Sementara itu, serial televisi yang menjadi konsumsi harian jutaan orang—seperti Outer Banks—kerap dianggap sebagai produk “tontonan massa” yang tidak menuntut analisis mendalam atau pembahasan kritis.
Masa Depan Liputan Hiburan
Ketimpangan ini tentu memicu pertanyaan besar bagi masa depan liputan televisi. Ketika medium yang paling banyak dikonsumsi oleh audiens global justru diabaikan oleh para pengulas, percakapan publik tentang kualitas produksi televisi pun menjadi pincang.
Kritikus tidak lagi menjadi penunjuk arah bagi penonton, melainkan hanya menjadi penjaga gawang untuk karya-karya tertentu yang mereka anggap “penting” secara estetika.
Apakah ini tanda bahwa peran kritikus sebagai jembatan bagi audiens sudah mulai kadaluwarsa? Mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan demikian. Namun, faktanya, serial yang ditonton jutaan orang justru kehilangan suara di ruang kritik profesional. Netflix sendiri tidak ambil pusing dengan sunyinya ulasan para kritikus tersebut.
Pihak produser justru sudah menyiapkan rencana besar untuk memperluas semesta ini. Rencana pembuatan prekuel berjudul Kildare, yang akan membawa penonton kembali ke masa 20 tahun sebelum alur cerita utama, menjadi bukti bahwa Netflix lebih mengandalkan data algoritma penonton daripada validasi dari barisan kritikus.
Ke depannya, jurang ini bisa jadi akan semakin dalam. Jika tren pengabaian ini terus berlanjut, posisi kritikus film akan semakin terpinggirkan dari percakapan arus utama.
Penonton akan tetap setia pada insting mereka, memilih tontonan berdasarkan rekomendasi sesama pengguna atau tren media sosial, sementara ulasan profesional hanya akan menjadi catatan kaki yang relevansinya makin pudar di mata publik yang sudah terbiasa menentukan pilihannya sendiri.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.