Mark Esper menegaskan posisi Amerika Serikat tidak akan angkat kaki dari kawasan Indo-Pasifik dalam waktu dekat.
Mantan Sekretaris Pertahanan AS itu menyebut kehadiran militer negaranya di wilayah tersebut adalah kebutuhan strategis jangka panjang yang tidak bisa ditawar, meski tantangan di depan mata kian menumpuk.
Pernyataan ini ia sampaikan dalam program “Balance of Power” di Bloomberg bersama Joe Mathieu dan Kailey Leinz.
Bagi Esper, kehadiran pasukan Amerika di Indo-Pasifik bukan sekadar janji manis bagi sekutu. Ini adalah jangkar stabilitas. Di tengah suhu geopolitik yang terus memanas, Washington memilih untuk mengukuhkan komitmen aliansinya. Tidak ada rencana penarikan pasukan secara besar-besaran. Justru sebaliknya, Amerika bersiap untuk bertahan di sana dalam kurun waktu yang panjang.
Alarm Bahaya Industri Pertahanan
Meski berani menjanjikan kehadiran militer, Esper tidak menutup mata pada kelemahan fatal di dalam negeri. Ia menyoroti kondisi industri pertahanan AS yang menurutnya masih tertatih-tatih. Kapasitas produksi senjata saat ini jauh dari kata ideal, terutama jika negara itu harus terlibat dalam konflik berskala besar di masa depan.
Dia blak-blakan soal kegagalan percepatan pembangunan basis industri pertahanan. “Kami gagal untuk mempercepat pembangunan kembali basis industri pertahanan kami dengan waktu yang cukup untuk membangun stok dan kapasitas produksi yang diperlukan untuk konflik besar,” tegas Esper. Kalimat itu menjadi peringatan keras bagi para pengambil kebijakan di Washington.
Bagi militer, ketersediaan amunisi dan perangkat tempur adalah segalanya. Tanpa basis industri yang kuat, strategi di lapangan hanya akan menjadi kertas kosong. Esper menekankan bahwa stok yang tersedia sekarang sangat tidak mencukupi. Ini bukan masalah sepele, tapi persoalan mendasar yang bisa melumpuhkan efektivitas militer AS jika krisis meletus tiba-tiba.
Soal Komando dan Tanggung Jawab
Diskusi beralih pada isu operasional di lapangan. Esper membedah tanggung jawab komando dengan tegas. Saat disinggung mengenai kondisi kapal perang seperti USS Lincoln, ia menekankan bahwa tanggung jawab operasional melekat pada kepemimpinan di atas kapal tersebut. Pimpinan kapal punya otoritas mutlak atas apa yang terjadi di sana.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.