Senin, 12 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Busi Kotor dan Aus Bikin Konsumsi BBM Boros, Benarkah?

Busi aus dan celah elektroda melebar dapat mengganggu pembakaran mesin
Celah elektroda busi yang melebar dapat mengganggu percikan api dan proses pembakaran mesin. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Busi kotor atau aus bisa membuat pengemudi lebih sering menginjak pedal gas, sementara tenaga mesin tak kunjung terasa optimal. Menurut Aftermarket Technical Support NGK Diko Oktaviano, gangguan pada busi dapat membuat proses pembakaran tidak tuntas dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) meningkat.

Diko menjelaskan, kondisi fisik busi yang menurun umumnya terlihat dari celah atau gap antar-elektroda yang melebar. Ia menyampaikan penjelasan itu kepada kumparan pada Selasa (6/10/2026).

“Busi jelek normalnya bisa diliat dari gap antar elektroda yang udah besar,” kata Diko.

Gejala busi aus dan kaitannya dengan konsumsi BBM

Celah elektroda yang melebar mengganggu percikan api yang dibutuhkan untuk memicu pembakaran. Akibatnya, mesin dapat tersendat dan putarannya kurang stabil.

“Kalau sudah gitu mesin jadi brebet, langsam berkurang dan starter jadi susah,” lanjutnya.

Gejala itu bisa terasa ketika kendaraan dinyalakan maupun saat mesin bekerja. Pengemudi mungkin mendapati starter lebih sulit, putaran langsam menurun, atau mesin brebet ketika berakselerasi. Tanda-tanda tersebut berkaitan dengan melemahnya pengapian, tetapi bahan sumber tidak menyebutkan ukuran celah tertentu sebagai batas pemeriksaan.

Masalahnya bukan hanya soal kenyamanan berkendara. Busi yang gagal menghasilkan percikan sempurna dapat membuat campuran udara dan bensin tidak terbakar seluruhnya. Sebagian bahan bakar yang masuk ke ruang bakar akhirnya tidak berubah menjadi tenaga secara efektif.

“Dampak ke konsumsi bbm bisa makin boros karena ruang bakar enggak punya cukup energi buat ngebakar semua campuran udara dan bahan bakar yang di semprotin, jadinya ada residu,” ujar Diko.

Mengapa pembakaran yang tidak tuntas merugikan mesin

Ketika tenaga terasa kurang, pengemudi cenderung menekan gas lebih dalam untuk memperoleh dorongan. Kebiasaan itu membuat kebutuhan BBM bertambah, sementara pembakaran yang bermasalah tetap tidak menghasilkan tenaga secara optimal. Efeknya dapat lebih terasa pada perjalanan padat dengan pola stop and go, saat mesin berulang kali perlu menjaga putaran awal.

Kerugian bagi pemilik kendaraan pun tidak berhenti pada frekuensi pengisian BBM. Pembakaran yang tidak sempurna meninggalkan residu dan jelaga di ruang bakar. Jika deposit karbon menumpuk, komponen internal mesin berpotensi mengalami gangguan teknis, meski sumber tidak merinci jenis kerusakan atau biaya perbaikannya.

Artinya, pemeriksaan busi berhubungan langsung dengan biaya operasional harian sekaligus kondisi mesin. Kendaraan yang kehilangan efisiensi pembakaran dapat meminta lebih banyak BBM untuk menghasilkan tenaga yang dirasa sama. Namun, sumber tidak memberikan angka penghematan atau besaran kenaikan konsumsi, sehingga dampaknya tidak dapat dinyatakan dalam persentase maupun nominal.

Perawatan berkala menjadi langkah yang disarankan Diko untuk menghindari pemborosan akibat masalah pengapian. Ia menilai pemeriksaan komponen pengapian lebih hemat dibanding menanggung kenaikan pengeluaran BBM harian. Pemilik kendaraan dapat meminta pemeriksaan kondisi busi saat servis, terutama ketika mesin mulai brebet, langsam menurun, atau sulit distarter.

Langkah berikutnya adalah memastikan kondisi busi diperiksa oleh teknisi dan ditangani sesuai keadaan komponen. Dengan begitu, pengemudi dapat mengetahui apakah gangguan pengapian menjadi penyebab gejala mesin sebelum masalah pembakaran berlanjut.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 12 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis