JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Film horor The End of Oak Street tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar sinema, terutama di platform TikTok. Film yang dirilis pada tahun 2025 ini menarik perhatian dengan konsep unik yang disebut-sebut mampu memicu perdebatan di antara penonton.
Tidak mengandalkan jumpscare berlebihan, film ini justru bermain pada aspek psikologis dan konsep putaran waktu yang misterius. Alhasil, banyak warganet yang mencari ulasan dan penjelasan mengenai akhir ceritanya.
Sinopsis Film The End of Oak Street
Kisah bermula ketika tiga sahabat, Ethan, Maya, dan Jake, merasa bosan dan iseng. Mereka menemukan sebuah video di TikTok yang membahas tentang Oak Street, sebuah jalan di pinggiran kota yang diyakini menyimpan urban legend. Konon, setiap tengah malam, satu rumah di jalan tersebut akan menghilang.
Berbekal kamera dan rasa penasaran yang membara, ketiganya memutuskan untuk bermalam di rumah paling ujung di Oak Street. Tujuan mereka hanya satu: membuktikan kebenaran mitos tersebut. Awalnya, tidak ada kejadian aneh yang mereka alami.
Namun, tepat pukul 12:01 malam, sesuatu yang ganjil terjadi. Mereka menyadari bahwa jalan di belakang rumah mereka memanjang tanpa henti. Setiap kali mereka mencoba berjalan ke depan, mereka justru kembali ke rumah yang sama, terjebak dalam putaran yang tak berujung. Oak Street bukan sekadar jalan, melainkan sebuah jebakan.
Daftar Pemain dan Kru Produksi
| Aktor/Aktris | Peran |
|---|---|
| Chase Liefeld | Ethan |
| Katelyn Nacon | Maya |
| Damien Leake | Penjaga Oak Street / Pak Tua |
| Jordan Preston | Jake |
Film ini disutradarai oleh Yarrow Chen dan diproduksi oleh Midnight Road Pictures. Dengan durasi 1 jam 28 menit, The End of Oak Street masuk dalam kategori genre horor, misteri, dan thriller.
Ulasan: Kelebihan dan Kekurangan
Film The End of Oak Street hadir dengan beberapa kelebihan yang membuatnya menonjol, di antaranya:
- Konsep Segar: Cerita film diadaptasi dari creepypasta mengenai “jalan tak berujung” yang memberikan nuansa baru pada genre horor.
- Suasana Mencekam: Penggunaan tata cahaya malam hari dan suara-suara alam seperti jangkrik berhasil menciptakan atmosfer yang merindingkan, tanpa harus mengandalkan jumpscare murahan.
- Efisiensi Produksi: Dengan anggaran minim, film ini mampu memaksimalkan satu lokasi syuting untuk menciptakan kesan luas dan imersif.
Meskipun demikian, ada beberapa kekurangan yang juga perlu diperhatikan:
- Pace Lambat: Tiga puluh menit pertama film terasa sedikit membosankan bagi sebagian penonton karena alur yang lambat.
- Ending Terbuka: Akhir cerita yang bersifat terbuka menjadi pro dan kontra, membuat sebagian penonton merasa tidak puas karena tidak ada resolusi yang jelas.
Berdasarkan ulasan, film ini mendapatkan rating 5.8/10 di IMDb dan 62% di Rotten Tomatoes.
Penjelasan Ending The End of Oak Street (SPOILER)
Di penghujung film, Ethan adalah satu-satunya karakter yang diyakini berhasil “keluar” dari Oak Street pada pukul 5 pagi. Dia kembali ke rumahnya dengan perasaan lega.
Namun, di adegan terakhir, terungkap bahwa jalan di depan rumah Ethan kini memiliki nama “Oak Street”. Hal ini mengindikasikan bahwa Oak Street bukanlah lokasi fisik yang bisa ditinggalkan begitu saja. Jalan tersebut justru mengikuti individu yang mengetahui keberadaannya. Begitu seseorang terlibat dengan Oak Street, ia menjadi bagian dari putarannya.
Penjaga Pak Tua yang muncul dalam film sebenarnya adalah korban sebelumnya yang “dipilih” untuk menjaga jalan tersebut. Dengan demikian, tidak ada yang benar-benar bisa keluar dari Oak Street. Mereka yang terperangkap akan terus berputar dalam siklus tak berujung.
Platform Nonton The End of Oak Street
Per Agustus 2026, film The End of Oak Street sudah tersedia di beberapa platform streaming resmi:
- Prime Video: Termasuk dalam langganan Prime.
- Apple TV: Tersedia untuk disewa dengan harga Rp35.000.
- Google Play Movies: Dapat dibeli seharga Rp70.000.
Film ini belum tersedia di Netflix Indonesia.
The End of Oak Street sangat direkomendasikan bagi penonton yang menyukai film horor slow-burn dan misteri yang mengandalkan pembangunan suasana serta pertanyaan filosofis. Film ini cocok bagi penggemar judul serupa seperti The Backrooms, Skinamarink, atau Oculus, yang fokus pada rasa penasaran dan terjebak daripada jumpscare konvensional.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.