Andra Novandra, anggota BPBD Kota Bogor yang berada di lokasi sejak operasi penyelamatan dimulai, mengakui intensitas hujan malam itu sangat membantu. “Iya, alhamdulillah hujan lumayan deras. Tadi hujan dari jam 19.00 WIB sampai sekarang masih hujan,” tuturnya saat dihubungi sekitar pukul 20.20 WIB.
Harapan Besar dari Air Hujan
Tugas tim gabungan dari Damkar dan BPBD, baik dari Kota maupun Kabupaten Bogor, memang berat. Mereka harus memastikan tidak ada titik panas yang luput dari pantauan. Situasi kritis ini sering kali membuat petugas berada dalam kondisi siaga satu, mengingat sifat sampah yang bisa terus menyala di bawah permukaan tanpa terlihat dari luar.
Andra dan rekan-rekannya menaruh harapan besar pada air hujan yang meresap ke dalam tanah. Ia berharap air tersebut mampu menembus jauh ke bawah, merendam titik-titik panas yang selama ini sulit dijangkau selang pemadam. “Ya mudah-mudahan dengan hujan ini air jadi masuk ke dalam tumpukan sampah, titik panas yang ada di bawah jadi basah. Mudah-mudahan titik panasnya berkurang, habis,” ungkap Andra.
Secara ilmiah, curah hujan memang menjadi faktor alam paling krusial untuk menurunkan risiko kebakaran lanjutan di kawasan TPA. Bukan hanya karena air fisiknya yang menyiram bara, tetapi juga peningkatan kelembapan udara yang drastis. Kondisi ini secara otomatis menekan kemungkinan pembakaran spontan pada material organik yang tertimbun.
Setelah hujan reda nanti, tim gabungan berencana melakukan pemindaian ulang menggunakan drone untuk memastikan area tersebut benar-benar aman dari potensi api. Langkah ini menjadi prosedur tetap untuk mencegah peristiwa serupa terulang kembali di masa depan.
Hingga malam semakin larut, para petugas tetap bersiaga, membiarkan alam bekerja memadamkan sisa-sisa bara yang sempat membuat mereka tak bisa tidur tenang selama beberapa hari terakhir.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.