PERMIT BGN juga mendorong penerapan FIFO atau First In, First Out sebagai kebiasaan operasional di seluruh SPPG. Untuk memudahkan pengawasan, mereka mengusulkan identifikasi visual memakai kode warna berdasarkan urutan batch produksi atau distribusi.
Sistem warna ini, menurut PERMIT BGN, bisa membantu petugas mengenali urutan makanan dengan cepat. Batch pertama, berikutnya, dan terakhir menjadi lebih mudah dibedakan, sehingga batch sebelumnya tidak tertinggal atau tercampur dengan batch sesudahnya. Sterren menegaskan, “kode warna bukan pengganti standar keamanan pangan, melainkan alat bantu pengawasan,”.
Waktu dan suhu jadi penentu, bukan sekadar tampilan makanan
Selain urutan produksi, PERMIT BGN menekankan pengendalian waktu dan suhu sebagai bagian yang tak boleh disepelekan. Makanan yang sudah selesai dimasak, kata mereka, tidak cukup dinilai dari tampilan fisik atau kondisi luarnya saja.
Ini titik yang paling terasa dampaknya bagi penyelenggara MBG maupun penerima manfaat. Kalau pengawasan waktu dan suhu longgar, makanan yang terlihat baik belum tentu aman dikonsumsi. Sebaliknya, bila kontrol dilakukan sejak awal dan sepanjang alur dapur, risiko gangguan keamanan pangan bisa ditekan sebelum makanan berpindah tangan ke penerima manfaat.
Karena itu, PERMIT BGN menilai seluruh proses di dapur SPPG perlu dibuat sederhana namun ketat. Bukan sekadar ada prosedur di atas kertas, melainkan benar-benar dipakai petugas yang bekerja setiap hari di lapangan. Di titik inilah keamanan pangan berhenti jadi jargon, lalu berubah menjadi kebiasaan kerja.
Ke depan, perhatian publik tampaknya masih akan tertuju pada bagaimana BGN menyusun penguatan teknis di lapangan. Bagi program sebesar MBG, satu detail di dapur bisa punya dampak jauh lebih luas daripada yang terlihat di meja makan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.