Sabtu, 22 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

TWC hadirkan pagelaran wayang kulit rawat budaya dan perkuat kebersamaan dengan masyarakat

Pagelaran wayang kulit TWC di Lapangan Rakai Pikatan Yogyakarta
Pagelaran wayang kulit TWC digelar di Lapangan Rakai Pikatan, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, dalam rangka HUT Ke-81 RI. (Ilustrasi: AI)

Lakon itu, dengan begitu, tidak berdiri sebagai tontonan semata. Ada narasi yang disusun untuk menautkan semangat kemerdekaan dengan harapan sosial yang lebih dekat ke kehidupan sehari-hari: tenteram, rukun, dan saling menjaga. Pesan seperti ini terasa pas di tengah kebutuhan ruang kebudayaan yang tidak hanya meriah, tapi juga punya makna yang dibaca lintas generasi.

Ki Gadhing Pawukir Seno Saputro menjelaskan bahwa lakon ini menggambarkan perjalanan untuk memperoleh kearifan dan ketenteraman melalui proses menghadapi berbagai ujian, pengendalian diri, pengorbanan, serta keikhlasan. Ia menekankan bahwa ketenteraman perlu dibangun melalui kebijaksanaan, keselarasan, gotong royong, dan kemampuan menempatkan kepentingan bersama.

“Ketenteraman perlu dibangun melalui kebijaksanaan, keselarasan, gotong royong, dan kemampuan menempatkan kepentingan bersama,” katanya.

Masih dari Ki Gadhing, makna Wahyu Katentreman dapat dibaca sebagai refleksi diri untuk menghadirkan kehidupan masyarakat yang harmonis, sejahtera, dan berkeadilan. Di titik ini, wayang kulit bekerja bukan hanya sebagai kesenian klasik, tetapi juga sebagai bahasa simbolik yang masih relevan untuk membaca situasi sosial hari ini.

Dampaknya buat warga, UMKM, dan ekosistem sekitar

Yang paling langsung terasa dari pagelaran seperti ini ada pada warga di sekitar Prambanan dan Kalasan. Akses gratis membuka kesempatan lebih luas untuk menikmati seni tradisi yang kadang hanya disaksikan pada momen tertentu. Warga tidak sekadar menjadi penonton; mereka masuk ke dalam ruang yang dibangun bersama perusahaan, pelaku seni, dan pemerintah daerah.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengapresiasi komitmen PT TWC dalam menghadirkan pagelaran wayang kulit yang menjadi ruang untuk melestarikan dan menghidupkan kembali seni budaya serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar kawasan Prambanan dan Kalasan.

Ia menilai kehadiran pagelaran ini menunjukkan bahwa pengelolaan destinasi wisata dan warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat serta penguatan ekonomi lokal.

Danang juga menyoroti keterlibatan pelaku usaha kecil. “Pagelaran ini juga diperuntukan gratis untuk warga sekitar Prambanan dan Kalasan, dan juga memberdayakan UMKM-UMKM di sekitar sini. Artinya keberadaan TWC ini juga berefek pada lingkungan sekitarnya,” katanya.

Di situ letak pentingnya. Saat destinasi wisata besar menggelar agenda budaya yang membuka ruang untuk warga dan UMKM, manfaatnya menyebar ke luar panggung.

Keramaian hadir, perputaran ekonomi ikut bergerak, dan hubungan antara pengelola destinasi dengan masyarakat sekitar tidak berhenti pada hubungan administratif. Ada rasa memiliki. Ada pertemuan. Ada dampak yang bisa dilihat langsung di sekitar lokasi.

Pementasan wayang kulit di Rakai Pikatan juga diberi makna solidaritas bagi saudara-saudara yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam narasi yang dibawa panitia dan dalang, semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi jembatan antara perayaan kemerdekaan dan doa bagi pemulihan.

Dari panggung budaya itu, TWC menaruh pesan yang tegas: kebudayaan bukan hanya untuk dijaga, tapi juga untuk dirasakan manfaatnya oleh warga di sekelilingnya.

Di kalender kegiatan berikutnya, publik masih akan melihat apakah pola ruang budaya semacam ini terus dipertahankan oleh pengelola destinasi. Kalau konsisten, panggung wayang bukan cuma hidup sekali semalam. Ia bisa menjadi tradisi yang kembali, menghubungkan generasi, dan menjaga agar kawasan wisata tetap punya denyut sosial di luar kunjungan wisatawan.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 22 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir