JAKARTA — Pengiriman ponsel global merosot 20 persen pada kuartal ketiga 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut Counterpoint Research. Penurunan itu menjadikan pengiriman pada kuartal ketiga sebagai yang terendah dalam 14 tahun, saat harga dan ketersediaan perangkat ikut membebani konsumen.
Krisis RAM menekan pasokan komponen sekaligus mendorong kenaikan harga. Namun, laporan yang dikutip TechRadar juga menyebut konsumen mempertahankan ponsel lebih lama dari perkiraan. Artinya, persoalan industri bukan hanya soal perangkat yang makin mahal.
Pengiriman ponsel global tertekan krisis RAM
Keterbatasan komponen mengganggu pengiriman dari produsen ponsel dan membuat sebagian model lebih sulit diperoleh. Ketika stok berkurang dan harga naik, konsumen punya alasan lebih kuat untuk menunda pembelian, terutama jika ponsel yang mereka gunakan masih berfungsi baik.
Dampaknya terasa langsung pada pilihan konsumen: mengganti perangkat menjadi lebih mahal, sementara model yang dicari belum tentu tersedia. Bagi produsen dan penjual, kondisi itu berarti lebih sulit mendorong pembelian baru. Laporan tersebut tidak merinci dampak khusus di Indonesia, sehingga angka penurunan global ini tidak bisa dianggap mewakili pasar domestik.
Namun, Counterpoint Research menilai konsumen juga menahan perangkat lebih lama dari perkiraan. Laporan itu tidak menguraikan penyebab tambahan secara pasti. TechRadar mengajukan kemungkinan bahwa ponsel kini tidak terasa semenarik dulu untuk diganti.
Alasannya cukup dekat dengan pengalaman sehari-hari. Ponsel kelas bawah pun kini dapat menjalankan banyak kebutuhan dan bertahan selama bertahun-tahun. Sementara di kelas atas, produsen semakin sulit menawarkan peningkatan yang benar-benar terasa ketika daya, layar, dan kamera ponsel terbaik sudah melampaui kebutuhan banyak pengguna.
Samsung dan Apple lebih tahan terhadap penurunan
Di tengah pasar yang melemah, Samsung dan Apple tampak lebih mampu mempertahankan posisi. Pangsa pasar Samsung naik menjadi 23 persen, meski pengirimannya turun 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. TechRadar mengaitkan daya tahan itu, sebagian, dengan keberhasilan Samsung Galaxy Z Fold 8.
Apple juga meningkatkan pangsa pasarnya menjadi 22 persen, walaupun perusahaan itu menjual lebih sedikit ponsel dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. TechRadar menilai hasil Apple mungkin lebih tinggi seandainya perusahaan mengirimkan iPhone 18 versi dasar, alih-alih menunggu hingga tahun berikutnya.
Perbandingan ini memperlihatkan bahwa kenaikan pangsa pasar tidak selalu berarti jumlah ponsel yang terjual ikut bertambah. Samsung dan Apple sama-sama meraih porsi pasar lebih besar ketika pengiriman mereka turun, sementara sejumlah pesaing mengalami kemerosotan lebih tajam.
Xiaomi, Oppo, dan Vivo dilaporkan mencatat penurunan pengiriman yang tajam, disertai penyusutan pangsa pasar. Perubahan itu membantu Samsung dan Apple memperbesar bagian mereka dari pasar yang tersisa. Namun, laporan yang dikutip TechRadar tidak menyertakan angka rinci penurunan untuk masing-masing merek tersebut.
Pasar belum tentu pulih sepenuhnya
Kelangkaan RAM dapat mereda dan membantu kelancaran pasokan, tetapi itu belum tentu mengembalikan penjualan ke pola sebelumnya. Jika konsumen merasa ponsel lama masih memadai, mereka dapat terus menunda penggantian meski harga dan ketersediaan membaik.
Bagi industri, tantangannya jadi dua lapis: mengatasi tekanan biaya komponen sekaligus memberi alasan yang cukup kuat bagi pengguna untuk membeli perangkat baru. Sekadar menawarkan spesifikasi lebih tinggi mungkin kurang meyakinkan jika kemampuan itu tidak memberi manfaat nyata dalam pemakaian harian.
Counterpoint Research menyebut konsumen “holding on to their devices longer than expected,” atau mempertahankan perangkat lebih lama dari perkiraan. Angka pengiriman yang terendah dalam 14 tahun menjadi penanda bahwa tekanan pasar bisa berlanjut, bahkan setelah krisis komponen mereda.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.