NEW YORK, JOURNALARTA.COM – Saham SpaceX dengan kode NASDAQ: SPCX ditutup anjlok ke $145,47 pada 29 September 2026, turun $3,21 atau 2,16% dari penutupan sebelumnya. Angka ini mendekati level terendah sepanjang masa saham tersebut, yang hanya berjarak $0,16 dari titik terendah.
Penurunan tajam ini dipicu oleh tiga faktor utama: berakhirnya periode penguncian (lock-up) saham, penjualan saham oleh salah satu eksekutif, dan penundaan penerbangan penting Starship. Sejak debutnya yang gemilang dengan valuasi $2,1 triliun, saham SpaceX menunjukkan volatilitas ekstrem dan kini berada di titik krusial bagi investor.
Tiga Pemicu Anjloknya Saham SPCX
Penurunan harga saham SPCX hari ini tidak lepas dari kombinasi beberapa kejadian penting. Pertama, sebanyak 328 juta saham menjadi dapat diperdagangkan setelah masa lock-up IPO berakhir. Jumlah ini setara dengan lebih dari 50% dari saham beredar (float) SpaceX yang tipis, yaitu sekitar 555-639 juta saham. Hal ini menyebabkan “banjir” pasokan di pasar, memicu aksi jual panik di kalangan trader.
Kedua, sentimen negatif diperparah oleh laporan penjualan saham senilai sekitar $52 juta oleh Presiden SpaceX, Gwynne Shotwell. Penjualan oleh orang dalam perusahaan, terutama saat harga saham rendah, sering kali diinterpretasikan sebagai sinyal buruk dan menambah tekanan jual di pasar.
Faktor ketiga adalah penundaan penerbangan orbital pertama Starship ke 28 September, yang seharusnya meluncurkan 26 satelit Starlink V3. Starship merupakan salah satu proyek SpaceX yang membutuhkan modal besar. Penundaan ini menambah kekhawatiran investor terkait tingginya biaya operasional (cash burn) perusahaan, terutama dengan pengeluaran modal (capex) Q1 2026 yang mencapai $10,1 miliar.
Perjalanan Saham SPCX: IPO ke Titik Kritis
SpaceX (SPCX) memulai debutnya di NASDAQ pada 12 Juni 2026, dengan harga IPO $135 per saham. Ini menjadi IPO terbesar dalam sejarah AS, mengalahkan rekor Saudi Aramco. Hari pertama perdagangan ditutup di $161, dan hanya empat hari kemudian, pada 16 Juni 2026, saham ini mencapai level tertinggi sepanjang masa (ATH) di $225,64. Euforia pasar saat itu mendorong kapitalisasi pasar perusahaan hingga $2,1 triliun.
Namun, setelah itu, saham SPCX mengalami koreksi signifikan. Pada Juli-Agustus, harga melorot tajam hingga mencapai titik terendah sepanjang masa (ATL) di $104,83 pada awal Agustus atau Juli (data bervariasi). Penurunan ini sebagian disebabkan oleh masalah terkait SPV (Special Purpose Vehicle) yang digunakan beberapa investor ritel untuk membeli saham pre-IPO, yang menyebabkan mereka mendapatkan saham lebih sedikit dengan biaya tambahan.
Sebelum anjlok hari ini, saham sempat menunjukkan rebound tipis, naik 9,9% dalam 30 hari terakhir ke $148. Konsensus analis Wall Street masih menunjukkan rekomendasi “Moderate Buy” dengan target harga rata-rata $232-$242. Namun, penutupan hari ini di $145,47 menunjukkan bahwa saham kembali ke level yang sangat dekat dengan ATL-nya.
Kinerja Bisnis dan Prospek Analis
Secara finansial, SpaceX mencatatkan pendapatan $18,674 miliar pada FY2025, dengan Starlink menyumbang 61% dari total pendapatan tersebut. Meski demikian, perusahaan masih membukukan kerugian operasional GAAP sebesar -$2,589 miliar, meskipun Adjusted EBITDA positif $6,584 miliar. Starlink sendiri mencatatkan keuntungan GAAP $4,4 miliar, sementara divisi peluncuran dan AI masih membakar banyak modal.
Pada Q1 2026, SpaceX melaporkan pendapatan $4,694 miliar dengan kerugian GAAP -$1,943 miliar dan capex yang masif $10,1 miliar. SpaceX kini terbagi menjadi tiga bisnis utama: Aerospace & Connectivity (Falcon/Starship + Starlink) yang menguntungkan, serta xAI/X/Grok yang masih merugi. Merger dengan Cursor senilai $60 miliar pada April 2026 juga menjadi penyebab lonjakan capex AI.
Tickeron, sebuah platform analisis, menunjukkan bahwa SPCX saat ini diperdagangkan di sekitar nilai wajarnya antara $139,95 hingga $151,74. Harga $145,47 hari ini berada dalam rentang tersebut, namun dengan volatilitas beta 5,36, saham ini tetap berisiko tinggi. Investor disarankan untuk menunggu setup yang lebih jelas sebelum mengambil keputusan investasi.
Bagi trader di Indonesia, saham SPCX dapat dibeli melalui broker AS seperti Gotrade, Stockbit US, atau Pluang. Penting untuk diperhatikan bahwa ini adalah saham pertumbuhan spekulatif tanpa dividen dan rasio P/E negatif. Volatilitas tinggi dengan float tipis dan short interest 31% membuat SPCX rentan terhadap pergerakan harga yang ekstrem, baik potensi kenaikan tajam (squeeze) maupun penurunan drastis (dump). Jika penerbangan orbital Starship sukses meluncurkan Starlink V3, saham ini bisa rebound ke $150+, namun kegagalan berpotensi menguji kembali level $104.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.