Selasa, 6 Oktober 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Suriname Diteriaki Monyet di Guatemala: Richonell Margaret Kartu Merah, Brawl Rusuh, FIFA & Concacaf Disuruh Investigasi

Suriname Diteriaki Monyet di Guatemala
Suriname Diteriaki Monyet di Guatemala: Richonell Margaret Kartu Merah, Brawl Rusuh, FIFA & Concacaf Disuruh Investigasi. Credit: Dok. JournalArta

GUATEMALA CITY, JOURNALARTA.COM – Tim nasional Suriname kembali menjadi korban tindakan rasisme saat melakoni pertandingan Concacaf Nations League League A Grup B melawan Guatemala pada Senin, 5 Oktober 2026, di Cementos Progreso Stadium, Guatemala City. Insiden ini terjadi kurang dari 13 bulan setelah kejadian serupa menimpa mereka di El Salvador.

Suriname FA (SVB) dan media Amerika Serikat, USA Today, mengonfirmasi kejadian memalukan tersebut tak lama setelah laga berakhir. Penyerang Suriname, Richonell Margaret, menjadi sasaran utama pelecehan yang kemudian berujung pada kartu merah di menit ke-63.

Kronologi Rasisme dan Kartu Merah Margaret

Insiden bermula pada menit ke-63, ketika Richonell Margaret menguasai bola di sisi kiri lapangan. Saat itulah, menurut pengakuannya setelah pertandingan, seluruh penonton di stadion mulai meneriakkan suara-suara monyet (monkey noises) setiap kali ia menyentuh bola. Margaret yang emosi kemudian membalas ucapan para penggemar di tribun.

Wasit Joe Dickerson dari Amerika Serikat, yang sebelumnya telah membuat gestur “X” sebagai simbol anti-rasisme FIFA, langsung mengganjar Margaret dengan kartu merah langsung. Ini menuai kontroversi, mengingat Margaret adalah korban pelecehan. Keputusan wasit sempat memicu diskusi sengit dengan kapten Suriname, Myenty Abena, dan membuat pertandingan tertunda hampir 10 menit. Tim Suriname sempat berkumpul di depan bangku cadangan, mempertimbangkan untuk walk-off atau meninggalkan lapangan, namun akhirnya memilih untuk melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain.

Kapten Myenty Abena, mantan pemain Spartak Moscow, mengungkapkan dilema yang dihadapinya. “Sebagai kapten, saya dihadapkan pada keputusan sulit: Apakah kami meninggalkan lapangan dan menerima konsekuensinya, ataukah kami melanjutkan dengan 10 pemain dan menolak membiarkan rasisme mengusir kami dari permainan yang kami cintai?” tulis Abena di akun Instagram-nya, seperti dikutip USA Today. Ia menegaskan, keputusan untuk melanjutkan bukan berarti mereka menerima insiden rasisme tersebut, melainkan demi kecintaan mereka pada sepak bola, negara, dan rekan setim.

Pertandingan berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk Guatemala berkat gol Matthew Evans di menit ke-90+6. Setelah peluit akhir, ketegangan memuncak. Kedua tim terlibat perkelahian fisik di tengah lapangan, memaksa polisi anti huru-hara turun tangan untuk memisahkan pemain, seperti yang direkam oleh AP Photo dan AFP.

Respons Manajemen Suriname dan Concacaf

General Manager Suriname, Brian Tevreden, menyatakan kemarahannya atas insiden ini. “Ini kedua kalinya di Amerika Tengah. Sudah terjadi di El Salvador tahun lalu – FIFA mendenda mereka – Sekarang Guatemala lagi. Mengerikan! Perilaku semacam itu tidak dapat diterima dalam sepak bola dan masyarakat. Ini bertentangan dengan nilai-nilai fair play dan rasa hormat,” ujarnya kepada USA Today dan The Sun.

Insiden serupa memang pernah terjadi pada 8 September 2025, di Estadio Cuscatlán, San Salvador, saat Suriname mengalahkan El Salvador 2-1. Saat itu, pemain Suriname juga diteriaki rasis, yang berujung pada denda FIFA untuk El Salvador.

Juru bicara Concacaf, melalui pernyataan yang dikirim Selasa pagi 6 Oktober, menyatakan bahwa mereka telah menerima laporan dari Federasi Sepak Bola Suriname mengenai dugaan perilaku diskriminatif oleh penggemar. “Concacaf menanggapi tuduhan ini dengan sangat serius dan akan menyelidiki masalah ini sesuai dengan peraturan Concacaf yang berlaku dan prosedur disipliner,” bunyi pernyataan tersebut. Namun, Concacaf belum menjatuhkan sanksi apa pun, sementara FIFA belum memberikan komentar resmi.

Konsekuensi dan Dampak Rasisme di Sepak Bola

Insiden rasisme di Guatemala ini menjadi sorotan serius, terutama menjelang Piala Dunia 2026. Data FIFA menunjukkan peningkatan signifikan dalam konten abusif di media sosial, dengan 89.000 dari 6 juta postingan mengandung konten tersebut, 13 kali lipat lebih banyak dari Piala Dunia 2022 di Qatar. Federasi Sepak Bola Brasil bahkan telah meminta PBB dan FIFA untuk bertindak tegas.

Guatemala, sebagai salah satu tuan rumah Concacaf Nations League, berpotensi menghadapi sanksi berat jika terbukti melakukan rasisme, mulai dari denda, penutupan stadion, pengurangan poin, hingga larangan bermain di kandang. Suriname, yang mayoritas pemainnya merupakan diaspora Belanda, telah dua kali menjadi korban rasisme di kawasan Amerika Tengah, menimbulkan trauma yang mendalam bagi para pemain.

Berdasarkan Pasal 14 Kode Disipliner FIFA, tindakan rasisme dapat dikenai denda minimal 20.000 CHF (sekitar Rp350 juta), penutupan stadion, dan pengurangan poin bagi pelanggar berulang. Mengingat insiden ini melibatkan “seluruh stadion”, Guatemala kemungkinan akan menghadapi sanksi berat meskipun ini adalah pelanggaran pertama mereka.

Federasi Sepak Bola Suriname (SVB) telah mengirimkan pengaduan resmi kepada FIFA dan Concacaf pagi ini, menuntut tindakan tegas untuk memastikan keadilan bagi para pemain mereka dan mencegah terulangnya insiden memalukan ini di masa depan.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda