Dalam pernyataan resmi, kantor Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aimé mengecam “heinous attack” dan menyatakan pasukan keamanan berada pada status siaga tertinggi. Penguatan personel juga sedang dikerahkan. Pemerintah bahkan menegaskan, “Kenscoff will not be abandoned. Haiti will not be handed over to bandits. The Republic will prevail,”.
Tapi di lapangan, situasinya justru memperlihatkan rapuhnya perlindungan bagi warga sipil. Penduduk meminta kepala polisi setempat mundur karena diduga tidak mampu menjaga para pengungsi yang berlindung di gereja. Tekanan ini makin berat karena komunitas internasional selama bertahun-tahun gagal membantu polisi Haiti yang kekurangan peralatan untuk meredam geng bersenjata.
Dampaknya terasa jauh lebih luas daripada angka korban di Kenscoff. PBB memperkirakan hampir 1,5 juta warga Haiti saat ini mengungsi dari total populasi 11 juta orang, sementara lebih dari lima juta menghadapi kerawanan pangan berat. Di negara termiskin di Benua Amerika itu, kekerasan geng, korupsi, bencana alam, dan instabilitas politik saling mengunci satu sama lain.
Imbasnya bukan cuma di Haiti
Serangan di Kenscoff juga menambah tekanan menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada Desember tahun ini. Haiti terakhir menggelar pemilu pada 2016, dan presiden sebelumnya, Jovenel Moise, dibunuh pada 2021. Kekosongan politik itu membuat ruang kekuasaan semakin mudah diperebutkan kelompok kriminal.
Dalam konteks itu, serangan terbaru di gereja bukan sekadar tragedi lokal. Ini tanda bahwa jalur menuju Port-au-Prince, pusat politik dan ekonomi negara itu, masih rentan dikuasai geng. Dan selama perlindungan dasar belum pulih, jumlah korban bisa terus berubah, persis seperti peringatan yang sudah disampaikan PBB pada hari yang sama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.