Kamis, 3 September 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Mentorship Karier Tak Harus Formal, Begini Cara Belajarnya

Ilustrasi mentorship karier lewat obrolan kerja informal
Mentorship karier tidak selalu harus lewat hubungan formal satu lawan satu. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Mentorship karier tak selalu datang dari satu orang yang Anda minta secara formal. IEEE Spectrum menulis bahwa hubungan seperti itu justru sering terasa canggung, sementara banyak orang bisa belajar jauh lebih banyak dari mentor informal yang ditemui di sekitar tempat kerja.

Artikel yang dikutip dari newsletter karier IEEE Spectrum itu menyoroti cara belajar dari orang lain tanpa harus membuka percakapan yang berat seperti, “Will you be my mentor?” Alih-alih menunggu satu sosok yang mau membimbing secara penuh, penulisnya mendorong pembaca untuk mengumpulkan pengetahuan dari banyak orang, lalu memakainya untuk perkembangan karier.

Mentorship karier tidak harus dimulai dari formalitas

Inti gagasan artikel ini sederhana. Meminta seseorang menjadi mentor memang tidak mudah, karena yang diminta bukan sekadar obrolan sesekali, melainkan komitmen waktu tanpa bayaran untuk jangka yang tidak jelas. Wajar kalau sebagian orang ragu menjawab ya.

Di titik itu, IEEE Spectrum menawarkan pendekatan yang lebih ringan. Penulisnya mengaku tidak pernah secara formal meminta siapa pun menjadi mentor, tetapi tetap punya puluhan mentor tak resmi. Dari sini, mentorship karier dipahami sebagai jaringan belajar, bukan kontrak bimbingan yang kaku.

Pendekatan seperti ini terasa dekat dengan dunia kerja teknologi, tempat orang sering bertumbuh lewat observasi, diskusi singkat, dan kebiasaan meniru praktik yang terbukti efektif. Bagi banyak pekerja muda, model ini juga lebih realistis karena tidak menuntut hubungan yang besar di awal. Cukup mulai dari rasa ingin tahu.

Cara meniru yang baik tanpa kehilangan arah

Salah satu metode yang dibahas IEEE Spectrum adalah apa yang mereka sebut The Copy-Paste Method. Caranya bukan menyalin mentah-mentah, melainkan mengamati cara orang yang dihormati bekerja lalu mengambil bagian yang berguna untuk diterapkan sendiri.

Penulis artikel bercerita bahwa ia membaca buku atau blog dari engineer yang disukai, lalu langsung mencoba ide-ide mereka dalam pekerjaan. Ia juga belajar dari rekan kerja yang sangat berbakat dengan memperhatikan cara mereka memecahkan masalah, membaca, berkomunikasi dalam rapat, sampai memahami apa yang mereka tahu dan dirinya belum tahu.

Kalimat yang dipakai cukup tegas: “Great artists steal. Engineers should too.” Dalam konteks artikel ini, pesan itu bukan ajakan menjiplak karya orang lain, melainkan dorongan untuk menyerap kebiasaan baik, lalu mengolahnya menjadi cara kerja sendiri. Ada bedanya. Jelas.

Buah dari pendekatan itu terasa langsung pada proses belajar. Ketika seseorang melihat metode yang efektif, lalu mencobanya dalam pekerjaan sehari-hari, ia tidak lagi menunggu satu mentor besar untuk memberi jawaban lengkap. Ia bergerak, menguji, lalu membentuk ritme kerjanya sendiri.

So what buat pembaca dan pekerja di Indonesia

Buat pekerja muda di Indonesia, terutama di bidang teknologi, pesan ini cukup relevan. Banyak orang ingin punya mentor, tetapi tak semua lingkungan kerja menyediakan hubungan formal yang rapi. Artikel IEEE Spectrum memberi jalan lain: carilah orang-orang yang tahu hal yang belum Anda kuasai, lalu jadikan mereka sumber belajar yang berbeda-beda.

Soalnya, manfaatnya bukan cuma soal naik jabatan atau mempercantik CV. Cara ini membuat proses belajar lebih cepat menyebar. Satu orang bisa mengajari cara menghadapi percakapan sulit, orang lain memberi sudut pandang soal pemecahan masalah, sementara rekan lain menunjukkan kebiasaan membaca atau komunikasi yang lebih efektif. Hasilnya lebih cair. Tidak berat di satu titik.

Di bagian lain, penulis menekankan bahwa pertanyaan tidak harus terdengar dalam atau filosofis. Ia justru menyarankan pertanyaan sederhana seperti apa yang sedang dibaca seseorang, atau apa yang menurut mereka masih bisa diperbaiki. Pertanyaan kecil seperti itu sering menghasilkan satu petunjuk yang bisa segera dipakai, lalu ditinggalkan saat sudah tidak relevan.

Pola pikir ini juga berguna bagi pembaca yang belum bekerja di lingkungan penuh engineer hebat. IEEE Spectrum menegaskan bahwa syarat utamanya cuma satu: rasa ingin tahu. Saat menemukan sesuatu yang tidak dipahami, kebiasaan terbaik adalah menyelidikinya, bukan lewat begitu saja.

Dari sana, mentorship karier berubah bentuk menjadi pembelajaran yang terus bergerak, bukan menunggu satu orang yang siap menuntun sepanjang jalan.

Rasa ingin tahu yang dikumpulkan pelan-pelan

Artikel tersebut menutup dengan dorongan yang cukup praktis: perhatikan orang-orang di sekitar, ajukan pertanyaan, lalu tiru bagian terbaik dari cara kerja mereka. Tidak perlu dramatis. Tidak perlu formalitas berlebihan.

IEEE Spectrum juga membuka ruang bagi pembaca untuk mengirimkan pertanyaan karier melalui formulir yang mereka sediakan, dan pertanyaan itu bisa dikirim dengan nama ataupun anonim. Bagi newsletter tersebut, itu diposisikan sebagai bentuk mentorship yang lebih santai, tanpa percakapan canggung yang biasanya muncul saat seseorang diminta langsung menjadi mentor.

Di sisi yang lebih luas, The Institute edisi Juni 2026 juga disebut memuat sejumlah saran karier dari anggota IEEE, bersama informasi soal program dan kursus lain. Artinya, jalur belajar dari komunitas profesional masih terus dibuka, dan model mentorship karier yang tidak kaku itu tampaknya akan tetap relevan untuk waktu yang panjang.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 3 September 2026: Klaim Pack & Coins Gratis