“Kepemimpinan Gus Kikin bersama Rais Aam KH Miftachul Akhyar diharapkan mampu membawa NU tetap menjadi kekuatan yang menjaga persatuan bangsa,” kata Sekjen Golkar itu.
Gus Kikin sendiri adalah pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, sejak 2020, melanjutkan warisan kepemimpinan pesantren setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Melalui garis ibu, ia adalah cicit KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebuireng.
Lintasan kariernya di NU dimulai pada 2022, ketika ditunjuk sebagai Pj Ketua PWNU Jawa Timur, kemudian dikukuhkan melalui Konferwil NU Jawa Timur pada 3 Agustus 2024 dengan perolehan suara aklamasi.
Harapan Organisasi Tetap Solid
Sarmuji menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Gus Kikin dan Miftachul Akhyar, menekankan bahwa NU memiliki peran strategis dalam kehidupan kebangsaan. Tanggung jawab baru pemimpin PBNU tidak hanya menyatukan organisasi internal, tetapi juga memperkuat kontribusi NU kepada masyarakat luas dan negara.
“Saya berharap NU terus menjadi kabar gembira bagi bangsa Indonesia dan warga Nahdliyin bisa bangga menjadi anggotanya,” kata pejabat Golkar itu. Ia juga berharap PBNU di bawah kepemimpinan baru dapat menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh warga Nahdliyin, konsisten menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, dan memperkuat kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Optimisme Sarmuji mencerminkan ekspektasi luas dari berbagai stakeholder bahwa Gus Kikin mampu mengubah dinamika internal NU yang panas menjadi suasana kerja sama yang lebih harmonis.
Figur yang dikenal moderat dan memiliki jaringan luas di kalangan pesantren tradisional ini dinilai memiliki potensi untuk memimpin organisasi dengan 40 juta anggota tersebut memasuki era baru yang lebih stabil dan produktif.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.