JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Nilai tukar rupiah kembali tertekan, ditutup melemah signifikan 72 poin atau 0,40 persen ke level Rp17.966 per dolar Amerika Serikat pada Kamis, 1 Oktober 2026. Pelemahan ini membuat rupiah hanya berjarak Rp34 dari level psikologis Rp18.000, setelah sebelumnya sempat menembus Rp18.014 pada 29 September 2026.
Kurs rupiah dibuka di Rp17.915, melemah 21 poin dari penutupan Rabu di Rp17.894. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) mencatat kurs referensi rupiah pada hari ini berada di Rp17.937 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.877.
Data Domestik Positif, Rupiah Tetap Tertekan
Pelemahan rupiah terjadi di tengah serangkaian data ekonomi domestik yang menunjukkan sinyal positif. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia untuk September 2026 tercatat 52,4, melonjak dari 49,8 pada bulan sebelumnya dan menjadi yang tertinggi dalam tujuh bulan. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi sektor manufaktur, didorong kenaikan pesanan baru dan produksi.
Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 juga mencatat surplus USD3,55 miliar, lebih tinggi dari ekspektasi. Ekspor tumbuh 6,72 persen secara tahunan menjadi USD26,61 miliar, sementara impor naik 12,31 persen menjadi USD23,06 miliar. Kenaikan ekspor didukung lonjakan harga nikel sebesar 51,67 persen dan aluminium 206,78 persen secara tahunan. Peningkatan impor mesin dan peralatan elektrik mengindikasikan ekspansi industri domestik. Selain itu, inflasi September dilaporkan terkendali, tidak menunjukkan tanda-tanda overheat.
Namun, data positif ini tak cukup membendung tekanan eksternal. FXStreet melaporkan bahwa rupiah melemah 0,39 persen ke Rp17.940 meskipun data domestik positif, dengan penyebab utama lonjakan indeks dolar AS menjelang data Non-Farm Payrolls (NFP) AS.
Lima Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah
Beberapa faktor utama disebut menjadi pemicu anjloknya nilai tukar rupiah dan mata uang Asia lainnya terhadap dolar AS:
- Penguatan Indeks Dolar (DXY): Indeks Dolar (DXY) melonjak ke 101,82, level tertinggi dalam dua bulan terakhir. DXY telah naik 2 persen sepanjang September 2026, menekan sebagian besar mata uang Asia. Yen Jepang anjlok 0,60 persen, dolar Taiwan 0,51 persen, rupee India 0,35 persen, baht Thailand 0,34 persen, dan won Korea Selatan 0,31 persen. Hanya yuan China yang menunjukkan penguatan tipis 0,02 persen.
- Kenaikan Yield US Treasury: Yield obligasi US Treasury tenor 10 tahun naik drastis ke kisaran 5,23%-5,34 persen, merupakan level tertinggi sejak 2007, sebelum krisis finansial global. Yield obligasi 30 tahun juga mencapai 5,60 persen. Kondisi ini mendorong investor menarik dana dari pasar negara berkembang untuk beralih ke obligasi AS yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil lebih tinggi, mengakibatkan arus keluar modal asing dari Indonesia.
- Harga Minyak Brent di Atas USD100: Harga minyak Brent kembali tembus USD100,57 per barel (+2,59%), dan WTI di USD92,77 (+2,60%) setelah sempat turun ke USD89. Kenaikan harga minyak dipicu negosiasi AS-Iran yang macet terkait Selat Hormuz, suspensi ekspor BBM oleh China pada Oktober, serta larangan ekspor diesel dari Rusia hingga akhir Oktober. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan valuta asing (valas) Indonesia untuk impor energi.
- Kebutuhan Valas Importir Akhir Kuartal III: Menjelang akhir September, banyak importir membutuhkan dolar untuk melunasi tagihan, menciptakan lonjakan permintaan valas yang tidak diimbangi pasokan memadai.
- Prospek Kebijakan Hawkish The Fed dan Data Ekonomi AS yang Kuat: Data ketenagakerjaan ADP AS untuk September menunjukkan 90 ribu pekerjaan baru, di atas ekspektasi 70 ribu. Revisi PDB Kuartal II juga naik dari 1,5 persen menjadi 2,2 persen. Sementara itu, indeks ISM Manufaktur diprediksi 55. Data NFP yang akan dirilis Jumat, 2 Oktober, diproyeksikan 90 ribu. Pasar mengantisipasi kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan 27-28 Oktober, meskipun inflasi PCE cenderung melandai.
Bank Indonesia Intervensi Pro-Market
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional dan secara quarter-to-date hanya melemah 0,67 persen. Menurutnya, tekanan didorong oleh kebutuhan valas importir akhir triwulan III serta arus keluar dana dari portofolio aset emerging market di tengah kenaikan yield UST.
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus melakukan intervensi pasar melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga stabilitas. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus masih kuat, mencapai USD146,5 miliar, sebagai benteng pertahanan nilai tukar.
Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat
Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp18.000 memiliki dampak langsung pada berbagai sektor. Importir akan menghadapi biaya yang lebih tinggi, yang berpotensi menaikkan harga barang impor seperti gadget dan mesin. Selain itu, cicilan utang luar negeri bagi perusahaan dan pemerintah yang dalam denominasi dolar AS akan menjadi lebih mahal.
Di sisi lain, eksportir komoditas seperti nikel, aluminium, dan CPO justru diuntungkan karena mereka menerima pembayaran dalam dolar, yang kini bernilai lebih banyak dalam rupiah. Hal ini turut berkontribusi pada surplus neraca perdagangan. Warganet di media sosial juga mulai menunjukkan kekhawatiran, dengan seruan untuk memboikot barang impor sebagai respons, meskipun ekonom menilai efeknya kecil, sentimen anti-impor menguat.
Untuk Jumat, 2 Oktober, rupiah diperkirakan akan fluktuatif. Pasar akan sangat mencermati rilis data NFP AS. Jika NFP di atas 90 ribu, DXY berpotensi naik ke 102, yang bisa mendorong rupiah menembus Rp18.000. Sebaliknya, jika data NFP di bawah ekspektasi, rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.