SAN FRANCISCO — Kegagalan produk, menurut Panos Panay, bukan alasan bagi pendiri startup untuk langsung meninggalkan visi mereka. Wakil Presiden Senior Perangkat, Alexa, dan Leo di Amazon itu mengatakan kegagalan perlu dihadapi dan dipelajari agar tim dapat memperbaiki arah pengembangan produk.
Panay menyampaikan pesan itu di panggung TechCrunch Disrupt di San Francisco. Ia merujuk pengalamannya di Microsoft, termasuk kegagalan Surface RT yang berujung pada penghapusan nilai hampir US$1 miliar.
Pengalaman Surface RT menjadi pelajaran
Panay bekerja di Microsoft selama lebih dari 19 tahun. Dalam masa itu, ia terlibat dalam perjalanan Surface RT, tablet pertama Microsoft yang ia sebut sebagai kegagalan besar.
“Anda harus bersedia gagal, dan sebenarnya bukan sekadar bersedia, Anda harus benar-benar gagal,” kata Panay. Menurutnya, kegagalan dapat menunjukkan bahwa sebuah tim sudah mencoba mendorong batas produk.
Namun, mengakui kegagalan saja belum cukup. Pendiri perlu mencari tahu keputusan apa yang mengantar produk ke titik itu, tanpa berlindung di balik alasan.
Panay mengenang bagaimana ia pernah melihat kata “failure” terpampang di sampul surat kabar setelah masalah Surface RT menjadi sorotan. Ia mengatakan persoalan produk itu tidak muncul hanya pada saat peluncuran, melainkan berakar pada keputusan yang dibuat jauh sebelumnya.
Ia mencontohkan perangkat lunak yang belum siap, persediaan produk yang keliru, serta cara perusahaan mengatur penjualan ritel. Kesalahan-kesalahan itu terbentuk sepanjang proses, bukan dalam satu kejadian tunggal.
Belajar tanpa melepas visi produk
Bagi pendiri startup, pelajaran dari pengalaman Panay menyentuh keputusan yang sering sulit diambil: kapan memperbaiki produk dan kapan mengubah arah. Ia menekankan bahwa kegagalan tidak harus membuat tim membuang visi yang ingin diwujudkan.
“Anda ingin berhasil, kan? Anda mengambil kegagalan itu, tetapi tidak melepaskan visi,” ujarnya. Panay mengatakan Surface kemudian berkembang dengan baik, meski ia tidak menyertakan angka atau ukuran keberhasilan dalam pernyataannya.
Pesannya bukan untuk mempertahankan setiap keputusan tanpa evaluasi. Pendiri tetap perlu memahami apa yang tidak berjalan, lalu menyesuaikan langkah berdasarkan pelajaran yang didapat.
“Biasanya bukan berubah 180 derajat. Biasanya hanya 30 derajat,” kata Panay tentang perubahan arah yang dapat dilakukan setelah tim belajar dari kegagalan. Ia mendorong pendiri untuk menyesuaikan arah, memperbarui visi jika perlu, lalu melanjutkan pekerjaan.
Ia juga mengingatkan bahwa sebagian orang bertahan terlalu lama pada strategi yang tidak berhasil karena belum menerima bahwa mereka telah gagal. Penerimaan itu, menurut Panay, membantu tim bergerak lebih cepat dan mengambil keputusan yang lebih terarah.
Dampaknya terasa langsung bagi perusahaan rintisan: evaluasi kegagalan dapat membantu tim menentukan bagian produk yang perlu diperbaiki, alih-alih mengulang keputusan yang sama. Pengalaman Surface RT memberi gambaran bahwa masalah bisa menumpuk sejak tahap pengembangan, kesiapan perangkat lunak, pengelolaan persediaan, hingga cara produk dijual.
TechCrunch melaporkan pernyataan Panay dalam acara TechCrunch Disrupt. Ia tidak menjelaskan rincian lebih lanjut mengenai penghapusan nilai Surface RT, selain menyebut nilainya hampir US$1 miliar.
Bagi Panay, titik pentingnya adalah apa yang dilakukan setelah kegagalan diakui: mengambil pelajaran, mengubah arah secukupnya, dan tetap memegang visi produk.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.