi Rp 20 juta. Rahasia di balik kisah sukses ini adalah keberaniannya bermain di pasar saham gorengan.
Kisah Revan, seorang karyawan swasta bergaji UMR di Jakarta, memberikan gambaran menarik tentang potensi sekaligus risiko tinggi di balik saham-saham berkapitalisasi kecil. Pengalamannya merangkum pelajaran penting bagi para investor, terutama pemula, yang tertarik dengan pergerakan harga saham yang sangat volatil.
Berawal dari ‘Nyangkut’ di GOTO
Revan memulai perjalanannya di pasar saham pada tahun 2023. Saat itu, ia mengikuti tren euforia (FOMO) dan membeli saham GOTO di harga Rp 90. Namun, ekspektasinya tak sesuai kenyataan. Harga GOTO terus merosot hingga Rp 50, membuatnya mengalami kerugian sekitar 40% dari uang tabungannya.
Pengalaman pahit tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Revan. Ia menyadari bahwa investasi di saham big caps membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kembali modal, bahkan lebih parah lagi, bisa kehilangan modal jika tidak tepat. “Rasanya nyesek. Uang tabungan tiga bulan hilang 40%,” kenang Budi, menggambarkan kekecewaannya saat itu.
Mengenal Dunia Saham Gorengan
Memasuki awal tahun 2025, Revan mulai mencari strategi investasi alternatif. Ia bergabung dengan sebuah grup Telegram yang ramai membahas saham-saham kecil dengan likuiditas rendah, namun kerap melonjak hingga 20% setiap hari. Dari situlah ia mulai mengenal karakteristik saham gorengan.
Ciri-ciri saham gorengan yang ia identifikasi antara lain memiliki kapitalisasi pasar kecil (di bawah Rp 5 triliun), minim berita fundamental positif namun harganya tiba-tiba naik drastis, serta volume perdagangan yang tiba-tiba besar padahal biasanya sepi peminat. Dengan modal awal Rp 5 juta, Revan memilih satu saham yang tengah ramai dibicarakan di grup tersebut.
Strategi Jitu Budi Meraih Cuan 300%
Revan tidak sembarangan dalam berinvestasi di saham gorengan. Ia memiliki tiga aturan main yang disiplin:
1. Menggunakan Uang Dingin
Revan hanya menginvestasikan uang yang ia siap kehilangan 100%. Ini adalah uang yang tidak dipakai untuk kebutuhan pokok atau penting, alias ‘uang dingin’. “Ini uang yang siap hilang 100%,” tegasnya.
2. Cut Loss Disiplin 7%
Salah satu kunci sukses Revan adalah disiplin melakukan cut loss. Begitu harga saham turun 7% dari harga beli, ia langsung menjualnya tanpa menunggu harga kembali naik. “Satu kali cut loss sakit, tapi menyelamatkan sembilan kali cuan lainnya,” ujarnya.
3. Take Profit Bertahap
Revan juga menerapkan strategi take profit secara bertahap. Jika harga naik 20%, ia akan menjual 50% dari modalnya. Ketika harga naik 50%, ia menjual 80% dari modal. Sisa saham yang dimilikinya dibiarkan menjadi ‘free float’, sehingga jika terjadi penurunan harga drastis (ARB), ia tidak akan mengalami kerugian.
Dengan ketiga strategi ini, Revan berhasil melipatgandakan modalnya hingga empat kali lipat dalam waktu enam bulan.
Risiko dan Sisi Gelap Saham Gorengan
Meski berhasil meraih cuan besar, Revan tidak menampik adanya sisi gelap dan risiko tinggi dari saham gorengan. Ia menyaksikan sendiri banyak teman di grup yang bernasib kurang mujur. “Banyak teman di grup yang telat masuk, nyangkut di ARB. Ada yang sampai rugi 70% dalam sehari,” katanya.
Risiko utama saham gorengan meliputi volatilitas yang sangat tinggi, di mana harga bisa naik 20% hari ini dan turun 20% besok. Selain itu, saham jenis ini rentan terhadap manipulasi bandar dan memiliki likuiditas rendah, yang membuat sulit untuk menjual saat terjadi penurunan harga secara drastis (ARB).
Pelajaran Penting dari Kisah Revan
Kisah Revan menyajikan beberapa pelajaran krusial bagi para investor:
- Jangan FOMO: Setiap keputusan beli harus disertai alasan jelas dan batas toleransi rugi (stop loss) yang ditetapkan.
- Jangan All In: Disarankan untuk membagi modal dan tidak menginvestasikan lebih dari 20% dari total modal ke dalam satu saham.
- Tahu Kapan Keluar: Keuntungan 300% tidak berarti apa-apa jika tidak direalisasikan dengan menjual saham.
- Saham Gorengan Bukan Investasi: Saham gorengan lebih cocok dikategorikan sebagai trading spekulatif jangka pendek karena risikonya yang tinggi.
Kisah Revan membuktikan bahwa cuan besar dari saham gorengan memang mungkin. Namun, di balik itu ada disiplin yang ketat, manajemen risiko yang matang, dan mental baja. Bagi investor pemula, disarankan untuk memulai dari saham blue chip yang lebih stabil. Setelah memahami dinamika pasar, baru mencoba porsi kecil di saham gorengan dengan sangat hati-hati dan sadar risiko.
Disclaimer: Kisah ini disajikan sebagai studi kasus dan bukan merupakan ajakan untuk membeli saham gorengan. Setiap keputusan investasi memiliki risiko tinggi dan harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing individu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.