Selama kurun waktu tersebut, seluruh penumpang dialihkan ke Stasiun BNI City. Akses penghubung berupa selasar sudah disiapkan untuk memudahkan perpindahan. Pilihan ini terbilang cukup mendesak jika melihat beban penumpang yang menumpuk di sana.
Hingga Juli 2026, Stasiun Karet telah melayani 2.175.455 pengguna yang naik dan 2.127.155 pengguna yang turun. Angka yang sangat masif untuk ukuran stasiun transit.
Sementara itu, Stasiun BNI City mencatat jumlah penumpang yang lebih sedikit, yakni 940.478 pengguna naik dan 662.808 pengguna turun. Jika ditotal, kedua stasiun ini telah memfasilitasi lebih dari 5,9 juta aktivitas perjalanan penumpang di wilayah Jabodetabek. Integrasi ini diharapkan bisa memecah kepadatan dan membuat aliran penumpang jauh lebih tertata.
Bagi para pekerja yang setiap pagi menggantungkan nasib pada kereta rel listrik, KAI Commuter menjamin tidak ada perubahan jadwal. Intensitas perjalanan tidak akan dikurangi sedikit pun selama masa konstruksi.
Sebanyak 264 perjalanan KRL untuk lintas Kampung Bandan atau Cikarang akan tetap beroperasi normal seperti biasa. Begitu pula dengan layanan Commuter Line Basoetta di Stasiun BNI City, yang dipastikan berjalan reguler tanpa penyesuaian pola perjalanan.
Proses pembangunan fisik ini memang menuntut sedikit adaptasi dari para komuter yang biasa turun langsung di Karet. Namun, pihak operator yakin bahwa setelah selasar terintegrasi sepenuhnya, kenyamanan penumpang saat berpindah moda akan jauh meningkat dibanding kondisi saat ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.